Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ponpes Assalimin, Mercusuar Ilmu dan Iman di Kampung Sunyi di Kabupaten Tapin, Kolaborasi Metode Pendidikan Hadramaut dan Darussalam

Rasidi Fadli • Senin, 9 Juni 2025 | 10:02 WIB
RENCANA BANGUNAN: Desain bangunan Pondok Pesantren Assaalimin, Lokpaikat.(Foto:Ponpes Assaalimin)
RENCANA BANGUNAN: Desain bangunan Pondok Pesantren Assaalimin, Lokpaikat.(Foto:Ponpes Assaalimin)

RANTAU — Di balik sunyinya Kampung Balunan Haduk, Desa Lokpaikat, berdiri sebuah bangunan yang perlahan tumbuh menjadi mercusuar ilmu dan iman.

Namanya Pondok Pesantren Assaalimin. Lokasinya berada di Jalan Patinting, di atas lahan hibah seluas 15 ribu meter persegi yang kini menjadi tempat anak-anak menimba ilmu agama.

Ponpes ini didirikan pada 19 September 2020 oleh seorang ulama yang namanya mulai akrab di kalangan habaib dan ulama Kabupaten Tapin, KH Ruhuddin Andak,  kelahiran Lampung, 15 Agustus 1980.

“Ponpes ini hadir dari gagasan beberapa sahabat atas keresahan bersama tentang pentingnya lembaga dakwah yang kokoh berbasis pesantren,” tutur Guru Ruhuddin, belum lama tadi.

Ponpes Assaalimin berdiri di atas pijakan mazhab Syafi’i, beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan pemahaman Asy’ariyah sebagai ruh keilmuannya.

Tidak hanya sebagai tempat pendidikan, yayasan As-Salimiin yang menaunginya juga aktif di bidang sosial, ekonomi, hingga kemanusiaan.

Dengan semangat swadaya dan dukungan tokoh-tokoh ulama besar Banua, seperti KH Ahmad Barmawi (Guru Muda), almarhum KH Muhammad Ribuan Baseri (Guru Kapuh), almarhum KH Ahmad Zuhdiannoor, almarhum KH Asmuni (Guru Danau), Guru Nurdin, dan Habib Murad, pembangunan Ponpes ini dimulai dari peletakan batu pertama yang dibarengi peringatan Maulid Nabi.

“Banyak yang menawarkan hibah tanah, tapi hati saya belum mantap. Begitu lihat foto lokasi di Lokpaikat ini, langsung sreg. Tak pikir panjang, langsung kami garap,” kenangnya.

Pembangunan dimulai dari tiga rumah guru dan satu majelis yang separuhnya dijadikan asrama santri.

Kini, masjid Baitussalimin telah berdiri megah meski baru satu lantai yang selesai. Sementara, aktivitas belajar santri sementara berlangsung di dalam masjid.

“Sistem pelajaran kami kolaborasi antara metode Hadramaut dan Darussalam. Karena sebagian guru di sini alumni dua tempat itu,” jelasnya.

Hingga kini, jumlah santri sebanyak 29 orang, semuanya belajar tanpa dipungut biaya. Tenaga pengajarnya berjumlah 10 orang yang turut berdedikasi penuh di tengah keterbatasan fasilitas.

Hal yang paling menggugah adalah dukungan masyarakat sekitar yang begitu besar, bahkan rela jadi relawan tanpa diminta.

“Bahkan, untuk pembangunan masjid dan asrama, itu yang paling cepat dari yang kami duga. Alhamdulillah semua berjalan di luar rencana kami, lebih baik dari yang kami pikir,” ungkapnya.

Sumber dana pembangunan berasal dari masyarakat umum, berupa infak dan sedekah, tanpa sokongan tetap dari institusi besar.

Namun semangat gotong-royong membuat pondok ini terus berkembang.

Ke depan, KH Ruhuddin punya visi lebih besar. “Kami bercita-cita membuka Madrasah Tsanawiyah, agar pendidikan santri lebih terstruktur dan menjangkau lebih banyak anak-anak,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Assaalimin bukan sekadar bangunan, tapi juga menjadi lentera yang menyala dari tengah kampung sunyi.

Menjadi tanda bahwa cahaya ilmu bisa lahir dari mana saja, bahkan dari jalan kecil bernama Patinting.

Editor : Fauzan Ridhani
#sunyi #pondok pesantren #kabupaten tapin #kampung #Rantau