Oleh: H. Muhammad Tambrin
“Dua nikmat yang tidak lepas manusia dari keduanya, dan tak bisa tidak manusia mendapat dua nikmat itu. Pertama, nikmat ijad (diciptakan Allah) dan yang kedua, nikmat imdad (ditolong oleh Allah). Allah pertama memberi nikmat dengan diciptakan, dan kemudian diberi nikmat dengan beriring-iringan bantuannya".
- Hikmah yang ke-95 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*******
Dua macam nikmat yang tidak terlepas dan selalu tercurah kepada manusia, juga makhluk-makhluk lainnya, yakni nikmat diciptakan dan selalu ditolong. Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa tidak lepas sedetik pun makhluk Allah dari dua nikmat ini.
Nikmat ijad adalah diciptakannya manusia dari tiada menjadi ada. Dengan diciptakan manusia ada kemungkinan mengenal Allah, masuk surganya Allah, melihat Allah di dalam surga nanti. Itulah nikmat diciptakan.
Andaikata kita tidak diciptakan oleh Allah, maka kita tidak ada kesempatan untuk makrifat, ibadah, surga dan memandang Allah. Jadi, penciptaan itu merupakan nikmat yang paling besar yang diberikan kepada kita.
Nikmat ijad juga adalah Allah menjadikan bagi manusia itu iman dalam hatinya. Jika tidak diberi nikmat iman, maka senantiasa manusia dalam kesesatan.
Maka atas nikmat ijad ini harus disyukuri. Cara pertama adalah menjaga tubuhnya daripada yang membinasakan. Karena itu, orang yang bunuh diri tidak mensyukuri nikmat diadakan. Sehingga ancaman bagi bunuh diri dijamin masuk ke dalam neraka, karena mengingkari nikmat ijad.
Allah SWT berfirman: “Jangan kamu bunuh diri, Allah sungguh sayang dengan kalian”.
Di dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan, seorang laki-laki yang berjihad bersama Rasulullah melawan orang-orang kafir. Namun, Rasulullah mengatakan kepada sahabat-sahabat lainnya bahwa seorang laki-laki sahabat yang ikut berperang itu adalah ahli neraka. Itu membuat sahabat-sahabat yang lain kebingungan, karena sahabat ini ikut berperang di jalan Allah memerangi orang kafir.
Maka sahabat-sahabat yang lain mengikuti untuk melihat kebenarannya. Dia berperang melawan orang kafir, kemudian sahabat ini ditombak.
Karena sangat sakit menahan luka tombakan, dia mengakhiri hidupnya dengan cara menusukan pedangnya ke perut sendiri (bunuh diri) dan mati.
Jadi, sahabat-sahabat yang lain mengatakan pantas Rasulullah telah mengatakan dia seorang ahli neraka, karena mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Jadi, seluruh kebaikan yang pernah dia lakukan habis tidak tersisa.
Orang banyak yang minum arak. Namun, minum arak itu disebut induknya segala kejahatan, karena orang yang mabuk ini bisa melakukan segala kejahatan seperti membunuh, memperkosa, dan sebagainya. Itu membuat dosa minum arak ini dikatakan sangat besar. Kenapa dikatakan dosanya sangat besar? Karena arak (minuman keras) ini merusak akal, menutupi fungsi akal. Ini adalah kufur dengan nikmat akal itu. Padahal nikmat akal itu diadakan oleh Allah. Sehingga seharusnya yang dilakukan adalah menjaga dari hal yang merusak akal.
Allah berfirman: “Jangan engkau lemparkan diri kamu itu kepada kebinasaan”.
Demikian juga makanan, jika dikatakan orang yang dipercaya, “kamu jangan makan ini, kalau memakan ini akan membahayakan dirimu”. Tetapi tetap dimakannya, berarti ia berdosa. Mengapa? karena melemparkan diri kepada yang berbahaya.
Orang yang berkendaraan dengan kebut-kebutan, itu adalah bentuk melemparkan diri kepada kebinasaan. Kalau mati maka dia akan mati sakit. Lebih bagus perlahan dengan niat menjaga diri pemberian Allah SWT.
Daripada besarnya nilai badan manusia ini, ibadah apapun dikalahkan di sisi Allah asal dengan menjaga keselamatan diri ini. Contoh, seperti naik haji adalah wajib bagi setiap muslim yang mampu. Tetapi kalau kenyataannya naik haji itu dalam perjalannya tidak aman, dan akan membahayakan diri kita, maka tidak wajib naik haji itu. Padahal naik haji itu adalah rukun Islam, tetapi lebih berharga tubuh kita ini dalam pandangan Allah SWT.
Kemudian, cara mensyukuri nikmat iman yakni dengan menjaga iktikad dalam hati, menjaga perkataan dan perbuatan dari hal yang bisa menghilangkan iman.
Adapun nikmat imdad ibarat pohon yang ditanam dan dipelihara. Allah setelah menciptakan kita, maka Allah pelihara dan jaga sampai kepada batas yang ditentukannya.
Seperti bumi yang dijadikan Allah sebagai tempat tinggal manusia, rezeki yang dikirimkan/dikeluarkan Allah dari bumi dan langit, udara yang bisa bernapas manusia dengannya. Andaikata nikmat imdad ini tidak ada, maka manusia akan binasa.
Nikmat imdad inilah yang menjelaskan, mengapa kita bisa hidup sampai sekarang. Maka nikmat imdad ini pun wajib untuk disyukuri. Caranya dengan menjaga semuanya dari hal-hal yang merusaknya.
Makanya orang berbuat kerusakan di muka bumi itu adalah orang yang sangat jahat di sisi Tuhan. Orang yang menggunduli hutan, membuat suasana bumi tidak nyaman kehidupan manusia, orang yang menggali lubang berbagai macam karena menyengsarakan manusia, itu sesuatu yang sangat jahat di sisi Allah, karena mengingkari nikmat imdad.
Allah sudah bagus memberikan bumi dengan tanaman dan pohon-pohonnya agar manusia hidup dengan nyaman dan tentram. Pohon ditebang, dan tanahnya dikeruk diambil batu bara dan berbagai macamnya. Akhirnya manusia tidak nyaman lagi hidup di bumi ini, panas, dan sebagainya. Ini berbuat kerusakan adalah bentuk mengkufuri nikmat imdad dari Allah SWT.
Demikian pula halnya nikmat iman, dijaga Allah dengan nikmat imdad, dengan cara diberikan kita suka pada ketaatan dan ahli taat, benci kepada kemaksiatan dan ahli maksiat. Dengan bantuan itu, maka iman itu menjadi tetap kuat dan bertambah.
Bagaimana mensyukuri nikmat ini? Yaitu dengan melazimi taat dan membersamai orang-orang taat serta menjauhi maksiat dan orang-orang yang suka berbuat maksiat.
Iman itu bertambah dan semakin kuat dengan taat kepada Allah. Iman itu berkurang serta semakin lemah apabila kita banyak berbuat maksiat kepada Allah SWT.
Editor : Arief