Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rahasia Para Wali

admin • Jumat, 5 September 2025 | 09:14 WIB

H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

               Oleh: H. Muhammad Tambrin 

“Maha suci Tuhan yang menutupi rahasia kekhususan (para wali) dengan tampaknya sifat kemanusiaan, dan tampaklah kebesaran Tuhan pada menampakkan (sifat) hamba-Nya."

Hikmah ke-105 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

      ******

Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa makna hikmah ini ada dua. Pertama, Allah SWT menyembunyikan ilmu-ilmu, makrifat dan rahasia ketuhanan di dalam hati walinya dengan tampaknya sifat kemanusiaan dalam diri seorang wali, seperti makan, minum, nikah, mengantuk dan tidur, sakit dan lupa.

Sehingga kita akan sulit mengetahui mana seorang wali dan seorang biasa. Karena wali Allah itu sama seperti kita, makan, minum, kawin, sakit dan lupa. 

Padahal seorang yang diberikan Allah rahasia ketuhanan, ilmu makrifat, mereka itu sebenarnya mampu untuk tidak makan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tidak tidur bertahun-tahun. Tetapi itu semua tidak diizinkan oleh Allah, karena kalau diizinkan, maka akan tampak perbedaan mana orang yang dititipkan oleh Allah rahasia ketuhanan dengan orang biasa.

Jadi, karamah yang diberikan Allah kepada para wali, berbeda dengan mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi dan Rasul.

Imam Asy-Syuhrawardi berkata: “Perbedaan antara mukjizat dan karamah adalah Nabi wajib menampakkan dan mengakui mukjizat. Sedangkan wali wajib atasnya menyembunyikan, kecuali Allah yang menampakkan karamah atasnya”.

Allah berfirman: ”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yunus: 62).

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa memusuhi kekasih Ku. Maka, Aku benar-benar mengumumkan perang dengannya".(HR. Bukhari)

Seorang wali adalah sangat berharga/mulia di sisi Allah, dan barang mulia tidak akan ditampakkan kepada sembarang manusia. Makanya ada istilah: “Tidak tahu permata kecuali ahli permata. Tidak akan kenal seorang wali, kecuali seorang wali”.

Perbandingannya, kita mempunyai barang berharga yang sangat mahal harganya. Tentunya barang ini kita simpan dan tidak sembarang orang yang kita perlihatkan. Kecuali orang yang kita cintai dan hormati.

Kalau orang itu musuh kita, tidak senang kepada kita, tidak hormat kepada kita, pasti kita tidak akan memperlihatkan barang berharga milik kita itu kepada orang tersebut. Tetapi Allah tidak menutupi wali itu dengan sifat-sifat tercela, seperti sombong, tamak, cinta dunia, kikir, buruk akhlak, dendam, dengki. Hal seperti ini tidak akan terjadi, Allah tidak akan menutupi wali-wali-Nya dengan sifat tercela. Sehingga jika ada orang punya sifat dendam, hasut dan sombong, maka ini sudah jelas, bukan untuk menutupi kewalian. Tetapi tanda dari sifat jahatnya.

Sebab tidak akan ditetapkan kekhususan dan kewalian, kecuali sesudah hilang semua sifat itu di dalam diri mereka.

Allah juga tidak menutupi/melindungi wali dengan terbiasa pada maksiat yang zahir, seperti berdusta, menggunjing orang, zina, mencuri dan lain sebagainya. Karena mengekalkan dosa itu adalah tanda kefasikan dan jauh dari Allah SWT.

Allah tidak akan membuat tabiat seorang wali, kecuali orang itu baik akhlaknya, dicela dan disakiti tidak akan membalas. Inilah tanda-tanda kewalian. Dan pemurah, tidak ada wali yang kikir. Karena kikir itu jauh dengan surga, dan dekat dengan neraka.

Apabila Allah menghendaki mengenalkan kita dengan seorang walinya, maka Allah bukakan karamah wali itu. Allah memberikan kepada kita kemuliaan, dan diperlihatkan-Nya kepada kita kekasih-Nya. Allah mengistimewakan orang itu dengan memperlihatkan barang berharga milik-Nya.

Mengapa Allah tidak memperlihatkan kepada kita kekasih-kekasih-Nya? Di dalam kitab Iqazu Al-Himam disebutkan: “Demi Allah, Allah itu tidak mendinding para wali dari engkau melainkan karena ketidakjujuran engkau”.

Karena kita belum jadi orang jujur, kita belum jadi orang amanah, kita belum jadi orang mulia, sehingga Allah mendinding kita untuk melihat dengan kasat mata para wali-wali itu.

“Jika tidak karena jahatnya adabmu kepada mereka, niscaya Allah angkat dinding antara engkau dan antara wali itu, dan Allah sertakan mereka bersamamu”.

Allah tahu, bahwa kalau kita ini diperlihatkan dengan seorang wali, maka kita akan kurang adab dengan mereka. Sehingga Allah tutupi dengan mereka untuk keselamatan kita. Karena kalau kita sudah tahu karamah seorang wali dan kita masih kurang adab, maka akan ada hukuman yang berat bagi kita. Hukuman ruhani dari Allah SWT.

Seseorang akan dapat berkahnya wali dengan mendapat percikan rahmat yang diberikan Allah kepada wali itu dengan syarat dua hal. Pertama, mempercayai bahwa dia itu wali. Kedua, baik adab atau menghormati kepada wali itu.

Apabila kita sudah husnuzan (sangka baik), bahwa seseorang wali karena ada tanda-tanda yang mengarah ke sana, atau kita dapat kabar dari orang mulia bahwa seseorang itu wali. Maka rahmatnya akan sampai kepada kita. Artinya rahmat yang diberikan Allah kepada wali itu sampai kepada kita, apabila kita percaya dan hormat, baik adab kepada mereka.

Apabila kita tidak mempercayainya, atau kita tidak baik adab, walaupun sangat dekat, maka tidak akan dapat rahmatnya sedikit pun.

Kenapa sahabat-sahabat Rasulullah mendapat rahmat yang diberikan Allah kepada Rasulullah? Karena sahabat-sahabat itu beriman kepada Rasulullah, dan sangat beradab kepada Rasulullah.

Kenapa Abu Jahal yang setiap hari bersama Rasulullah dan Abu Lahab pun demikian, tidak mendapat berkah Rasulullah? Karena mereka tidak beriman, dan tidak menghormati Rasulullah. Itu adalah masalahnya, bukan kedekatan fisik. Terkadang orang yang di seberang pulau mendapatkan rahmat dari seorang wali. Sedangkan orang-orang yang serumah dengannya malah tidak dapat rahmat wali. Kenapa demikian? Orang rumah ini mungkin tidak mempercayai bahwa itu wali, atau percaya tapi tidak menghormatinya.

Jadi, wali merupakan barang yang berharga milik Allah, dan Allah tidak akan memperlihatkan seorang wali kecuali bagi orang-orang yang istimewa di sisi Allah SWT. Itu yang pertama yang disebutkan dalam hikmah yang ini.

Makna kedua dari hikmah ini, Allah itu tampak dengan kebesaran ketuhanan-Nya pada menampakkan (kelemahan) hamba-Nya. Artinya, kalau kita ingin melihat kebesaran Allah, maka lihatlah kepada seorang manusia yang sangat lemah itu. Kalau kita ingin melihat bagaimana kekayaan Allah, maka lihatlah manusia yang sangat fakir. Kalau kita ingin melihat bagaimana kekuatan Allah, maka lihatlah manusia betapa lemahnya.

Jadi, Allah itu tampak di tengah-tengah kelemahan makhluk-Nya. 

Makanya ada istilah, “Orang yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya”. Artinya, ia akan melihat kekuatan Tuhannya pada kelemahan dirinya. Ia juga akan melihat kekayaan Tuhannya pada keberhajatan dirinya. Bagaimanapun manusia itu kaya raya, maka akan tetap fakir/berhajat. Kalau ingin melihat keagungan dan kebesaran Tuhan, maka lihatlah kehinaan diri kita, maka di sanalah akan tampak bagaimana Agungnya Allah SWT.

Jadi, sebagaimana Allah menyembunyikan keistimewaan para wali-Nya dengan tampaknya sifat-sifat kemanusiaan pada diri mereka, Allah juga memperlihatkan keagungan dan kekayaan-Nya pada kehinaan dan kefakiran hamba-Nya.

Begitu kita, melihat orang fakir maka kita langsung ingat kayanya Allah. Melihat lemahnya manusia, kita langsung ingat kuatnya Allah SWT. Kita melihat hinanya manusia, kita ingat mulianya Allah SWT.(*)

Editor : Arief
#Tarbiyah