Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
"Datangnya kurnia bantuan Allah itu menurut kesiapan dan terbitnya cahaya ilahi menurut kebersihan hati." --- Hikmah ke-110 Al-Hikam karya Al-Atha'iyyah Imam Ahmad As-Sakandari
****
DISYARAHKAN oleh Kiai Muhammad Bakhiet, datangnya bantuan, anugerah dari Allah atas hamba-Nya, seperti ketenteraman hati ketika berzikir adalah pemberian dari-Nya.
Datangnya bantuan dari Allah atas hamba, mesti disertai kesiapan seorang hamba. Bagaimana kesiapan menerima bantuan itu?
Yakni dengan membersihkan hati dari sifat tercela dan menghiasi diri dengan sifat terpuji.
Apabila hati kita bersih, maka bantuan Allah akan datang karena keadaan kita sudah siap menerimanya.
Hingga dikatakan, "Bersihkan hatimu dari akhlak yang tercela kemudian hiasi dengan akhlak yang terpuji, niscaya Kami penuhi hatimu dengan makrifat dan musyahadah."
Berapa banyak orang yang berzikir tetapi tidak merasakan ketenangan, padahal Al-Qur'an menyatakan bahwa zikir itu menentramkan hati.
Maka kenapa hati menjadi tidak tenteram? Setiap hari sudah berzikir dengan memfokuskan pikiran akan maknanya, tapi saat di luar zikir lupa lagi kepada Allah.
Ternyata sebab yang demikian adalah ketiadaan kebersihan hati. Sebagaimana ketenteraman saat berzikir, bisa ber-musyahadah saat melihat sesuatu dan khusyuk dalam salat juga adalah madad ilahi (pemberian).
Saat salat ternyata tidak khusyuk, padahal kalau dia berbicara seperti ahlinya karena sudah lama mempelajari. Tetapi khusyuk ini adalah suatu madad ilahi yang diberikan kepada orang yang siap untuk menerimanya.
Adapun sifat-sifat tercela yang mencegah bantuan Allah datang adalah sombong, merasa lebih takwa, mulia dan bersih daripada orang lain.
Jangan sekali-kali merasa bahwa diri kita ini lebih baik dan mulia dari siapapun, sekalipun dari orang kafir. Jangan sampai merasa lebih mulia dari yang lain.
Kenapa? Karena tidak ada yang tahu akhir hidup. Barangkali si kafir akan menjadi muslim dan sebaliknya.
Dengan orang kafir saja demikian, lebih-lebih dengan sesama muslim. Contoh kita melihat penjudi, pemabuk dan penzina serta ahli maksiat, hati kita merasa lebih baik dan mulia daripadanya. Penyakit ini seringkali datang kepada penuntut ilmu dan ahli ibadah. Padahal sifat ini yang akan mencegah dia menerima bantuan dari Allah.
Jangan ada lagi di dalam hati kita merasa lebih mulia, lebih takwa dari orang lain. Di dalam Al-Qur'an disebutkan: "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa." (An-Najm: 32)
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. (Al-Araf: 146)
Jadi orang sombong akan dikunci hatinya hingga tidak bisa menerima bantuan. Meskipun ilmunya bertambah, tetapi tidak mendapat manfaat dari ilmu itu.
Sifat kedua yang mencegah terhadap madad ilahi adalah cinta dunia.
Dunia adalah sesuatu yang membuat kita sengsara di akhirat, itulah dunia.
Apabila kita mencintai sesuatu yang mengundang kesusahan di akhirat, maka itulah dunia. Baik itu ilmu, harta, kedudukan, apapun itu.
Rasulullah bersabda: "Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang alim atau penuntut ilmu." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hal-hal yang membawa kepada kesusahan di akhirat itu dilaknat Allah. Kalau kita mencintai sesuatu yang dilaknat, maka kita juga dilaknat dan bantuan akan berhenti.
Kalau rasa khusyuk bisa hilang, kenikmatan dalam membaca Al-Quran hilang, kelezatan dalam bersujud hilang... karena kita mencintai sesuatu yang dilaknat oleh Allah Swt.
Sifat ketiga yang akan mencegah bantuan Allah datang kepada kita adalah dendam.
Dendam berarti menyimpan kemarahan kepada seseorang, lawan dari maaf. Kenapa sifat dendam mencegah bantuan Allah, Nabi menyatakan: "Orang beriman itu tidak menyimpan dendam."
Kalau ada dendam berarti tidak beriman. Apakah bisa khusyuk dalam beribadah kalau menyimpan dendam? Tidak akan bisa!
Itulah contoh tiga sifat yang mencegah datangnya bantuan Allah kepada kita. Apakah hanya tiga? Tidak, masih banyak lagi sifat-sifat tercela yang lain, tetapi inilah pokoknya.
Cahaya kesalehan seperti senter yang diarahkan ke cermin. Kalau cerminnya kotor, maka cahayanya akan buram. Sebaliknya kalau cerminnya bersih maka cahayanya akan terang.
"Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
Salat yang kita kerjakan memancarkan cahaya ke dalam hati, dengan cahaya itu maka tercegah berbuat kejahatan.
Kalau ada orang yang rajin salat tetapi maksiat sering juga, berarti cahaya ini tidak tembus ke dalam hatinya.
Semoga Allah memberikan kemudahan agar bisa mengamalkan ilmu yang diberikan-Nya. (*)
Editor : Arief