Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mendapatkan Faidah Salat, Hikmah Al Hikam Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari

admin • Jumat, 14 November 2025 | 05:00 WIB

 

H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

       Oleh: H. Muhammad Tambrin
       Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Bermula salat itu merupakan pensucian bagi hati dan pembuka bagi pintu yang gaib, salat merupakan tempat munajat dan merupakan tambangnya munajat yang khusus. Luas pada salat itu medan rahasia-rahasia dan memancar pada salat itu pancaran cahaya-cahaya”

Hikmah ke-116 dari Al Hikam Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari rahimahullah.

           ******

Disyarahkan oleh Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, salat yang dimaksud bukan sekadar dikerjakan, melainkan didirikan. Salat yang didirikan dengan memenuhi syarat, rukun, sunnah, dan adabnya akan menjadi sarana penyucian hati, membersihkan manusia dari sifat-sifat tercela.

Ucapan Allahu Akbar adalah pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Besar dan Maha Mulia, sedangkan kita hanyalah makhluk yang kecil dan hina. Takbir pertama saja sudah menjadi latihan untuk membersihkan hati dari kesombongan. Dari sanalah tumbuh sifat tawadu’, kesadaran akan kefakiran dan ketidakberdayaan diri di hadapan Allah.

Orang yang tawadu’ tidak mudah bangga ketika dipuji, dan tidak marah ketika dicela. Sebab ia sadar siapa dirinya sebenarnya. Apabila hati sudah kosong dari sifat kesombongan dan kemuliaan, maka bersihlah hati itu dari penyakit-penyakit, karena keduanya jika ada di dalam hati, menjadi sumber segala kerusakan.

Kenapa iblis menjadi makhluk yang paling hina dan jahat di antara hamba Allah, karena kesombongan.

Selanjutnya salat membuka pintu rahasia alam malakut. Sehingga orang yang salat bisa dibukakan Allah surga dan neraka dan apa-apa yang terjadi di alam barzah. Orang yang dibukakan Allah alam malakut adalah orang yang bersih batin dan zahirnya. Salat ini pembersih daripada hal-hal yang kotor baik zahir dan batin.

Rasulullah bersabda kepada para sahabat, “Apa pendapat kalian, jika di depan rumah seseorang terdapat sungai, lalu ia mandi di sungai itu lima kali sehari, apakah masih ada kotoran tersisa di tubuhnya?”

Para sahabat menjawab: “Tidak ada,”

Rasulullah bersabda: “Demikianlah perumpamaan salat lima waktu. Dengannya Allah menghapus dosa-dosa hamba-Nya,”

Ketika dosa terhapus, mata hati menjadi terang, dan Allah menampakkan rahasia-rahasia gaib kepada hamba-Nya yang bersih. Rasulullah sendiri bersabda, “Aku diperlihatkan surga dan neraka di dalam shalat,”

Salat juga merupakan tempatnya munajat. Tempat di mana kita berdialog dengan Allah, saling mengutarakan sesuatu dengan Allah dan berkomunikasi kita dengan Allah.

Dalam hadis Qudsi, Allah Taala berfirman: Aku bagi salat itu antara-Ku dan antara hamba-Ku dan bagi hamba apa yang dia pinta. Apabila hamba itu mengucapkan “Alhamdulillahirabbil ‘Aalamin”, Allah berfirman: Hamba-Ku itu telah memuji Aku,”

“Apabila hamba berkata “Arrahmaani Arrahim”, Allah berfirman: telah memuliakan dan mengagungkan kepada-Ku hamba-Ku,”

Demikianlah setiap ayat Al-Fatihah mendapat jawaban langsung dari Allah.

Salat pula merupakan tambangnya musafat dan ini lebih khusus daripada munajat. Karena munajat itu bisa dibalik pintu atau tirai. Kalau musafat ini hilangnya hijab, tidak ada pendinding antara kita dengan Allah di waktu salat itu. Sehingga musafat itu adalah munajat yang bersih dari gangguan-gangguan.

Di dalam hadits disebutkan, “Seorang hamba itu bila berdiri salat maka Allah angkat hijab antaranya dan Allah SWT,”

Adapun luas pada salat itu medan-medan rahasia, maknanya pada salat itu hati terbuka untuk menerima kedatangan ilmu-ilmu dan makrifat dari Allah Swt. Dan terbitlah pada hati itu cahaya-cahaya, merupakan buah daripada ilmu dan makrifat. Hati kita bercahaya dan cahaya ini memancar ke seluruh tubuh kita.

Ketika cahaya itu memancar kepada mata, maka mata itu terpelihara daripada memandang yang diharamkan oleh Allah. Kepada telinga, maka telinga itu terpelihara daripada mendengar yang diharamkan. Memancar kepada tangan dan kaki, maka terpelihara daripada menjamah dan melangkah kepada yang diharamkan oleh Allah. Cahaya itulah yang mencegah tubuh kita daripada mungkar.

Firman Allah: Sesungguhnya salat itu mencegah daripada perbuatan keji dan mungkar.

Faidah salat yang disebutkan tadi, khusus diberikan kepada orang-orang yang benar-benar mendirikan salat itu. Orang yang hanya sekedar melaksanakan salat tentu tidak akan dapat faidah tadi.

Bila orang yang salat tidak paham yang dibaca, terkadang lupa berapa jumlah rakaatnya. Masih untung kalau masih mengikut imam, maka dapat tertutupi. Salat yang demikian tentu tidak akan mendapat faidah seperti tadi. Sebenarnya salat itu bisa membentuk jiwa kita menjadi orang yang tawadu dan terpelihara daripada kemaksiatan dan kemungkaran.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menyatakan: “Orang yang salat tetapi masih suka maksiat kepada Allah (mata sering memandang yang haram, mulut mengatakan yang haram, tingkah laku jauh daripada petunjuk Allah) maka orang seperti ini tidak akan bertambah daripada Allah melainkan semakin jauh,”

Salatnya tidak berguna secara hakikatnya, gunanya hanya sebatas identitas dia orang Islam, dia melaksanakan kewajiban. Perkara faidah-faidah salat yang banyak dan manfaatnya sangat banyak, tidak akan dapat kalau salat hanya sekedar menjaga syarat dan rukun, salat asal sah saja tidak menjaga yang sunah dan adabnya, apalagi khusyuknya tertinggal.

Salat yang tidak khusyuk dan tidak benar adabnya diubah bentuknya menjadi kain yang kusam, kemudian dipukulkan ke wajah orang yang salat tadi. Berbanding terbalik jika salat itu bagus maka salat itu akan naik ke hadirat Allah SWT. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah