Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Kadang-kadang menetapkan Allah SWT atas engkau suatu dosa maka jadilah dosa itu sebab pada sampainya dia kepada Allah SWT.” - Hikmah ke-94 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
*****
Tidak hanya taat yang bisa menyampaikan seseorang kepada kecintaan Allah. tidak hanya taat yang bisa menyampaikan seseorang kepada keridhaan Allah. tidak hanya taat yang bisa menyampaikan seseorang ke surganya Allah. Tetapi ada juga dosa yang menyampaikan seseorang kepada kecintaan Allah.
Bagaimana dosa yang bisa menyampaikan seseorang kepada ma’rifatullah dan dicintai oleh Allah serta menyampaikan ke surganya Allah.
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH. Muhammad Bakhiet, apabila berbuat dosa seseorang hamba, lalu dengan sebab dia berbuat dosa itu, dia muncul dalam hatinya ketakutan yang besar, kesedihan serta kehinaan yag besar, kemudian dia bertaubat kepada Allah, maka dosa tadi menjadi sebab dia bertaubat dan membaguskan taubatnya, maka dengan sebab itulah yang akan menyampaikan dia kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda: Ada dosa yang membuat seseorang yang berdosa itu masuk surga. Para sahabat bertanya: bagaimana bisa demikian wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Senatiasa dia tobat, lari dari dosa dan takut dengan Tuhannya sampai dia mati maka dia dimasukkan ke dalam surga Allah SWT.
Seperti Sayyidina Umar bin Khattab. Beliau seringkali menangis, dan bertanya oleh sahabat lain: Wahai Umar mengapa engkau menangis? Umar menjawab: Aku teringat dengan kesalahanku karena mengubur anak perempuanku hidup-hidup dan mati. Lalu, sayyidina Umar ketika mengingat itu menangis. Ingat suatu dosa apabila ditangisi maka itu akan menjadi pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT.
Selanjutnya tanda orang yang berdosa yang bertobat dan membaguskan tobatnya (benar dan diterima Allah SWT) adalah bahwa dia menjauhi kawan-kawannya yang jahat yang menjadi sumber kutukan Allah, menjauhi orang-orang yang menyebabkan dia mendapat percikan daripada laknatnya Allah.
Yang kedua, tanda orang yang bertobat dan membaguskan tobatnya itu bahwa dia mempersiapkan diri untuk kematian, apabila kita tidak mempersiapkan diri kepada kematian maka tentu kita akan mendapatkan kesusahan dan penderitaan.
Kematian itu dimulai dengan sakaratul maut, ada persiapan khusus yang diajarkan Rasulullah, menghadapi munkar dan nakir, dibangkit dari kubur menuju padang mahsyar yang sangat panas, juga ada persiapan khusus agar kita bisa terhindar dari panasnya saat itu, menghadapi timbangan amal dan sirat, semua ada persiapan-persiapan agar bisa selamat sampai ketujuan yaitu ke surga-Nya Allah.
Orang yang diterima Allah tentu dia mempersiapkan segala-galanya untuk menghadapi tantangan yang demikian tadi.
Yang ketiga, bersungguh-sungguh taat kepada Tuhan karena sebelumnya ia melewatkan diri dari ketaatan. Dahulu tidak salat, puasa dan bayar zakat, semua kemudian diqada (ditunaikan/bayar), ini adalah tanda orang yang taubatnya diterima oleh Allah.
Kemudian meminta halal dan ridha atas orang yang pernah dizalimi. Dahulu pernah menyakiti orang, mengambil hak orang, maka didatangi untuk meminta halal dan ridha. Bukan hanya sekadar menyesal, berhenti dan bercita-cita tidak membuat dosa lagi.
Banyak wali-wali Allah yang dahulunya jauh daripada taat, kemudian tobat dan membaguskan tobatnya.
Seperti Fudhail bin Iyadh yang dahulunya seorang perampok dan kemudian tobat dan membaguskan tobatnya maka jadilah dia wali yang besar. Utbah Al-Gulam dahulunya tenggelam di dalam kejahatan seperti minuman, perjudian, perempuan, dsb. lalu bertobat dan membaguskan tobatnya maka jadilah dia wali Allah.
Memperbuat dosa, maksiat tetapi setelah itu dia takut kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang seseorang dengan taat itu merasa aman dan merasa dirinya ahli surga, sombong dengan dirinya, itulah taat lebih hina daripada maksiat.
Jadi, taat itu yang dipandang Allah adalah isinya. Dosa juga yang dipandang Allah adalah isinya. Kenapa taat itu menjadi mulia? Karena isinya taat itu adalah Ubudiyah (kehambaan), kehambaan itu sama dengan kehinaan. Jadi, kalau kita berbuat taat lalu diri kita merasa menjadi hamba Allah dan merasa hina, berhajat kepada Allah, ini adalah taat-taat yang bermakna dan diterima di sisi Allah.
Kenapa maksiat/dosa itu menjadi musuh Allah dan merugikan kepada seseorang? Karena di dalam dosa itu ada ingkar kepada Allah, di dalam dosa itu ada kesombongan seorang hamba kepada Allah lalu dosa itu mendatangkan siksa. Jadi, sebenarnya bukan zahir dosa dan taatnya yang dipandang sebenarnya oleh Allah itu adalah isinya.
Berkata Imam Ahmad bin Attha’illah: "Maksiat tapi menimbulkan kehinaan dan keberhajatan kepada Allah lebih baik daripada taat yang menimbulkan kemuliaan dan kesombongan.”
Oleh Karena itu dikata orang: Orang jahil (tidak punya ilmu) tetapi dia tawadu’ dan merasa bodoh dan hina dirinya itu lebih baik daripada orang alim atau ahli ibadah yang sombong.
Ilmu itu bisa bermanfaat kalau membuahkan kehinaan diri kita, kebesaran Allah SWT. kalau punya ilmu banyak tetapi tidak membuahkan itu berarti tidak ada manfaatnya.
Inilah sebagian yang dimaksud daripada hikmah yang kesembilan puluh empat ini ternyata ada dosa yang dapat membawa kita ke surga. Dosa seperti apa? Dosa yang disesali, dosa yang menyebabkan kita sedih, merasa hina, itulah dosa yang membawa kita kepada keridhaan Allah SWT. ***
Editor : Arief