Pagelaran Wayang Kulit Banjar di Siring Laut, Obati Kerinduan Warga Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 09:10 WIB
WARISAN BUDAYA: Pagelaran Wayang Kulit Banjar yang berlangsung di Siring Laut Kotabaru, Sabtu (8/8/2026) malam.(Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin)
WARISAN BUDAYA: Pagelaran Wayang Kulit Banjar yang berlangsung di Siring Laut Kotabaru, Sabtu (8/8/2026) malam.(Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Kerinduan warga Kotabaru terhadap kesenian tradisional seolah terobati.

Pertunjukan Wayang Kulit Banjar yang digelar di kawasan wisata Siring Laut Kotabaru, Sabtu (8/8/2026) malam, sukses menyedot perhatian masyarakat hingga tengah malam.

Pertunjukan teater bayang-bayang tradisional itu dihadirkan Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru (DKKK) yang diketuai Ahmad Fitriadi. 

Pementasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, sekaligus upaya menghidupkan kembali kesenian warisan leluhur di tengah derasnya perkembangan zaman.

Pantauan Radar Banjarmasin di lokasi, Sabtu sekitar pukul 23.30 WITA, kawasan Siring Laut di Kelurahan Kotabaru Tengah masih dipadati penonton.

Suasana malam semakin terasa khas. Alunan gamelan Banjar berpadu dengan deburan ombak laut, menciptakan suasana pertunjukan yang berbeda. Warga duduk menyaksikan setiap adegan yang dimainkan sang dalang.

Menariknya, penonton yang hadir tidak hanya didominasi kaum tua yang ingin bernostalgia dengan hiburan masa lalu. Para anak muda juga terlihat antusias mengikuti jalannya pertunjukan.

Kondisi tersebut menjadi pemandangan menarik. Sebab, kesenian tradisional yang kerap dianggap hanya diminati generasi tua justru mampu menarik perhatian generasi muda ketika dipentaskan di ruang publik seperti Siring Laut Kotabaru.

Ahmad Fitriadi, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang menonton. Menurutnya, pementasan Wayang Kulit Banjar merupakan bagian dari komitmen Dewan Kesenian untuk menjaga, merawat, sekaligus menghidupkan kembali akar tradisi masyarakat di Bumi Saijaan.

Upaya tersebut dinilai penting agar kesenian daerah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

Dalam pagelaran ini penonton disuguhi lakon “Raden Anggada Bulik” yang dimainkan dalang Ufuk Berangas. Meski usianya telah menginjak 83 tahun, sang dalang masih piawai memainkan wayang, sekaligus membangun suasana cerita di hadapan penonton.

Pementasan didukung 12 pemusik atau nayaga. Cerita mengangkat perselisihan di Kerajaan Prabu Dasamuka yang kemudian berujung pada peperangan di Negeri Pancawati.

Di balik kisah peperangan tersebut, terselip pesan moral mengenai pentingnya menjaga persatuan, keamanan, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu dinilai tetap relevan untuk disampaikan kepada masyarakat, termasuk generasi muda.

Wayang Kulit Banjar sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dengan wayang Jawa. Salah satu ciri khasnya terlihat dari ukuran figur wayang yang relatif lebih kecil.

Pertunjukan juga dibawakan menggunakan bahasa Banjar dan diiringi berbagai alat musik tradisional, seperti sarun, kanung, dawu, babun, agung, hingga kangsi.

Tak hanya berfungsi sebagai hiburan, Wayang Kulit Banjar secara turun-temurun juga menjadi media penyampaian nilai-nilai moral.

Dalam tradisi tertentu, kesenian ini bahkan berkaitan dengan fungsi ritual pengobatan yang dikenal dengan Wayang Sampir atau Tatamba.

Bagi sebagian penonton, pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan malam. Ada kenangan lama yang kembali hadir ketika melihat bayang-bayang wayang bergerak di balik layar.

Salah satunya Yorri Lutfi (26), salah seorang penonton, mengaku pertunjukan tersebut membawanya kembali ke masa kecil ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Menurutnya, langkah Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru menghadirkan Wayang Kulit Banjar di ruang publik seperti Siring Laut merupakan terobosan yang patut diapresiasi.

Baginya, budaya daerah tidak cukup hanya dikenalkan melalui media sosial. Kesenian tradisional harus tetap diberi ruang untuk tampil, ditonton, dan dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama generasi muda.

“Pertunjukan seperti ini mengingatkan kembali bahwa kita punya budaya yang harus dijaga. Anak muda juga perlu diberi kesempatan untuk mengenalnya secara langsung,” ujarnya.

Editor : Fauzan Ridhani
Warisan budaya wayang jawa siring laut kotabaru Wayang Kulit Banjar dewan kesenian