BANJARBARU - Kabar membanggakan datang dari Kalimantan Selatan. Noor Zaidah, Ketua KOPRI PKC PMII Kalimantan Selatan, berhasil menembus Top 10 Nasional ajang BAZNAS Santripreneur 2025 yang digelar di PSP3 IPB University, Bogor, awal Oktober lalu.
Perempuan berusia 22 tahun asal Landasan Ulin, Banjarbaru, itu dikenal sebagai santri yang sukses menyeimbangkan antara ilmu, organisasi, dan dunia usaha.
Melalui bisnis Zaidah Florist, ia mampu mengembangkan usaha merangkai bunga, hampers, dan dekorasi acara yang kini berkembang pesat di Banjarbaru.
Zaidah mengatakan pencapaian itu bukan sekadar penghargaan pribadi, melainkan bukti nyata bahwa kaderisasi PMII di Kalimantan Selatan (Kalsel) mampu melahirkan generasi santri yang mandiri dan berdaya.
“Ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang semangat seluruh kader PMII Kalsel yang ingin menunjukkan bahwa santri bisa mandiri dan berdampak,” ujarnya, Sabtu (18/10) siang.
Zaidah memulai UMKM miliknya tersebut sejak kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Falah Banjarbaru.
Dari hasil usahanya, ia rutin menyalurkan sebagian keuntungan untuk kegiatan sosial seperti Gerakan 1001 Parcel Ramadan dan Santunan Anak Yatim di Banjarbaru.
“Bagi saya, bisnis bukan sebatas mencari untung, tapi jalan untuk menebar kebaikan. Kalau rezeki dibagi, keberkahannya juga ikut tumbuh,” katanya.
Keberhasilannya di panggung nasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi Banua.
Ia membuktikan bahwa santri daerah juga mampu bersaing secara nasional dengan gagasan dan karya.
“Kadang orang berpikir santri itu cuma bisa ngaji. Tapi saya ingin membuktikan, santri juga bisa jadi pengusaha, pemimpin, dan inspirator,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kaderisasi PKC PMII Kalsel, Ali Musana mengungkapkan, keikutsertaan Zaidah di BAZNAS Santripreneur 2025 menjadi bukti bahwa semangat kaderisasi PMII Kalsel benar-benar hidup.
Lewat konsep bisnis berbasis sosial dan keberlanjutan, ujar Ali, Zaidah mempresentasikan model usaha yang tidak hanya kreatif tapi juga berjiwa sosial tinggi, sesuatu yang sejalan dengan nilai-nilai santripreneurship.
“Zaidah ini contoh kader ideal. Ia memadukan nilai-nilai intelektual, keislaman, dan kemandirian ekonomi dalam satu langkah nyata,” ujarnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan Zaidah adalah cerminan nyata dari kaderisasi progresif PMII. Yaitu menghasilkan pemikir sekaligus pelaku perubahan.
“Kita ingin kader yang tidak hanya pandai berdebat, tapi juga bisa memberi dampak sosial dan ekonomi di tengah masyarakat,” ucapnya.
Editor : Arif Subekti