Olahraga di Tengah Kabut Asap Karhutla, Apa Dampaknya bagi Tubuh?

Tia Lalita Novitri • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 13:31 WIB
BERKABUT: Jogging saat kabut asap berisiko memperparah asma dan membuat iritasi saluran pernapasan. (Foto: Ilustrasi)
BERKABUT: Jogging saat kabut asap berisiko memperparah asma dan membuat iritasi saluran pernapasan. (Foto: Ilustrasi)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM – Aktivitas olahraga di luar ruangan perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan periode 15–21 September 2026 menyebut kondisi atmosfer yang relatif kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi karhutla dan meluasnya asap.

Di tengah kondisi tersebut, olahraga outdoor seperti jogging, bersepeda atau bermain olahraga di lapangan dapat meningkatkan paparan terhadap polutan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa penyesuaian waktu, lokasi dan aktivitas fisik dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan polusi udara.

Berikut sejumlah dampak yang perlu diperhatikan:

1. Lebih Banyak Polutan yang Masuk ke Tubuh

Saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen. Pernapasan pun menjadi lebih cepat dan dalam dibandingkan ketika sedang beristirahat.

Jika aktivitas dilakukan di tengah udara yang tercemar asap karhutla, peningkatan frekuensi pernapasan tersebut dapat membuat seseorang menghirup lebih banyak udara dari lingkungan. Artinya, paparan terhadap polutan di udara juga dapat meningkat.

Karena itu, WHO menyarankan penyesuaian aktivitas fisik berdasarkan tingkat paparan polusi, termasuk mempertimbangkan waktu dan lokasi olahraga.

2. Memicu Batuk dan Iritasi Saluran Pernapasan

Asap kebakaran mengandung partikel dan berbagai polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah partikulat halus PM2.5 yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

WHO menyebut paparan partikulat dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, infeksi saluran pernapasan dan memperburuk asma. Sementara asap kebakaran juga dapat menyebabkan iritasi pada mata serta saluran pernapasan.

3. Dapat Memperburuk Asma dan Penyakit Paru

Bagi orang yang memiliki asma atau penyakit paru lainnya, berolahraga di tengah udara berasap perlu mendapat perhatian lebih.

Paparan asap dapat memperburuk gejala seperti batuk, sesak napas dan napas berbunyi. WHO mencatat asap kebakaran dapat memperburuk asma dan menurunkan fungsi paru, dengan risiko yang lebih besar pada kelompok tertentu.

Karena itu, orang dengan penyakit pernapasan sebaiknya lebih berhati-hati dan mempertimbangkan untuk mengurangi atau memindahkan aktivitas fisik ke tempat dengan kualitas udara yang lebih baik ketika polusi meningkat.

4. Menambah Beban pada Sistem Kardiovaskular

Dampak polusi udara tidak hanya berkaitan dengan paru-paru. Partikel halus dari polusi udara juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.

WHO menyebut paparan PM2.5 dalam jangka pendek maupun panjang berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Hal ini menjadi perhatian terutama bagi orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular. Keluhan seperti nyeri dada, sesak yang tidak biasa atau pusing ketika berolahraga sebaiknya tidak diabaikan.

5. Olahraga dapat Terasa Lebih Berat

Udara yang tercemar dapat membuat aktivitas fisik terasa kurang nyaman, terutama ketika tubuh harus bekerja lebih keras untuk bernapas.

Batuk, tenggorokan terasa mengganjal atau sesak dapat membuat seseorang lebih cepat menghentikan aktivitas. Kondisi ini bukan berarti olahraga harus selalu dihentikan ketika terdapat polusi, tetapi tingkat paparan perlu menjadi salah satu pertimbangan sebelum menentukan intensitas dan lokasi olahraga.

WHO juga menekankan pentingnya menyesuaikan aktivitas fisik dengan tingkat paparan polusi udara.

6. Paparan Berulang dapat Meningkatkan Risiko Kesehatan

Yang perlu diperhatikan bukan hanya paparan selama satu kali olahraga. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang mengalami kabut asap berulang, paparan polutan dapat terjadi berkali-kali dalam periode tertentu.

WHO menyebut paparan jangka panjang terhadap PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker paru.

Karena itu, mengurangi paparan ketika kualitas udara sedang buruk menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.

7. Pertimbangkan Olahraga di Dalam Ruangan

Menjaga tubuh tetap aktif tetap penting. Namun, ketika kualitas udara di luar ruangan memburuk, olahraga dapat dialihkan ke dalam ruangan dengan kondisi udara yang lebih baik.

Aktivitas seperti peregangan, latihan kekuatan ringan atau olahraga lainnya dapat menjadi alternatif. Jika tetap ingin berolahraga di luar, perhatikan informasi kualitas udara dan pertimbangkan waktu serta lokasi dengan tingkat paparan yang lebih rendah.

Editor : Tia Lalita Novitri
tidak sehat karhutla asap Olahraga Kebakaran