Puja Mandela Rilis "Batulicin", Lagu tentang Kenangan dan Kota yang Terus Tumbuh

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 14:34 WIB
LAGU: Musisi dan jurnalis Puja Mandela merilis lagu folk berjudul "Batulicin" yang mengangkat kenangan tentang kota tempat ia tumbuh. (Foto: Puja Mandela untuk Radar Banjarmasin)
LAGU: Musisi dan jurnalis Puja Mandela merilis lagu folk berjudul "Batulicin" yang mengangkat kenangan tentang kota tempat ia tumbuh. (Foto: Puja Mandela untuk Radar Banjarmasin)

 RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin – Musisi dan jurnalis Puja Mandela merilis "Batulicin", lagu folk yang merekam kenangan tentang kota yang membesarkannya melalui fragmen kehidupan sehari-hari.

Lagu ini memuat potongan kehidupan sejak era 1990-an: panggung musik anak muda, rental PlayStation bertarif Rp2.000 per jam, aroma laut, jalan berlumpur saat hujan, debu pada musim kemarau, para perantau yang datang membawa harapan, hingga dua insan yang kembali bertemu di dermaga.

"Batulicin mungkin bukan tempat paling nyaman untuk tinggal, tapi ia sudah menjadi kota kecil yang menghidupi dan terus tumbuh hingga hari ini," ujar Puja Mandela.

Bagi pria kelahiran Banjarmasin, 13 April 1989, Batulicin menjadi tempat yang membentuk sebagian besar perjalanan hidupnya.

Salah satu lokasi yang paling berkesan ialah Pasar Lama Batulicin, tempat almarhum ibunya dilahirkan dan dibesarkan. Kawasan itu menjadi bagian dari masa kecil, kehidupan keluarga, persahabatan, dan pengalaman yang kemudian melahirkan lagu ini.

Penulis buku esai Tak Semua Hal Harus Masuk Akal itu memainkan gitar, harmonika, dan vokal. Rekaman, mixing, dan mastering dikerjakan oleh Prima Yuda Prawira. Seluruh proses produksi selesai dalam waktu sekitar tiga jam.

Alih-alih meromantisasi kampung halaman, "Batulicin" merekam kota sebagaimana adanya. Kota ini tidak digambarkan sebagai tempat yang sempurna, melainkan ruang hidup yang membentuk orang-orang di dalamnya.

Lirik lagu disusun seperti rangkaian adegan. Hampir setiap bait menghadirkan peristiwa baru sehingga cerita bergerak dari satu kenangan ke kenangan berikutnya.

Baris, "Setengah lima/di samping jendela/ibu memasak/ayah di mana?" menjadi salah satu contohnya. Empat baris itu memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan kisah di baliknya.

Tidak ada pengulangan bait hingga bagian akhir lagu. Repetisi baru muncul pada penutup melalui kalimat, "Di Batulicin, kita bertemu," yang menjadi penanda akhir cerita.

Melalui lagu ini, Puja tidak hanya bercerita tentang Batulicin, tetapi juga tentang pengalaman yang dialami banyak orang: tumbuh, pergi, pulang, dan mengenang.

Ia berharap "Batulicin" dapat mengajak pendengar mengingat kampung halaman, masa muda, dan orang-orang yang pernah memberi arti dalam hidup mereka.

"Batulicin" kini tersedia di Spotify, YouTube Music, Apple Music, dan platform streaming digital lainnya. Video musiknya juga dapat disaksikan melalui kanal Puja Mandela Official di YouTube.

Editor : Arif Subekti
merilis lagu batulicin mengangkat tema kenangan Tanah Bumbu