Dalam ajaran Islam, persatuan umat dan saling menghormati satu sama lain adalah nilai yang sangat ditekankan.
Nilai-nilai ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam sikap terhadap para wali Allah.
Para wali adalah hamba-hamba pilihan Allah yang memiliki kedekatan yang sangat tinggi dengan-Nya, namun sering kali keberadaan mereka disembunyikan dari umat Islam.
Baca Juga: Persiapan Sambut Man City, Real Madrid Sengaja Latihan Ini
Lantas, apa hikmah di balik itu? Mengapa Allah menyembunyikan status kewalian para hamba-Nya yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi?
Tentang Kewalian
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita bisa merujuk pemahaman soal kewalian sebagaimana disampaikan oleh Syekh Abul Qasim Ahmad bin Husain ibn Qassi al-Andalusi dalam kitabnya, Khal’un Na’lain wa Iqtibasun Nur min Maudhi’il Qadamain.
Dalam kitab tersebut, Syekh Abul Qasim mengutip pendapat Imam Ibnu Arabi mengenai berbagai jenis wali Allah dan bagaimana mereka memiliki peran yang berbeda-beda.
Imam Ibnu Arabi menjelaskan bahwa wali Allah terbagi menjadi beberapa tingkatan yang masing-masing memiliki tugas dan peran yang sangat penting.
Wali Qutub, misalnya, adalah pemimpin para wali yang hanya ada satu dalam setiap masa.
Selain itu, ada juga wali A’immah, yang bertugas sebagai pembantu wali Qutub dan menggantikan kedudukannya jika wali Qutub meninggal.
Ada wali Autad, yaitu kekasih Allah yang berjumlah empat orang, yang tersebar di empat penjuru mata angin dengan pusat di Ka’bah.
Wali Abdal, berjumlah tujuh orang, jika salah satu di antaranya meninggal, maka digantikan oleh yang lain.
Ada pula wali Nuqaba, yang bertugas menjaga hukum syariat, dan wali Nujaba, yang berjumlah delapan orang dalam setiap masanya.
Baca Juga: Program Bailang Pakacil Disdukcapil Kabupaten HSU Mudahkan Warga Terpencil Terima Layanan Adminduk
Selain itu, wali Hawariyyun adalah mereka yang menjadi pembela kebenaran, baik dengan argumen maupun dengan senjata.
Wali Rajabiyyun memiliki karamah yang tampak di bulan Rajab, dan wali Khatam adalah wali yang menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan umat Islam.
Meskipun para wali ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, mereka tidak selalu tampak atau dikenal oleh umat.
Bahkan, mereka cenderung mastur (tersembunyi), tidak menunjukkan status kewaliannya secara terang-terangan.
Menghormati Satu Sama Lain
Kiai Muhammad Zaini, salah seorang ulama karismatik asal Kalimantan Selatan, memberikan penjelasan tentang ini.
Dalam salah satu ceramahnya, Guru Sekumpul menyatakan bahwa penyembunyian wali Allah di kalangan umat Islam bertujuan agar umat Islam tetap saling menghormati dan berprasangka baik.
Baca Juga: Ombudsman RI: Efisiensi Anggaran Menjadi Tantangan, Pengawasan Jalan Terus
Guru Sekumpul memberikan analogi: ketika seorang suami dan istri bertemu di rumah, keduanya saling menghormati satu sama lain. Begitu juga dengan anak-anak kepada orang tua mereka.
Hal ini tercermin dalam satu kesamaan, yaitu sama-sama membaca syahadat, yang menjadi pengikat dalam hubungan mereka.
Dalam konteks ini, syahadat menjadi dasar yang menyatukan umat Islam, tanpa membedakan status atau kedudukan seseorang di hadapan Allah.
Keberadaan wali Allah yang tersembunyi justru mengajarkan kita untuk selalu menghormati setiap orang yang beriman, tanpa melihat seberapa tinggi kedudukan mereka di sisi Allah.
Kesimpulan
Penyembunyian kewalian para hamba Allah yang memiliki derajat tinggi adalah bagian dari kebijaksanaan Allah yang mendalam.
Hal ini mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam pemujaan berlebihan terhadap individu tertentu, melainkan selalu mengutamakan tauhid dan mendekatkan diri kepada Allah semata.
Baca Juga: Reakreditasi ULM Akhirnya Dilakukan, Ini Jadwal Penilaian BAN-PT
Selain itu, hal ini juga mengingatkan kita untuk saling menghormati sesama, tanpa melihat status atau kedudukan, serta fokus pada peningkatan iman dan amal saleh demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Editor : Fauzan Ridhani