RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Membengkaknya modal tanam akibat mahalnya harga pestisida kimia kerap menjadi beban berat bagi para petani di Kabupaten Balangan. Keresahan ini akhirnya memicu lahirnya sebuah solusi berupa perangkat pengendali serangga ramah lingkungan bernama Ecoguard Light Trap.
Selama ini, para petani padi, jagung, hingga cabai sangat bergantung pada semprotan cairan kimia untuk mengamankan kebun mereka dari serangan hama. Padahal, paparan bahan kimia buatan pabrik yang berlebihan dalam jangka panjang justru akan merusak kesuburan tanah.
Merespons kondisi tersebut, perangkat perangkap hama berbasis cahaya ultraviolet ini hadir untuk mengubah kebiasaan lama. Alat ini bekerja cukup sederhana, yakni memancing serangga untuk terbang mendekati cahaya, lalu menjebaknya ke dalam wadah berisi genangan air sabun.
Menariknya, perangkap ini sama sekali tidak membebani tagihan listrik warga desa karena sepenuhnya dihidupkan menggunakan tenaga surya. Dilengkapi dengan sensor otomatis, lampu ultraviolet akan menyala dengan sendirinya saat malam tiba dan langsung padam ketika fajar menyingsing.
Berdasarkan uji coba di lapangan, alat ini terbukti ampuh menekan populasi hama terbang secara drastis dan menyelamatkan petani dari ancaman gagal panen yang biasanya bisa menggerus hasil produksi hingga lima puluh persen.
"Ecoguard Light Trap dirancang agar petani memiliki alternatif pengendalian hama yang lebih aman, hemat biaya, dan mudah digunakan. Harapan kami, inovasi ini dapat membantu meningkatkan hasil panen dan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia," ujar salah satu perancang alat, M Rizky Fadillah Zumadi Lubis, Kamis (30/7).
Rizky memaparkan bahwa keberhasilan alat itu menekan serangga perusak hingga puluhan persen adalah bukti nyata bahwa praktik pertanian yang murah dan sehat sangat mungkin diterapkan.
"Selain untuk petani, inovasi ini ke depannya juga membuka peluang tumbuhnya usaha perakitan alat pertanian," pungkasnya.
Jika perangkat perangkap hama tenaga surya ini kelak bisa diproduksi secara massal dan didukung penuh oleh pemerintah daerah, bukan tidak mungkin Balangan akan segera menjadi sentra percontohan pertanian organik mandiri. Tantangan terdekatnya kini adalah menjaga agar harga jual alat tersebut tetap murah dan mudah dijangkau oleh kantong para petani kecil.
Editor : M Oscar Fraby