Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Syarat Membuat Rencana, Hikmah ke-111 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari

admin • Jumat, 17 Oktober 2025 | 09:37 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

               Oleh: H. Muhammad Tambrin
               Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Bermula orang yang lalai apabila berpagi-pagi dia berpikir apa yang dia lakukan pada hari ini. Sedangkan orang yang berakal dia berpikir apa yang Allah perbuat dengannya pada hari ini”.

Hikmah ke-111 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

        ***

Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa orang yang lalai adalah orang tidak tahu dan tidak mengerti tentang Allah. Pagi-pagi, ia berpikir dan merenung apa yang akan dilakukan pada hari ini. Ia pun merancang urusan dan hajat-hajatnya. Kemudian bila ia menemui sesuai apa yang direncanakan, maka ia gembira dengan dirinya.

Sebaliknya, ketika menemui perkara yang direncanakannya tidak sesuai dan tidak terjadi, ia marah, murka dan sedih.

Orang jahil merasa punya kekuatan untuk memperbuat sesuatu. Ia merasa punya kepandaian untuk merancang sesuatu. Kemudian apabila tidak sesuai perencanaan ia sedih dan kecewa serta bisa menyalahkan siapa saja. Inilah orang yang tidak paham dengan Allah SWT. Inilah yang umumnya terjadi pada diri kita.

Jika demikian, artinya kita dijauhkan dari hadirat Allah SWT. Ini menyebabkan kita malas dalam beribadah. Tidak bisa hadir hati dalam berzikir. Tidak bisa khusyuk dalam salat. Tidak bisa menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an, karena sudah dijauhkan dari Allah SWT.

Adapun orang yang berakal adalah orang kenal dengan Allah. Berpagi-pagi, ia merenung dan berpikir apa yang akan Allah perbuat pada dirinya hari ini. Apabila orang yang kenal dengan Allah ini menjumpai sesuatu bala musibah (yang tidak dengan keinginannya), ia sabar, rida dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Jika mendapati suatu nikmat, ia bersyukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mereka menjadi orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT.

Syukur menurut para ulama. Pertama, adalah mengucap Alhamdulillah. Kedua, mengakui nikmat tersebut dari Allah. Ketiga, menggunakan nikmat itu di jalan Allah.

Orang yang mengerti tentang Allah apabila dapat nikmat ia mengucap Alhamdulillah dan mengakui nikmat dari Allah, serta menggunakannya di jalan ketaatan kepada Allah.

Beda halnya dengan orang yang jahil. Kalau dapat nikmat, ia berfoya-foya dengan nikmat itu. Ia gembira dengan nikmat itu, karena semua nikmat ini hasil dari kerja, jerih payah, dan rancangannya. Apalagi mendapat keuntungan yang besar, dan ia gembira lalu berfoya-foya dengan nikmat itu. Kita sering melihat, bahkan bisa jadi diri kita termasuk di dalamnya, tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk kesenangan hati atau nafsu syahwat. Bahkan dapat mengeluarkan ratusan juta hanya untuk kesenangan. Tetapi, ibadah kepada Allah, bersedekah, wakaf, membantu orang fakir miskin dan orang-orang yang wajib dibantunya sejuta pun sangat diperhitungkan, dan berat mengeluarkan. Inilah perilaku orang-orang yang jahil dengan Allah SWT.

Makan makanan yang mahal, pakaian mahal, mobil mahal, ia berani mengeluarkan. Tetapi urusan membantu orang lain dan silaturahmi Rp500 ribu saja berat.

Kenapa sebabnya demikian? Karena ia merasa uang uangnya hasil usaha dirinya, untuk apa mengeluarkan untuk orang lain. Inilah orang yang tidak punya akhirat, jahil dengan Allah. Nanti di akhirat akan ditanya Allah, ke mana nikmat yang besar engkau gunakan, apakah digunakan untuk taat kepada Allah?

Para sahabat seperti Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khattab, Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat lainnya adalah contoh orang yang sederhana dalam hidup mereka. Tetapi di dalam urusan jihad di jalan Allah, mereka berani habis-habisan. Inilah contoh orang yang makrifat dengan Allah. Sebaliknya seorang yang jahil dengan Allah urusan duniawinya yang habis-habisan, tetapi urusan taat banyak perhitungan.

Para ulama al-hukama mengatakan: “Manusia itu dalam berusaha bermacam-macam. Ada sebagian manusia yang berpendapat bahwa rezeki itu didapat dari usahanya”. Ini uangku didapat hasil dari usahaku, maka orang yang berkeyakinan demikian ia kufur.

“Dan ada sebagian manusia yang berpendapat bahwa rezeki itu didapat dari Allah dan usahanya”. Orang yang berpedoman/berkeyakinan rezeki yang didapat benar dari Allah, tapi ia juga yang berusaha, maka orang seperti ini menyekutukan Allah.

“Orang yang menganggap bahwa rezeki dari Allah, usahanya hanya sebab dan Allah bisa mendatangkan rezeki tanpa sebab, itulah orang yang beriman kepada Allah”. Apabila orang termasuk dengan golongan ini maka ia merasa rezeki dari Allah.

Banyak dosa kita mungkin bisa syirik karena urusan rezeki ini. Jadi, orang yang makrifat kepada Allah apabila mendapat nikmat mereka bersyukur. Lalu digunakan untuk taat kepada Allah SWT.

Rasulullah mengajarkan kita banyak doa yang sangat membantu kita mengenali Allah, di antaranya: ”Allahumma inni asbahtu laamliku linafsi dharraw wala naf'a. Walaa mautaw wala hayataw walaa nusyuura, wala an astatiiu an akhuuza illa man a’thaitanii. Wa an attaqiya illa man waqaitanii. Wawaffiqnii allahumma ya Allah limaa thardhahu minni, minal qaul wal fi’li wa afiatin wa sitrin innaka alaa kulli syai’in qadiir. “Ya Allah bahwasanya aku berada di waktu pagi dalam keadaan tidak memiliki untuk memudaratkan dan memberikan manfaat dan tidak memiliki kematian, kehidupan dan kebangkitan. Dan hamba tidak bisa mengambil kecuali yang telah engkau berikan kepadaku. Dan bahwa hamba tidak bisa menghindar akan sesuatu kecuali yang Engkau hindarkan daripadaku. Maka berikan kepadaku Ya Allah bagi yang Engkau ridai padaku dari perkataan, perbuatan dan pada keafiatan dan penutupan. Sungguh Engkau atas segalanya kuasa”.

Ini salah satu doa Nabi yang kalau kita baca dengan paham artinya maka akan menumbuhkan di dalam hati kita tidak mempunyai apa-apa. Kalau sudah tumbuh rasa tersebut, maka kita bisa merenung apa yang Allah perbuat padaku hari ini. Bukan lagi apa yang aku perbuat hari ini.

Para ulama menguraikan, membuat rencana tidak dilarang asal disertai dengan tiga hal. Apabila kurang dari tiga hal ini, kita akan salah dan akan merugi. Pertama, sertakan niat bahwa aku merancang ini dengan Allah, artinya dengan daya upaya Allah. Kedua, bahwa aku merancang ini dan itu dapat ilham dari Allah. Ketiga, kuserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Baik itu berhasil ataupun tidak, itu urusan diserahkan kepada Allah.

Boleh saja merencanakan sesuatu apa saja, tapi jangan lupa tiga hal tadi. Apabila demikian dan sesuai rencana kita syukur. Apabila tidak sesuai maka sabar, rida, dan baik sangka kepada Allah. Dengan demikian kita selamat dan terhindar dari golongan orang-orang jahil dengan Allah SWT.(*)

Editor : Arief
#Tarbiyah