Oleh H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Sungguh Allah telah mengetahui daripada engkau akan adanya sifat bosan/malas, maka Allah mewarnai bagi engkau bentuk-bentuk ketaatan dan Allah mengetahui sesuatu yang ada pada diri engkau daripada adanya kenafsuan maka Dia cegah itu taat atas engkau pada sebagian waktu agar adalah yang engkau pentingkan itu mendirikan salat bukan hanya sekedar adanya salat. Maka tidaklah setiap orang yang salat bisa mendirikan salat itu.”
Hikmah yang ke-115 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*****
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH. Muhammad Bakhiet, ada dua nikmat yang besar yang Allah berikan dua nikmat itu atas hamba-Nya. Yang pertama, menjadikan taat itu beraneka macam seperti salat, zikir, membaca Al-Qur’an, shalawat atas Nabi, dsb.” Agar menjadi ringan dan manis saat melaksanakan taat dengan berpindah dari satu taat kepada taat yang lain dengan berpindah dari satu taat ke taat yang lain.
Kedua, nikmat yang besar itu Allah melarang taat pada sebagian waktu. Ada taat-taat tertentu yang Allah melarangnya. Salat fardu itu tertegah melakukannya pada bukan waktu yang bukan ditentukan. Misalnya, fardu subuh dari jam 04.45 sampai 06.00, maka di waktu itu saja yang boleh mengerjakan, lebih awal mengerjakannya tidak boleh karena belum masuk waktunya dan sebaliknya.
Puasa Ramadan hanya dikerjakan pada bulan Ramadan saja, di luar daripada bulan itu dilarang puasa Ramadan kecuali bayar qadaan. Kemudian yang sunah di dalam salat terlarang, memperbuatnya pada waktu yang karahah. Yakni waktu terbit dan tenggelamnya matahari, Allah melarang kita salat, dan pada waktu setelah ashar sampai magrib juga dilarang kecuali salat sunah tertentu yang dibolehkan.
Allah melarang ini merupakan nikmat kepada kita. Tujuannya untuk apa? Agar tidak ada daripada engkau itu kenafsuan. Kalau kita beribadah kenafsuan, maka akan membawa kepada kekurangan.
Pekerjaan apa saja yang kita laksanakan berlandaskan kenafsuan maka kerjaannya tidak rampung. Sama halnya kalau orang salat tidak tahu waktu makruh dan haram dia selalu salat ,maka tidak akan rampung paling lama setahun. Dampaknya dia bisa saja akan tidak salat lagi karena bosan.
Jadi, Allah SWT dengan rahmat dan anugerahnya dijadikanlah salat itu ada waktu-waktu tertentu dimana kita disuruh, dibenci dan dilarang untuk melakukannya.
Oleh karena demikian Allah SWT menentukan bagi taat itu waktunya yang engkau jatuhkan taat pada waktu itu dan waktu yang tidak boleh engkau jatuhkan taat pada waktu itu. Inilah nikmat kedua yang Allah berikan kepada kita.
Misalnya saat di akhirat kita ditanya oleh Allah SWT, kenapa engkau tidak taat? Kita jawab bosan. Maka Allah SWT akan menyanggah dengan “Maka sudah Aku jadikan berbagai macam taat agar kamu tidak bosan”, kalau kamu bosan salat, baca Al-Qur’an, dst. Oleh karenanya kita tidak punya alasan untuk tidak beribadah kepada Allah SWT karena banyaknya macam-macam ibadah.
Ibadah itu disertai dengan semangat sekalipun sedikit itu lebih besar nilainya di sisi Allah daripada ibadah beserta malas sekalipun banyak. Misalnya, lebih bagus dan Allah SWT sukai orang yang Salat Tarawih hanya empat rakaat saja dengan bagus dan rajin daripada dua puluh rakaat tetapi dengan malas-malasan.
Jadi, kalau kita beribadah baca shalawat sepuluh, lailahaillah sepuluh, subhanallah wabihamdih sepuluh, lahawla wala quwwata illa billah sepuluh, dst. Maka setiap perpindahan itu membuat kita rajin dan manis ibadahnya maka lebih baik daripada membaca lailahaillah seratus kali disertai dengan bosan.
Karena yang dipandang itu bukan banyak bilangan tetapi yang banyak dipandang itu adanya makna. Misalnya, orang yang bersedekah sejuta tetapi bercampur dengan riya tidak Allah sukai, Allah lebih menyukai bersedekah sejuta dengan ikhlas di dalamnya. Karena Allah tidak pandang jumlahnya tetapi Allah memandang kualitas.
Jika banyak tapi malas lebih baik mengerjakan sedikit tetapi semangat. Itulah nikmat yang besar yang diberikan Allah SWT. kepada kita. Ini adalah nikmat Allah SWT yang belum banyak kita ketahui dan belum kita syukuri nikmat itu.
Maka jika adalah taat itu hanya satu macam niscaya bosan akan dia oleh nafsu kita dan meninggalkannya karena berat. Jika taat itu hanya satu macam saja misalnya hanya salat saja maka kita akan bosan, tidak ada variasi dalam taat maka kita akan bosan dan kalau bosan kita akan meninggalkannya.
Maka taat bermacam-macam ini adalah satu bentuk taat yang harus disyukuri. Karena keadaan nafsu itu tidak kekal dengan satu keadaan. Sifat nafsu tidak suka monoton hanya pada satu macam saja. Misalnya kita punya pakaian putih saja nafsu tidak ingin seperti itu mesti ingin warna lain, dst.
Adakah engkau lihat manusia itu apabila dia mengekali dengan satu macam makanan maka bosan akan dia nafsunya. Setiap hari hanya itu saja makannya tentu akan bosan dan ini terjadi pada zaman Bani Israil, padahal yang diberikan Allah adalah makanan surga Al-Mann Wa Salwa makanan yang tidak ada di dalam dunia. Selang waktu berbulan-bulan dan bertahun-tahun mereka bosan dan ingin makanan rendah yang ada di dunia seperti sayuran karena sudah bosan dengan hanya satu makanan.
Demikian juga dengan ketaatan kalau hanya satu ketaatan saja maka kita akan bosan. Taat itu dijadikan berbagai macam bentuknya karena tiga keadaan. Pertama, agar seseorang itu menjadi lapang dari satu taat ke taat yang lain. Contohnya seperti kita baca ratib, senang saja karena bacaannya berpindah-pindah, dari istighfar, sholawat dan lailahaillah, sdt.
Kedua, tsabit bagi orang itu nisbah. Karena kalau seorang yang hanya mengamalkan lailahillah, maka dia disebut hanya ahlinya lailahaillah. Tetapi kalau bermacam-macam amal maka dapat disebut ahli ibadah.
Ketiga, agar didirikan atasnya hujjah. Kalau kita salat melaksanakan salat disertai malas itu pasti tidak akan bisa menegakkan salat. Orang yang terburu-buru kenafsuan dalam salat tidak akan bisa disebut orang yang menegakkan salat, paling saja bisa disebut orang yang melaksanakan salat.
Seperti salat tarawih, makmum yang malas tidak akan membersamai takbiratul ihram imam karena malas dia hanya ikut saat imam mau rukuk atau setengah dari al-fatihah saja. Orang seperti ini salat tetapi tidak disebut menegakkan salat.
Sedangkan Allah memerintahkan mendirikan salat, tidak melaksanakan salat. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman: Tegakkan salat itu. Allah tidak mewahyukan, “Sembahyang kamu.” Tidak seperti, Allah memerintahkan menegakkan salat. Kalau Shalli adalah diancam oleh Allah, karena ada firman Allah, “Maka celakalah bagi orang yang shalat.” Justru itu Allah memerintahkan kita untuk mendirikan salat bukan sekedar melaksanakan salat. Kalau ada perasaan malas, ada perasaan bosan dan kenafsuan kita tidak akan bisa mendirikan salat itu.
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an menceritakan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim di dalam doanya, Ya Allah jadikanlah aku orang yang menegakkan salat. Nabi Ibrahim tidak meminta kepada Allah, Ya Allah jadikanlah aku orang yang salat. Tidak demikian. Nabi Ibrahim meminta untuk dijadikan orang yang mendirikan salat, agar kita menegakkan salat salah satunya tidak disertai dengan malas, terburu-buru dan kenafsuan. Karena yang disebut mendirikan salat itu orang yang memelihara syarat-syaratnya, rukun-rukun, sunah-sunah, adab-adabnya dan khsuyuknya (salat).
Adab lebih halus daripada sunah. Orang yang salat dengan pakaian kotor tidak najis seperti terkena ludah atau ingus, maka orang yang salat dengan pakaian itu sah saja tetapi tidak beradab. Maka orang ini tidak disebut orang yang menegakkan salat paling bisa disebut orang yang melaksanakan salat.
Jadi, pengertian orang yang menegakkan salat itu artinya salatnya sudah sah karena rukunnya sempurna ditambah dengan sunah dan adabnya terutama kekhusukannya. Maka untuk mencukupi yang hal demikian itu tidak akan bisa kalau disertai dengan malas, kenafsuan mesti disertai dengan ketenangan dan kerajinan.
Oleh karena itu Allah membuat taat itu bermacam-macam agar kita tidak malas, karena kalau taat itu malas kita tidak akan bisa menegakkan taat paling bisa hanya bisa mengerjakannya. Demikian pula Allah menjadikan taat ini dilarang pada waktu tertentu dan dimakruhkan pada waktu tertentu agar kita rajin melaksanakan taat itu sehingga terjadilah apa yang disebut dengan “Iqam” melaksanakan dengan penuh kesempurnaannya.
Ini bersesuaian dengan apa yang difirmankan Allah. “Jika engkau ingin menghitung nikmat Allah maka tidak akan sanggup menghitungnya.” Kita hanya mengenal nikmat Allah itu berupa makan, minuman, uang, hal-hal yang sifatnya menyenangkan. Padahal banyak nikmat Allah yang kita rasakan tapi tidak kita sadari bahwa itu nikmat.
Oleh karena itu sebagian ulama sufi mengatakan. Hakikat syukur itu adalah mengakui bahwa ia lemah akan bersyukur. Mengakui lemah tidak mampu untuk bersyukur. Kenapa? karena tidak semua nikmat kita syukuri karena kita tidak mengetahui bahwa itu nikmat. Jadi, orang yang sebenarnya bersyukur itu adalah orang yang mengakui lemah akan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Karena nikmat itu tidak terbatas maka otomatis syukur pun tidak akan mampu menjangkau nikmat itu.
Renungkan berapa persen nikmat Tuhan yang belum kita syukuri, mungkin dari seratus persen sembilan puluh persennya kita tidak mensyukurinya karena kita tidak menyadari bahwa itu nikmat Allah SWT. Tidak perlu jauh melihat nikmat untuk bersyukur seperti ibadah, lihat saja badan kita ini apakah kita pernah memikirkan seperti bulu yang tumbuh berfungsi dan bekerja dengan fungsinya, apakah kita pernah mensyukurinya? Tentu tidak karena kita tidak mengetahui bahwa itu nikmat dari Allah juga.
Jadi, syukur itu tidak akan mampu karena terlalu banyak nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Karena itu di dalam hadits qudsi disebutkan, yang artinya: “Wahai orang-orang siddiqin (yang kedudukannya sudah tinggi) jangan merasa aman bahwa kalian akan masuk surga Allah, karena kalau Allah menghitung satu-persatu kalian akan masuk ke dalam api neraka.
Karena nikmat yang Allah berikan itu wajib untuk disyukuri, karena banyaknya nikmat yang kita tidak syukuri dan tidak kita ketahui jadi kalau Allah ingin menghitung satu persatu maka kita akan kalah dalam perhitungannya.
Jadi, pengertian orang yang menegakkan salat itu artinya salatnya sudah sah karena rukunnya sempurna ditambah dengan sunah dan adabnya terutama kekhusyukannya. Maka untuk mencukupi yang hal demikian itu tidak akan bisa kalau disertai dengan malas, kenafsuan mesti disertai dengan ketenangan dan kerajinan.
Oleh karena itu Allah membuat taat itu bermacam-macam agar kita tidak malas, karena kalau taat itu malas kita tidak akan bisa menegakkan taat paling bisa hanya bisa mengerjakannya. Demikian pula Allah menjadikan taat ini dilarang pada waktu tertentu dan dimakruhkan pada waktu tertentu agar kita rajin melaksanakan taat itu sehingga terjadilah apa yang disebut dengan “Iqam” melaksanakan dengan penuh kesempurnaannya. (*)
Editor : Arief