Oleh: H Muhammad Tambrin
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Allah SWT memerintahkan kepada engkau di dunia ini memandang Allah melalui ciptaanNya, dan kelak di negeri akhirat Allah akan memperlihatkan kepadamu kesempurnaan zatNya”
- Hikmah yang ke-113 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*****
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa Allah SWT memerintahkan kita memandangNya dengan memandang ciptaan-ciptaan Allah, dengan dalil firman Allah: Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi”. (Yunus: 101)
Ahli tafsir menjelaskan artinya pandanglah Tuhan yang ada di balik langit dan bumi. Artinya melihat Allah pada ciptaanNya.
Jadi apabila kita dengan mata kepala ini melihat sesuatu yang indah di alam dunia ini, maka hendaknya mata hati kita bersamaan dengan itu melihat itu adalah keindahan Allah Taala.
Jadi kedua mata berfungsi. Mata zahir melihat yang nyata. Sedangkan mata hati melihat juga kepada yang ada di balik sesuatu yang tampak.
Mata kita melihat alangkah indahnya gunung, matahari, lautan, tapi mata hati kita tetap memandang satu bahwa itu adalah keindahan dari Allah.
Bilamana mata hati kita sudah bisa bersatu dengan mata zahir melihat suatu keindahan tadi, maka ucapan yang kita keluarkan dari mulut kita tidak ada lain adalah ucapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Menurut ulama-ulama sufi, penyertaan mata hati dengan mata zahir ini ada tiga. Ada yang bisa melihat Allah sebelum melihat sesuatu mata yang zahir ini. Bisa pula bersamaan. Bisa pula di belakang.
Sehingga begitu kita melihat sesuatu yang indah, bisa hati belum bergerak, tapi di belakang itu mata hati kita memandang indahnya Allah dan menimbulkan rasa kenikmatan dalam hati.
Sementara itu, bila kita melihat sesuatu yang menyedihkan, menyakitkan, maka mata zahir kita menyaksikan kekuatan atau keperkasaan dari Allah SWT.
Sebab orang yang sakit, menderita, dalam keadaan susah, tentu ingin senang, lepas dari penyakit dan bahagia. Tapi disitulah Allah menampakkan kekuasaan dengan keperkasaanNya, sehingga orang yang ingin seperti itu tidak berdaya.
Maka mata hati kita melihat begitu perkasanya Allah, dan mulut kita secara otomatis akan berucap laa haula wala quwwata illa billah.
Ini yang dikehendaki Allah, dan disuruh kita agar selalu demikian. Walaupun mulut kita tidak berzikir, tapi hati kita selalu selalu berzikir. Hati yang berzikir ini tidak ada batasan tempat, waktu dan batasan apapun, senantiasa berpahala. Berbeda dengan zikir lisan ada batasan, kapan kita dilarang mengucap zikir.
Selanjutnya, ketika kita melihat orang-orang yang mulia, maka mata hati kita melihat bahwa ada Allah yang Al Muizzu, Yang Maha Memuliakan.
Orang yang mulia itu bukan orang kaya, tinggi kedudukan dan pangkat jabatannya. Tapi orang yang dekat dengan sumber kemuliaan, yaitu Allah SWT.
Sebaliknya, bila kita melihat ada orang-orang yang hina, tetapi ingat orang hina bukan buruh, bukan pembantu, bukan pesuruh atau yang miskin. Orang hina sebenarnya adalah orang yang jauh dari sumber kemuliaan. Suka maksiat, menghambur-hamburkan nikmat di jalan yang tidak diridai Allah.
Melihat orang hina seperti ini, maka mata hati kita melihat bahwa adalah Allah Al Mudzillu, Yang Maha Menghinakan.
Jadi Allah menghinakan seseorang bukan berarti orang itu dimiskinkan, diturunkan dari jabatan. Tetapi orang yang dihinakan Allah itu orang yang selalu maksiat, selalu lupa kepadaNya, selalu menentang hukum Allah. Walaupun kelihatannya orang itu kaya dan bahagia.
Mengapa Allah menyuruh kita memandang dengan perantara ciptaanNya? Karena kita tidak akan kuasa memandang kepada hakikat zat Allah yang suci.
Sebagaimana Nabi Musa AS, karena beliau sudah bicara dengan Allah, sehingga sudah merasakan bagaimana nikmat dan lezatnya bicara dengan Allah. Nabi Musa AS ingin langsung melihat Allah.
Dalam beberapa tafsir, Al Khazin, Al Baghawi dan Jalalain diceritakan, setelah mukalamah (bercakap) dengan Allah, Nabi Musa pulang ke rumah. Begitu melihat Nabi Musa, istrinya pingsan, karena pancaran cahaya yang luar biasa di wajah Nabi Musa.
Begitu siuman, istrinya berkata: “Wahai Musa jadikanlah aku istri engkau di dalam surga nanti”.
Nabi Musa berkata, dikabulkan Allah asalkan engkau tidak kawin sesudah aku meninggal dunia, karena suamimu di akhirat kelak adalah suami yang terakhir dalam hidupmu.
Nah, setelah bercakap-cakap ini, Nabi Musa ingin bertemu langsung dengan Allah Taala. Hal ini diceritakan dalam Al-Qur’an surat al-A’raf: 143
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, "Ya, Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Oleh karena itu, setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".
Ibnu Abbas menyebut bukit itu adalah Gunung Az Zabir yang ada di Mesir. Menurut ahli tafsir, cahaya yang dibuka Allah hanya seujung kelingking, gunung itu terbang dan hancur berkeping-keping.
Serpihan Gunung Az Zabir tadi jatuh tiga bagian di Mekkah menjadi jabal Nur, jabal Tsur dan jabal Sabir. Tiga bagian jatuh di Madinah jadi jabal Uhud, jabal Warqan dan jabal Radhwa.
Jadi itulah kenapa kita tidak akan bisa melihat Allah dengan mata kita ini, karena kelemahan kita sendiri. Wallahu A’lam.(*)
Editor : Arief