Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Band di HSS Ini Dibentuk Gegara Takut Kiamat Datang

M Padil Ihsan • Kamis, 7 Mei 2026 | 09:16 WIB
Band Camaraderi saat tampil dalam sebuah pertunjukan musik. (Dokumen Band Camaraderie)
Band Camaraderi saat tampil dalam sebuah pertunjukan musik. (Dokumen Band Camaraderie)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Grup band lokal di daerah umumnya identik dengan membawakan lagu cover dari musisi lain. Namun berbeda dengan Camaraderie, band asal Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang memilih jalur berkarya lewat lagu-lagu ciptaan sendiri.

Camaraderie lahir dari keresahan para personelnya saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2021. Situasi yang penuh ketidakpastian saat itu menjadi titik awal terbentuknya band ini.

Vokalis Camaraderie, Rahmaniardi Aditya, mengatakan bahwa band tersebut terbentuk dari kegelisahan mereka sebagai pekerja di tengah pandemi.

“Band Camaraderie ini lahir dari keresahan kami sebagai pekerja saat Covid-19 melanda tahun 2021 lalu,” ujar pria yang akrab disapa Adit itu.

Ia menambahkan, bahwa kondisi pandemi sempat membuat mereka berpikir situasi akan semakin memburuk, hingga memunculkan dorongan untuk segera berkarya.

“Kami menganggap dunia ini akan kiamat saat Covid-19 itu, dan kami berpikir jangan mati dulu sebelum ngeband, sehingga kami bentuk band ini dengan lagu pertama yang kami ciptakan mengarah kepada keresahan Covid-19,” paparny.

Dari situlah lahir lagu pertama mereka yang berjudul Re-Define, yang menjadi penanda awal perjalanan Camaraderie di dunia musik.

Nama “Camaraderie” sendiri diambil dari bahasa Perancis yang berarti persahabatan. Nama tersebut mencerminkan kebersamaan para personel yang memiliki tujuan yang sama dalam bermusik.

“Camaraderie kami ambil dari bahasa Perancis berarti sekumpulan kawan yang mempunyai tujuan sama,” tutur Adit.

Sejak awal terbentuknya, Camaraderie beranggotakan empat personel, yakni Kiki dan Risfi pada gitar, Nanda sebagai drummer, serta Adit yang saat itu juga memainkan bass sekaligus menjadi vokalis. Seiring berjalannya waktu, mereka menambah satu personel baru, Rizqan, yang kini mengisi posisi bass, sehingga Adit dapat lebih fokus sebagai vokalis.

Memasuki lima tahun perjalanan bermusik, Camaraderie telah menciptakan delapan lagu. Di antaranya berjudul Re-Define, Wake Up, Memografia, Curse and Grace, Overtime, Parafrasa, serta lagu terbaru mereka Twentytwelve yang dirilis pada 2 Mei 2026.

Dalam bermusik, Camaraderie mengusung genre hybrid, yakni perpaduan berbagai referensi musik dari masing-masing personel yang kemudian disatukan menjadi ciri khas mereka.

“Berasal dari referensi masing-masing personel, sehingga kami satukan menjadi genre lagu yang hybrid,” ujar Adit.

Lagu-lagu yang mereka ciptakan pun tidak berfokus pada tema percintaan, melainkan lebih pada gambaran kebiasaan dan dinamika kehidupan sehari-hari, seperti kelelahan, kebosanan, hingga pergulatan diri.

Pada lagu kedelapan mereka yang berjudul Twentytwelve, Camaraderie mengangkat cerita tentang perjalanan seseorang yang sedang berdamai dengan masa lalu, sekaligus menyampaikan pesan bahwa melepaskan tidak selalu berarti kehilangan sepenuhnya.

“Dengan rilisnya lagu terbaru kami ini menandakan bahwa kami tidak berhenti, dan kami akan terus fokus pada misi besar kami untuk mencari tau sejauh apa kami akan mengatasi segala keterbatasan di depan,” pungkasnya.

 

Editor : M Oscar Fraby
#COVID-19 #band #hulu sungai selatan