RANTAU – Senyum para petani cabai di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, mulai merekah. Harga cabai yang stabil tinggi di kisaran Rp100 ribu per kilogram, menjadi angin segar di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat musim tanam.
Junaidi, salah satu petani cabai setempat, mengungkapkan bahwa harga saat ini masih bertahan di angka Rp100 ribu per kilogram di tingkat petani.
Kondisi tersebut dinilai sangat menguntungkan, terlebih momen menjelang hari raya lalu.
“Alhamdulillah, harga cabai ini sangat membantu. Kami anggap ini seperti THR bagi petani,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Meski harga terbilang tinggi, Junaidi menjelaskan ada sejumlah faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut. Di antaranya keterbatasan bahan baku serta kendala saat musim penghujan sebelumnya, yang berdampak pada produksi.
Untuk proses tanam sendiri, petani di Desa Hiyung masih mengandalkan metode tradisional, yakni menggunakan mulsa dari rumput yang tersedia di sekitar lahan.
Hingga saat ini, progres penanaman baru mencapai sekitar 20 persen dari total rencana luas tanam tahun 2026 yang mencapai 139 hektare.
“Kami masih bertahap, belum semua tertanam. Sekarang baru sekitar 20 persen,” jelasnya.
Di sisi lain, kendala juga masih dirasakan petani, terutama pada tahap pembibitan. Bibit cabai kerap mengalami kerusakan, yang berpotensi menghambat percepatan tanam.
“Kendala paling sering itu di pembibitan. Kadang bibit rusak, jadi harus mengulang lagi,” tambahnya.
Meski demikian, ia memastikan kondisi cuaca saat ini tidak terlalu berpengaruh terhadap proses tanam. Para petani tetap optimistis dapat mengejar target tanam hingga seluruh lahan terealisasi.
Jika tidak ada hambatan berarti, panen raya cabai Hiyung diperkirakan akan berlangsung pada September hingga Oktober mendatang.
Dengan harga yang masih menjanjikan, petani berharap kondisi pasar tetap stabil hingga masa panen tiba, sehingga hasil kerja keras mereka benar-benar memberikan keuntungan maksimal.