Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Bermula kefakiranmu adalah sifat asli dalam zat kejadianmu, dan datangnya sebab-sebab yang untuk mengingatkanmu dari apa yang tersembunyi bagimu dari sifat kefakiran. Dan kefakiran yang hakiki itu tidak bisa dihilangkan dengan hal-hal yang sifatnya mendatang”.
- Hikmah ke-96 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*******
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan hikmah ke-96 ini masih berhubungan dengan hikmah sebelumnya. Ada dua nikmat yang tidak bisa dipisah, yakni nikmat ijad (diciptakan) dan imdad (mendapat pertolongan) dari Allah. Maka manusia itu pada hakikatnya tidak ada, jika tidak ada dua nikmat tersebut.
Sehingga kefakiran manusia itu lazim, tidak bisa terpisah pada manusia, sekalipun manusia itu tampak kaya, sehat. Pada hakikatnya manusia itu adalah fakir, berhajat kepada dua nikmat tadi, ijad dan imdad
Firman Allah SWT: “Hai manusia, kalianlah yang sangat butuh (fakir) kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS. Fathir [35]: 15)
Maka kekayaan, kesehatan, kemuliaan yang ada pada manusia itu adalah perkara mendatang. Sedangkan perkara sebenarnya yakni kefakiran dan kehinaan tidak bisa hilang dengan keadaan yang mendatang tadi.
Contohnya, seperti tembaga pada aslinya berwarna kecokelatan (warna asli). Kemudian tembaga ini jika disepuh dengan perak jadi perak, disepuh dengan emas jadi emas. Bagaimanapun disepuhnya, tetap tidak bisa menghilangkan itu adalah tembaga.
Seperti itulah manusia. Manusia ini adalah sesuatu yang tidak ada. Kemudian diadakan oleh Allah. Bagaimanapun kaya, sehat dan mulianya manusia, tetap tidak bisa menghilangkan sifat kefakiran berhajatannya ia kepada Allah SWT.
Jadi apabila hilang dari manusia itu kekayaan, kesehatan dengan satu sebab dari berbagai macam sebab, maka keadaan itu sebenarnya hanya mengingatkan manusia kepada asal sebenarnya, yaitu kefakiran.
Manusia kaya, sehat dan mulia itu laksana sepuhan. Begitu dia hilang karena ada satu hal, seumpama tembaga yang disepuh terkena air keras atau api, maka hilang sepuhannya. Barulah manusia itu sadar, terbangun bahwa ia adalah laksana tembaga. Padahal sudah lama ia tidak menyadari bahwa dirinya adalah tembaga. Begitu sepuhannya hilang, lalu sadar bahwa dirinya tembaga.
Begitu kekayaan hilang, kesehatan hilang dan kemuliaan hilang, maka manusia sadar dan bangun untuk menunaikan hak kehambaannya dan tidak melampaui batasnya. Dan keadaan ini juga merupakan rahmat yang besar dari Allah atas manusia, bukan bala.
Allah mengingatkan bahwa kita mesti kembali. Ini bukti bahwa Allah menciptakan apapun pasti ada rahasia kebaikan di dalamnya, asal kita bisa memahami apa yang terjadi itu.
Fir’aun selama 400 tahun hidup tidak pernah sakit kepala, tidak pernah panas tubuhnya sekalipun hujan panas cuaca. Maka dia merasa besar, lupa kembali kepada asal, sehingga dia mengaku Tuhan. Ini bahayanya orang yang selalu memandang sepuhan (tertipu).
Jadi, penyakit yang diberi Tuhan kepada kita itu kebaikan. Penyakit membuat ingat kepada Allah itu lebih baik dari sehat yang membuat lalai daripada Allah.
Penyakit yang membuat dia meninggalkan dosa, lebih baik dari pada sehat tetapi dia memperbuat dosa. Ada juga penyakit yang membuat seseorang kehilangan kesombongan. Maka penyakit seperti ini tidak usah diobati lagi.
Kemiskinan seseorang yang membuat dia dekat dengan Allah, itu lebih baik daripada kekayaan yang membuat dia jauh dari Allah. Sedikit cukup lebih baik daripada banyak menyesatkan.
Alhasil, apabila ada hal-hal yang datang kepada kita, membuat kita kembali kepada asal, yakni kehinaan, kelemahan, kemiskinan dan kefakiran, itu sebenarnya rahmat Allah kepada kita untuk mengingatkan kita agar jangan lupa, bahwa kita ini memang seperti itu. Kekayaan, kesuksesan, kesehatan adalah hal-hal yang mendatang bagi kita, dan setiap yang mendatang pasti akan hilang.(*)
Editor : Arief