PARINGIN - Riasan tebal dan busana adat Banjar yang megah itu tidak sedang menuju pelaminan sungguhan. Di bawah sorot lampu jalan Kelurahan Paringin Timur, Minggu (22/3) malam, sosok yang didandani layaknya mempelai tersebut diarak keliling kampung dalam tradisi baarak penganten.
Warga menyebutnya penganten-pengantenan. Bukan sepasang kekasih yang baru mengikat janji suci, melainkan warga yang sengaja didandani untuk menjadi pusat perhatian dalam sebuah karnaval budaya. Iringan musik dan sorak-sorai ratusan warga yang memadati jalur dari Paringin Kota hingga Gunung Pandau, membuat suasana Lebaran di Bumi Sanggam terasa lebih meriah.
Tradisi ini bukan barang baru. Jauh sebelum Balangan berdiri sendiri, baarak penganten sudah menjadi hiburan primadona saat Paringin masih berada di bawah naungan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Jika dahulu prosesi ini adalah bagian sakral dari pernikahan asli, kini polanya bergeser menjadi festival rakyat untuk mempererat silaturahmi antarwarga.
Faisal Rahman, salah satu warga Kelurahan Paringin Timur mengatakan, bahwa kegiatan ini sengaja dihidupkan kembali sebagai media edukasi bagi generasi muda. Menurutnya, ada kekhawatiran identitas lokal Banjar akan terlupakan jika tidak ditampilkan secara rutin kepada Gen Z.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan kembali budaya Banjar kepada masyarakat agar mereka mengenal dan mencintai warisan daerahnya," ujarnya.
Pelaksanaan yang diinisiasi warga RT 5 Paringin Timur berkolaborasi dengan warga Kelurahan Batu Piring ini juga membawa misi ekonomi. Pawai ini menjadi panggung berjalan bagi para perias pengantin lokal untuk memamerkan kualitas make up dan koleksi busana mereka kepada publik.
Di balik kemeriahannya, ada makna simbolis yang tetap dijaga. Sosok pengantin dalam budaya Banjar merupakan representasi puncak kebahagiaan. Dengan mengarak pengantin-pengantenan, warga meyakini adanya doa dan harapan agar kehidupan masyarakat selalu dilimpahi rezeki yang lancar dan kebaikan.
"Nama penganten-pengantenan ini mengandung doa dan harapan akan kehidupan yang baik bagi mereka yang terlibat maupun yang menyaksikan," tambah Faisal.
Kuatnya nilai gotong royong terlihat dari persiapan swadaya, mulai dari urusan riasan hingga pengaturan jalur agar tidak terjadi kemacetan total. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, kebersamaan warga masih menjadi fondasi kuat untuk menjaga agar warisan leluhur tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Warga berharap arak-arakan ini bisa dipatenkan menjadi agenda tahunan setiap momen Lebaran. Dengan begitu, identitas Paringin sebagai wilayah yang kaya akan tradisi lisan dan budaya tetap terjaga melalui keriuhan di malam-malam Syawal.
Editor : M Oscar Fraby