RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Keberadaan satwa khas Kalimantan Selatan, Bekantan, ternyata masih cukup mudah ditemukan di sejumlah wilayah Kabupaten Kotabaru.
Primata dengan ciri khas hidung panjang tersebut bahkan tidak jarang terlihat menyeberangi jalan raya.
Kondisi ini menjadi pemandangan menarik sekaligus mengundang kekhawatiran, terutama karena habitat bekantan berada tidak jauh dari kawasan permukiman dan jalur lalu lintas masyarakat.
Beberapa kali ditemukan keberadaan bekantan ketika melintas di sejumlah wilayah Kotabaru. Terbaru, kawanan bekantan kembali terlihat saat melintas dari arah Tegal Rejo, Kecamatan Kelumpang Hilir, menuju Pelabuhan Feri Tarjun, Selasa (25/8).
Saat perjalanan, seekor bekantan tiba-tiba terlihat menyeberangi badan jalan. Satwa tersebut tampak cukup besar dengan ukuran tubuh yang diperkirakan mencapai sekitar 30 hingga 35 kilogram.
Kemunculan itu membuat perjalanan sejenak terhenti. Tak jauh dari badan jalan, ternyata masih terdapat beberapa ekor bekantan lainnya. Mereka terlihat berada di kawasan semak belukar dan pepohonan kecil yang berada di sekitar jalur tersebut.
Kawanan bekantan itu tampak bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya. Sebagian lainnya terlihat berada di sekitar semak, sebelum kembali masuk ke kawasan yang lebih rimbun.
Keberadaan bekantan yang cukup dekat dengan jalan raya menunjukkan bahwa habitat satwa tersebut masih dapat dijumpai di sejumlah kawasan Kotabaru.
Nasarudin, salah seorang warga Kotabaru yang kebetulan melintas di lokasi, mengatakan keberadaan bekantan di daerah tersebut bukan sesuatu yang baru.
Menurutnya, masyarakat memang cukup sering melihat bekantan di sejumlah wilayah Kotabaru, terutama kawasan yang masih memiliki vegetasi dan berada dekat dengan pesisir.
“Memang banyak ditemukan di Kotabaru. Apalagi kalau di daerah Sragen dan Tanjung Serdang, sering terlihat di pinggir laut,” ujarnya.
Menurutnya, bekantan bahkan terkadang terlihat mendekati kawasan permukiman warga.
Di wilayah Stagen Pulau Laut Utara, misalnya, pernah ada bekantan yang terlihat sampai naik ke atas atap rumah warga.
Meski demikian, sejauh ini keberadaan bekantan tersebut dinilai tidak sampai menimbulkan gangguan serius bagi masyarakat.
“Sejauh ini bekantan ini tidak mengganggu masyarakat. Tapi paling kita yang perlu hati-hati, siapa tahu mereka ada menyeberang jalan dan bisa tertabrak,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena bekantan merupakan satwa liar yang pergerakannya tidak mengenal batas jalan maupun permukiman.
Ketika mencari makanan atau berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya, bekantan dapat saja menyeberangi jalan yang menjadi jalur lalu lintas kendaraan.
Jika pengendara tidak waspada, kemunculan satwa secara tiba-tiba berpotensi menyebabkan kecelakaan. Bukan hanya membahayakan bekantan, tetapi juga pengendara yang melintas.
Dari penelusuran Radar Banjarmasin di sejumlah lokasi, keberadaan bekantan di Kotabaru banyak ditemukan di kawasan pesisir.
Terutama wilayah yang masih memiliki kawasan hutan mangrove serta tumbuhan rambai yang menjadi salah satu bagian penting dari habitat dan sumber pakan bekantan.
Kawasan pesisir Kotabaru yang masih memiliki vegetasi alami menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis satwa, termasuk bekantan.
Karena itu, keberadaan bekantan yang masih dapat dijumpai dengan mudah sebenarnya menjadi gambaran bahwa sebagian kawasan pesisir Kotabaru masih menyimpan ekosistem yang cukup penting.
Namun di sisi lain, kemunculan bekantan di jalan raya juga menjadi pengingat agar masyarakat tidak hanya menjadikan satwa tersebut sebagai tontonan.
Pengendara yang menemukan bekantan menyeberang jalan diharapkan mengurangi kecepatan dan memberikan ruang bagi satwa tersebut untuk melintas dengan aman.
Masyarakat juga diharapkan tidak mengejar, menangkap, memberi makan, maupun mengganggu kawanan bekantan ketika ditemukan di sekitar jalan atau permukiman.
Dengan habitat yang tetap terjaga dan masyarakat ikut berhati-hati, keberadaan bekantan di Kotabaru diharapkan tetap menjadi bagian dari kekayaan alam daerah yang dapat terus dilihat generasi mendatang.
Editor : M Oscar Fraby