Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kementerian Agama Gagas Kurikulum Cinta, Apa Itu?

Zulqarnain RB • Kamis, 27 Februari 2025 | 15:52 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno. (Foto: Kemenag RI)
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno. (Foto: Kemenag RI)

JAKARTA - Kementerian Agama RI meluncurkan Kurikulum Cinta sebagai inisiatif baru dalam pendidikan agama dan keagamaan. Kurikulum ini bertujuan menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno menjelaskan Kurikulum Cinta dirancang untuk mengatasi fenomena intoleransi di kalangan pelajar. “Masih banyak pelajar yang menunjukkan sikap saling menyalahkan dan membenci karena perbedaan keyakinan,” ujarnya.

Baca Juga: Pasar Wadai Ramadan di Banjarmasin Sediakan Fasilitas Parkir Gratis

Kurikulum ini menekankan empat aspek utama. Pertama, cinta kepada Tuhan (hablum minallah). Kedua, cinta kepada sesama manusia (hablum minannas). Ketiga, kepedulian terhadap lingkungan (hablum bi’ah). Keempat, kecintaan terhadap bangsa (hubbul wathan).

Amien menyebut, kerusakan lingkungan dan hilangnya rasa nasionalisme menjadi sorotan utama. “Anak-anak harus disadarkan akan pentingnya menjaga bumi dan mencintai bangsanya,” tegasnya.

Baca Juga: Setelah Salurkan Rp 270 Juta, Baznas Tabalong Buka Kembali Donasi Palestina

Kurikulum Cinta tidak akan menjadi mata pelajaran baru. Nilai-nilai cinta dan toleransi akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.

Kementerian Agama telah menyiapkan buku panduan untuk membantu pendidik dalam mengimplementasikan kurikulum ini.

Strategi implementasi disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Di tingkat RA/PAUD, metode pembelajaran akan menggunakan permainan dan pembiasaan positif.

Baca Juga: Menteri Agama kepada Dai: Jangan Anti Kritik

Sementara di jenjang lebih tinggi, pendekatan berbasis pengalaman dan refleksi akan lebih ditekankan.

Amien menegaskan, keberhasilan kurikulum ini tidak hanya diukur dari aspek kognitif, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku peserta didik.

“Kita ingin membentuk individu yang ramah, humanis, nasionalis, dan peduli lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga: Satpol PP Tabalong Dilatih Komunikasi Humanis untuk Ubah Stigma Negatif

Sebagai langkah awal, Kementerian Agama akan melakukan pendampingan bagi pendidik dan menyiapkan instrumen evaluasi. Dukungan dari masyarakat dan pemangku kepentingan pendidikan juga sangat dibutuhkan.

Editor : Fauzan Ridhani
#Amien Suyitno #Kurikulum Cinta #kemenag ri #agama islam #Pendidikan