Tahulah pian, Kecamatan Teluk Kepayang di Kabupaten Tanah Bumbu punya sebutan: Bumi Tamara.
Sebutan ini sejenis dengan Tanah Bumbu yang dikenal sebagai Bumi Bersujud atau Banjarbaru sebagai Kota Idaman. Namun, apa sebenarnya makna di balik nama Tamara?
Istilah Tamara dicetuskan oleh Basaludin Salem, tokoh masyarakat Teluk Kepayang yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Teluk Kepayang selama lebih dari dua dekade, sejak 1988 hingga 2010.
Gagasan ini muncul pada masa ketika Teluk Kepayang—dan Tanah Bumbu secara umum—masih menjadi bagian dari Kabupaten Kotabaru.
Tamara bukan sekadar nama. Ia merupakan akronim dari enam nilai dasar yang terbagi dalam tiga tujuan dan tiga sikap hidup, yakni tertib, aman, menarik, anggun, ramah, dan akrab.
Tertib dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan dan kesepakatan bersama.
Aman berarti terciptanya rasa nyaman dan bebas dari gangguan. Menarik tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik wilayah, tetapi juga tercermin dari sikap dan perilaku masyarakat.
Sementara itu, anggun merujuk pada etika serta budi pekerti dalam pergaulan.
Adapun ramah berarti mudah menyapa, murah senyum, dan terbuka dalam berinteraksi. Akrab mencerminkan kedekatan sosial tanpa sekat antarwarga.
Enam nilai ini, menurut Basaludin, menggambarkan jiwa masyarakat yang ingin dibangun di Teluk Kepayang.
Nilai-nilai tersebut tak hanya dimaksudkan untuk ruang publik atau pemerintahan, tetapi juga relevan dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam dunia kerja, organisasi, hingga kehidupan rumah tangga. “Enam hal ini bisa membawa seseorang ke mana saja,” ujar pria 75 tahun itu.
Dalam bahasa Banjar, kata dia, Tamara berarti maju. Artinya, Teluk Kepayang diharapkan tidak tertinggal dari desa lain, mampu bersaing, serta memiliki ciri khas sebagai desa yang terkelola dengan baik dan nyaman untuk ditinggali.
Adapun hari jadi Teluk Kepayang ditetapkan pada Februari 1970. Penetapan ini berkaitan dengan dimulainya eksplorasi perusahaan kayu asal Filipina, PT Valgosons Indonesia, di wilayah Teluk Kepayang.
Menurut Basaludin, momentum tersebut menjadi awal perubahan dan perkembangan Teluk Kepayang, yang kemudian membuka babak baru dalam perjalanan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
“Teluk Kepayang sebelum itu memang sudah ada, karena ini desa tua. Tapi itu tanda dimulainya ada kehidupan dan perkembangan wilayah,” ungkapnya.
Editor : Arif Subekti