Oleh: H Muhammad Tambrin
“Hanya lari orang-orang ahli ibadah dan zuhud dari setiap sesuatu, karena terdindingnya mereka dari Allah dari setiap sesuatu. Andaikata mereka itu bisa musyahadah akan Allah pada setiap sesuatu, niscaya mereka tidak akan lari dari sesuatu itu”.
Hikmah ke-112 dari Al Hikam Al Athaiyyah Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari Rahimahullah.
****
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa Ubad itu artinya orang-orang yang berhadap mencari kecintaan kepada Allah, dan berharap dicintai oleh Allah dengan ibadah zahir. Kalau kita melaksanakan salat, zikir, selawat, ibadah dengan tujuan agar kita dicintai Allah, maka kita ini dinamakan “Abid” jamaknya “Ubad”.
Memperbanyak salat sunah, perbanyak puasa, membaca Al-Qur’an dan zikir dan menikmati dengan ibadah itu, namun belum sampai menikmati musyahadah dengan Tuhan, karena memang mereka masih dalam perjalanan untuk menuju kepada makrifat kepada Allah SWT.
Zuhud adalah orang-orang yang berhadap kepada Allah dengan meninggalkan dunia dan perhiasan serta pecinta-pecintanya, dan mereka mengasingkan diri dan hidup dengan tidak ada sesuatu daripada dunia dan menikmatinya.
Orang Zuhud tidak banyak ibadah sunah, puasa dan zikir. Tetapi jalan yang mereka tempuh untuk mendapatkan kecintaan Allah dengan meninggalkan duniawi, perhiasan dan pencintanya, sehingga mereka mengasingkan diri dari dunia, dan mereka menikmati keadaan demikian. Namun mereka masih terdinding daripada kelezatan musyahadah, karena memang mereka masih dalam perjalanan untuk menuju kecintaan Allah SWT.
Di sini Imam Ahmad bin Atha’illah menjelaskan, ada jalan agar dicintai oleh Allah. Pertama, perbanyak ibadah zahir, zikir dan selawat serta menuntut ilmu, berkumpul dengan orang-orang saleh seraya berharap dicintai oleh Allah SWT. Apabila dicintai oleh Allah, ada harapan diberi makrifat oleh-Nya.
Kedua, dengan meninggalkan dunia dan perhiasan serta pecintanya. Mereka hidup sendiri, dan mereka menikmati dengan keadaan itu. Ini juga salah satu jalan yang bisa mendatangkan kecintaan Allah. Cinta itu adalah syarat untuk mendapatkan makrifat kepada Allah SWT.
Dalam perjalanannya, ahli ibadah, ahli zuhud menjauhkan diri dari sesuatu. Seperti berorganisasi, bergaul, karena takut hal itu menghalangi mereka dari ibadah dan zuhudnya.
Namun seandainya bisa musyahadah dan sampai kepada makrifat, serta mata mereka mampu menyaksikan bahwa Allah berdiri pada setiap sesuatu. Niscaya mereka tidak lari dari sesuatu itu, karena mereka itu melihat Allah ada pada setiap sesuatu, dan niscaya mereka jinak daripada tiap-tiap sesuatu”.
Kemudian ada golongan ketiga manusia yang dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Attha’illah. Kelompok orang yang sudah makrifat kepada Allah. Kelompok ini mereka sudah bisa menyaksikan Allah ada pada tiap sesuatu, sehingga mereka tidak lari dan menjauh dari apapun. Mereka tidak khawatir sesuatu itu bisa menghalangi dari Tuhan. Ini kalau mereka sudah makrifat kepada Allah SWT.
Mereka diberikan orang jabatan, kekayaan, amanah ini dan itu, diterima dan dilaksanakan, karena pekerjaan-pekerjaan itu tidak menghalangi mereka lagi kepada Allah SWT. Setiap sesuatu yang mereka lihat dan pandang dan apa yang mereka perbuat, semuanya adalah bentuk perbuatan mendekatkannya kepada Allah SWT.
Jadi, kalau kita masih golongan Abid (ahli ibadah) yang dengan ibadah kita itu kita berharap dicintai Allah, mestinya kita menghindar dari pekerjaan-pekerjaan lain. Itu bisa menghalangi kita dari keadaan dan menghalangi jalan kita menuju cinta Allah.
Beda halnya dengan orang yang sudah makrifat, apapun mereka perbuat dan di manapun mereka berada, tidak akan takut sesuatu apapun akan mengganggu hubungan mereka kepada Allah. Mereka selalu musyahadah, mata hati mereka menyaksikan adanya Allah pada setiap sesuatu.
Orang yang makrifat kepada Allah kalau melihat sesuatu maka melihat itu sebagai perbuatan Allah dan dikehendaki oleh Allah, serta menunjukkan adanya Allah. Hati mereka tidak lepas dengan hal itu.
Jadi, di manapun, kapanpun, dan apapun yang mereka kerjakan akan terus mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Walaupun zahir mereka tidak banyak ibadah, tetapi hati mereka selalu memandang kepada Allah SWT.
Kemudian bila kita melihat orang yang makrifat itu lari dari sesuatu untuk memberi pelajaran kepada umat (yang belum sampai kepada makrifat), bukan karena mereka takut akan menghalanginya dari Allah SWT.
Rasulullah SAW ditawarkan oleh Allah gunung menjadi emas, dan beliau menolak. Bukan Rasul takut bahwa kalau menerima ini akan merusak hubungan Rasul dengan Allah, tetapi menolak itu untuk memberikan pelajaran untuk umat bahwa kedudukan orang fakir dan sabar, rida serta kanaah itu sangat mulia di sisi Allah SWT.
Para wali-wali dahulu ditawarkan jabatan sebagai qadhi, mereka menolak. Bahkan sampai disiksa, mereka tetap menolak. Bukan mereka tidak bisa dan khawatir dengan jadi qadhi itu akan lupa kepada Allah. Tetapi mereka menolak itu semata-mata untuk memberikan pelajaran kepada umat bahwa terhadap urusan jabatan qadhi/hakim agar hati-hati jangan sembarang terima kalau bukan yang benar ahlinya dan tidak punya ilmunya.
Makrifat kepada Allah merupakan impian oleh orang yang punya akal sehat dan sempurna. Orang ingin makrifat ini, kata Imam Al-Ghazali, adalah orang yang punya selera tinggi.
Kalau orang hanya ingin makanan enak dan menginginkan lawan jenis itu hanya selera rendah. Kalau hanya memuaskan nafsu, sama halnya keinginan hewani.
Tetapi kalau di dalam hati kita ada keinginan dan hasrat untuk makrifat kepada Allah, ini adalah baru laki-laki, manusia yang berakal sehat.
Selama ini kita hidup berpuluh tahun, apakah sudah ada keinginan makrifat kepada Allah? Kalau hanya punya akal kanak-kanak tidak akan ingin makrifat kepada Allah.
Bahkan Imam Al-Ghazali mengatakan, orang yang tidak menginginkan makrifat itu adalah orang yang impoten (lemah syahwat). Jadi jangan sampai kita masuk ke golongan yang seperti ini.
Tidak perlu iri hati ketika melihat orang yang bergelimang harta karena orang kafir dan murtad pun bisa seperti itu. Tetapi yang diinginkan adalah bahwa kita dirasakan di dalam dunia ini makrifat kepada Allah SWT.
Ini yang dikatakan oleh ulama: “Di dalam dunia ini sebenarnya ada surga. Siapa masuk ke dalam surga itu, dia tidak ingin lagi surga di akhirat. Apakah surga dunia itu? Mereka menyebutnya adalah makrifat dengan Allah SWT”.
Inilah yang kita inginkan. Kita menuntut ilmu itu yang kita inginkan agar bisa makrifat kepada Allah. Bukan hanya sekadar ilmu dan bicaranya saja.
Bagaimana contoh orang yang makrifat dengan Allah? Yakni saat dia melihat sesuatu, ia melihat bahwa itu adalah perbuatan, kehendak dan tanda bagi adanya Allah SWT. Kalau seperti ini ada selalu di dalam hati kita, berarti kita selalu dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah adalah puncak kenikmatan bagi orang yang punya akal sehat.
Yang menjadi sulit itu adalah selama ini akal kita kurang sehat. Kita nyaman dengan makanan yang enak. Kalau ada orang-orang yang kita sukai, kita nyaman. Akal kita hanya sebatas itu.
Andaikata akal kita sehat, maka selalu ingin dekat dengan Allah SWT. sehingga melihat apapun kita melihat adalah perbuatan, kehendak dan bukti adanya Allah SWT.
Jadi, makrifat ini Allah tidak akan memberi kepada semua orang. Makrifat laksana mutiara yang sangat mahal. Tentunya Allah akan menitipkan kepada orang yang memang pantas menerimanya.
Sesuatu yang berharga dan mahal kalau kita pegang di dalam surga, itulah yang mahal. Setiap barang mahal, tentu Allah hanya memberi kepada orang yang Dia cintai.
Maka yang kita usahakan pertama adalah agar dicintai Allah dulu. Bagaimana caranya kita menjadi manusia yang dicintai Allah, setelah dicintai Allah maka ada harapan dirasakan oleh Allah bagaimana makrifat itu.
Selama ini, kita hanya mendengar kabar saja bahwa Allah Maha Indah, Maha Mengetahui, Maha Kaya dan segala sifat-sifatNya. Kalau Allah menampakkan semuanya itu kepada kita, sehingga kita bisa merasakan maka itulah makrifat kepada Allah SWT.
Jadi, kita cari bagaimana agar Allah cinta kepada kita. Kalau Allah sudah cinta dan suka kepada kita, jadi mudah diberi makrifat itu.
Kembali kepada dua jalan di atas, sebagaimana firman Allah dalam hadis Qudsi. “Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah, hingga Aku pun mencintainya. (HR. Al-Bukhari).
Kemudian sabda Rasulullah SAW: “Zuhudlah engkau pada dunia (ketergantungan hati) niscaya Allah cinta kepada engkau”. Wallahu Taala a’lam.(*)
Editor : Arief