RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Nilai ekspor belut hidup asal Kalimantan Selatan melonjak tajam sepanjang Januari–Juli 2026.
Dalam tujuh bulan, komoditas perikanan dari kawasan rawa itu menghasilkan devisa sebesar Rp10,14 miliar.
Angka tersebut didorong semakin efisiennya pengiriman setelah dibukanya penerbangan kargo langsung Banjarmasin–Tiongkok.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan Erwin A M Dabukke mengatakan, salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan ekspor ialah tersedianya jalur penerbangan kargo langsung menuju Tiongkok.
Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Kalimantan Selatan mencatat, selama periode tersebut telah dilakukan 72 kali pengiriman belut hidup ke Tiongkok. Total volume ekspor mencapai 1,4 juta ekor atau sekitar 205,6 ton.
“Capaian itu meningkat signifikan dibandingkan periode 2025. Saat itu, ekspor belut hidup dari Kalsel baru tercatat 17 kali pengiriman dengan nilai Rp1,92 miliar,” ungkap Erwin dalam keterangan resminya, Kamis (30/7) siang.
Jika dibandingkan, nilai ekspor tahun ini telah meningkat lebih dari lima kali lipat, sementara frekuensi pengiriman juga melonjak lebih dari empat kali.
“Kenaikan ini menunjukkan permintaan pasar yang terus tumbuh sekaligus meningkatnya kemampuan pelaku usaha daerah memenuhi kebutuhan ekspor,” kata Erwin.
Sebelumnya, komoditas ekspor dari Kalsel harus dikirim lebih dulu ke Jakarta atau Surabaya sebelum diterbangkan ke negara tujuan.
Kondisi itu membuat rantai distribusi lebih panjang dan waktu pengiriman lebih lama.
"Rantai logistik jadi lebih pendek. Kualitas belut lebih terjaga karena waktu tempuh lebih singkat," ungkap Erwin.
Waktu pengiriman yang lebih cepat, jelas Erwin, menjadi keuntungan penting bagi komoditas belut hidup.
Semakin singkat proses distribusi, semakin besar peluang belut tiba dalam kondisi prima sehingga memenuhi standar pasar internasional.
Tidak hanya itu, menurutnya efisiensi logistik ini juga memberi nilai tambah bagi pelaku usaha.
“Selain memangkas waktu distribusi, biaya operasional berpotensi lebih efisien sehingga daya saing produk asal Kalimantan Selatan semakin kuat di pasar ekspor,” tegasnya.
Meski permintaan terus meningkat, seluruh belut hidup yang akan diekspor tetap wajib melalui proses karantina.
“Tahapan ini menjadi syarat utama agar komoditas dapat diterima negara tujuan,” lugas Erwin
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Ikan Badan Karantina Indonesia, Sugeng Sudiarto mengatakan, setiap belut hidup harus dipastikan sehat dan bebas dari hama maupun penyakit ikan sebelum diberangkatkan.
"Belut hidup yang diekspor harus diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas hama penyakit ikan. Ini bukan hanya syarat negara tujuan, tapi juga untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia," katanya.
Selain pemeriksaan kesehatan, petugas karantina juga mendampingi eksportir dalam pengurusan dokumen, pemeriksaan media pembawa hingga penerbitan sertifikat kesehatan.
Langkah tersebut bertujuan memperlancar proses ekspor sekaligus memastikan seluruh persyaratan negara tujuan terpenuhi.
Dari sisi sumber daya, Kalimantan Selatan dinilai memiliki modal besar untuk terus mengembangkan ekspor belut.
Kawasan rawa dan lahan basah yang luas menjadikan provinsi ini sebagai salah satu sentra penghasil belut alam di Indonesia.
Potensi tersebut membuka peluang terbentuknya rantai ekonomi yang lebih panjang. Mulai dari nelayan atau pencari belut, pengepul, pelaku budidaya, perusahaan eksportir hingga sektor jasa logistik.
“Semakin besar volume ekspor, semakin luas pula peluang peningkatan pendapatan masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut,” imbuhnya.
Erwin menilai keberlanjutan ekspor sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak menjaga kualitas produk.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha dan karantina menjadi faktor penting agar belut asal Kalimantan Selatan tetap dipercaya pasar internasional.
"Kalau mutu terjaga, daya saing belut Kalsel di pasar global akan semakin kuat," ujarnya.
Sugeng menambahkan, belut hidup bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi juga memiliki nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Menurutnya, semakin terbuka akses pasar internasional, semakin besar pula peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam rantai usaha perikanan.
"Ini soal nilai tambah sumber daya perikanan Indonesia, memperluas pasar, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah," pungkasnya.
Editor : Arif Subekti