Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gelar Kurban ke Pelosok Pegunungan Meratus, MCI Bangun Ukhuwah dan Perkuat Akidah Mualaf Dayak

M Fadlan Zakiri • Minggu, 15 Juni 2025 | 04:32 WIB
BERDOA:Tim Mualaf Center Indonesia Wilayah Kalsel dan Dompet Qur’an menyalurkan hewan kurban di Desa Miulan, Pegunungan Meratus, HST, Ahad (8/6/2025).(foto:Dokumentas MCI Kalsel)
BERDOA:Tim Mualaf Center Indonesia Wilayah Kalsel dan Dompet Qur’an menyalurkan hewan kurban di Desa Miulan, Pegunungan Meratus, HST, Ahad (8/6/2025).(foto:Dokumentas MCI Kalsel)

BANJARBARU – Sebuah momen Idul Adha menjadi sangat berarti bagi para mualaf Suku Dayak di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan.

Di Desa Miulan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), satu ekor sapi disembelih oleh tim gabungan Mualaf Center Indonesia (MCI) Wilayah Kalsel dan Dompet Qur’an (DQ), Ahad (8/6/2025) atau bertepatan dengan hari Tasyrik kedua 1446 Hijriah.

Tak hanya membawa daging kurban, tim juga membawa harapan memperkuat akidah dan ukhuwah Islamiyah di wilayah yang masih kuat dengan kepercayaan adat.

"Kami fokus membina para mualaf Dayak Meratus di Desa Miulan, agar mereka bisa memahami Islam secara utuh. Qurban ini bagian dari penguatan itu," ujar Ns Azhar, Ketua MCI Wilayah Kalsel saat diwawancarai Sabtu (14/6/2025) siang.

MCI Wilayah Kalsel, kata Azhar memang telah beberapa tahun aktif mengirim dai ke desa-desa pelosok Pegunungan Meratus.

Fokusnya adalah pembinaan dasar agama Islam, mulai dari tata cara wudhu, salat, hingga ajaran akhlak dan fiqih sederhana.

Azhar berharap program seperti ini bisa berlanjut, bukan hanya saat Idul Adha.

"Kami butuh dukungan lebih. Mualaf di pegunungan ini bukan hanya butuh daging qurban, tapi juga akses pendidikan, Al Quran, dan pendampingan spiritual," harapnya.

Antusiasme warga terlihat jelas. Mahdalina, perwakilan mualaf Dayak, mengungkapkan rasa syukurnya.

"Kami sangat berterima kasih kepada MCI dan DQ. Ini bentuk kepedulian sesama muslim. Kami sangat menantikan program ini setiap tahun," ucapnya.

Diketahui sebelumnya, Desa Miulan senduri terletak sekitar 132 kilometer dari Banjarbaru, ibukota Provinsi Kalsel.

Jalan menuju desa itu sempit dan berbukit, melintasi lembah dan hutan. Tak heran jika akses dakwah dan bantuan seringkali terhambat.

"Kondisi masyarakat Miulan, terutama mualaf, masih banyak yang belum bisa baca-tulis. Pendidikan mereka rata-rata hanya sampai SD, sebagian SMP. Namun mereka mulai semangat belajar Islam," tambah Azhar.

Sebagian besar warga Desa Miulan masih memegang kepercayaan turun-temurun suku Dayak Pegunungan Meratus, seperti animisme dan ajaran Kaharingan.

Tradisi makan babi dan minum tuak pun masih menjadi budaya yang dilestarikan dalam ritual adat.

"Alhamdulillah, mualaf yang kami bina perlahan sudah meninggalkan itu. Tapi prosesnya panjang dan perlu kesabaran," tutur Ustadz Fathurrahim, dai pembina MCI di Pegunungan Meratus.

Program kurban kali ini menjadi momen spesial. Selain menjadi pengalaman pertama warga menyaksikan langsung penyembelihan hewan kurban secara syar’i, kedatangan MCI Kalsel di Desa Miulan ini juga sebagai ajang dakwah yang menyentuh hati.

"Daerah ini memang layak mendapatkan hewan kurban. Ini daerah rawan akidah. Daging sapi juga jadi sesuatu yang langka di sini. Qurban ini kami harap bisa menjadi perekat ukhuwah dan penguat akidah," pungkas Agung Heru Setiawan, pengurus MCI Pusat yang juga ikut dalam perjalanan ke pedalaman.

Editor : Fauzan Ridhani
#banjarbaru #mualaf center #kurban #Kabupaten Hulu Sungai Tengah #Dayak