Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Antropolog ULM: Film Pesta Babi jadi Arsip Tandingan Dominasi Narasi Humas Pemerintah dan Korporasi

M Fadlan Zakiri • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:45 WIB
BERI KOMENTAR: Antropolog ULM, Nasrullah menyampaikan pandangannya usai menghadiri nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Banjarbaru, Jumat (22/5/2026).(Foto: Fadlan Zakiri/Radar Banjarmasin)
BERI KOMENTAR: Antropolog ULM, Nasrullah menyampaikan pandangannya usai menghadiri nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Banjarbaru, Jumat (22/5/2026).(Foto: Fadlan Zakiri/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  BANJARBARU - Gelombang nonton bareng (nobar) film dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ dinilai bukan sekadar ruang hiburan alternatif. 

Di balik layar pemutaran film itu, muncul ruang kritik sosial, laboratorium diskusi publik, hingga upaya menyelamatkan memori kolektif lewat dokumentasi visual.

Pandangan itu disampaikan Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah usai menghadiri pemutaran dan diskusi film dokumenter tersebut di Banjarbaru, Jumat (22/5/2026) petang.

Menurut Nasrullah, film dokumenter independen seperti karya WatchDoC memiliki posisi penting sebagai penyeimbang di tengah dominasi narasi yang diproduksi Pemerintah maupun korporasi.

Ia menyebut film dokumenter semacam ini berfungsi sebagai counter-archive atau arsip tandingan terhadap realitas yang selama ini jarang muncul ke ruang publik.

“Kalau humas kan yang ditampilkan selalu yang seremonial, yang bagus-bagus saja. Melalui film dokumenter, kita melihat ada realitas lain yang tidak tersampaikan,” tegasnya.

Bagi Nasrullah, kekuatan film dokumenter tidak hanya terletak pada visual atau cerita, tetapi juga kemampuannya merekam sisi-sisi sosial yang sering luput dari pemberitaan formal.

Ia menilai fenomena nobar juga menghadirkan perubahan menarik terhadap pola konsumsi media masyarakat modern yang kini didominasi video singkat dan budaya menggulir layar tanpa henti.

“Biasanya kita menikmati sesuatu cuma hitungan detik. Tapi film ini ditonton sampai 90 menit. Jadi sebenarnya nobar hari ini itu anti-scrolling,” ujarnya.

Menurut dia, masyarakat diajak kembali membangun fokus, menyimak persoalan secara utuh, lalu mendiskusikannya secara kritis bersama-sama.

Karena itu, Nasrullah menilai sesi diskusi setelah pemutaran film justru menjadi bagian paling penting dalam kegiatan nobar.

“Pengalaman menonton harus dilekatkan dengan ruang kritis membicarakan isi tayangan agar menghasilkan nilai akademis yang kuat,” katanya.

Dalam pandangannya sebagai antropolog, film Pesta Babi berhasil memotret bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) bekerja di wilayah adat Papua Selatan.

Salah satu adegan yang menurutnya paling kuat adalah visual ekskavator proyek yang dijaga aparat bersenjata.

“Kita melihat ada ekskavator dan di atasnya ada tentara. Itu simbol bagaimana industri atau korporasi dibackup militer. Ini kritik terhadap Pemerintah dan memperlihatkan sulitnya keberpihakan terhadap masyarakat,” cetusnya.

Menurut Nasrullah, visual tersebut mematahkan anggapan lama bahwa wilayah pedalaman selalu aman dari eksploitasi kepentingan industri maupun negara.

Ia juga menyoroti makna filosofis dari judul Pesta Babi yang dinilai merepresentasikan solidaritas masyarakat adat dalam menjaga ruang hidup dan ekosistem mereka.

Di sisi lain, Nasrullah turut menanggapi dinamika pembatasan hingga pembubaran nobar yang sempat terjadi di sejumlah daerah.

Menurutnya, respons terhadap sebuah film dokumenter seharusnya tidak dilakukan lewat pelarangan, melainkan melalui karya tandingan yang menawarkan perspektif berbeda.

Ia mencontohkan bagaimana negara seperti Iran menggunakan film sebagai alat pertarungan narasi geopolitik terhadap Amerika Serikat.

“Iran itu bukan cuma melawan dengan drone atau rudal, tapi juga lewat film. Jadi kalau ada yang tidak setuju dengan film ini, mestinya membuat film tandingan juga,” ujarnya.

Nasrullah menilai ruang publik yang sehat seharusnya memberi kesempatan berbagai narasi hadir dan diperdebatkan secara terbuka, bukan dibungkam.

“Kita ingin melihat bagaimana film tandingan itu muncul,” pungkasnya.

Editor : Fauzan Ridhani
#Universitas Lambung Mangkurat (ULM) #Pesta Babi #antropolog ULM #banjarbaru #nonton bareng