Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jejak Perusahaan Kayu Asal Filipina di Tanah Kusan

Zulqarnain RB • Jumat, 2 Januari 2026 | 13:04 WIB
RANGKA: Pesawat milik PT Valgosons Indonesia, perusahaan kayu asal Filipina, menjadi monumen di Lapangan Tamara, Kecamatan Teluk Kepayang. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
RANGKA: Pesawat milik PT Valgosons Indonesia, perusahaan kayu asal Filipina, menjadi monumen di Lapangan Tamara, Kecamatan Teluk Kepayang. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

Valgosons adalah sejarah yang tak tercetak dalam buku. Jejaknya lebih sering muncul dalam obrolan ringan para orang tua, sebagai potongan ingatan yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Zulqarnain, Batulicin

Suatu hari pada awal 1970, Basaludin Salem bersama sepupunya, seorang anggota TNI yang bertugas di wilayah Kusan, menyusuri Sungai Kusan dengan kelotok dari Kota Pagatan.

Di kiri dan kanan, pohon-pohon besar melingkar di atas aliran sungai, menutup cahaya dan pandangan. Ia merasa ngeri. Jika terjadi sesuatu, Basaludin sudah berniat segera kembali ke Kotabaru, kampung halamannya.

Saat perjalanan itu terjadi, Basaludin masih berusia awal 20-an. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan menengah atas di Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas (SMEA).

Pikirannya saat itu sederhana saja: melamar kerja di bank atau kantor pajak. Wilayah Kusan tak pernah masuk dalam rencananya.

Tapi takdir berkata lain. Perjalanan itulah justru yang kelak mengubah arah hidupnya. Beberapa minggu kemudian, ia bekerja di PT Valgosons Indonesia, perusahaan kayu asal Filipina yang beroperasi di Teluk Kepayang dari 1968–1982.

Basaludin Salem saat diwawancarai di kediamannya di Desa Teluk Kepayang, Kecamatan Teluk Kepayang, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
Basaludin Salem saat diwawancarai di kediamannya di Desa Teluk Kepayang, Kecamatan Teluk Kepayang, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

“Waktu itu, aku diajak. Jadi ikut saja,” ucap pria berusia 75 tahun itu.

Dari Valgosons, hidupnya menetap di Teluk Kepayang. Basaludin kemudian memimpin Desa Teluk Kepayang lebih dua dekade, sebelum duduk sebagai anggota DPRD Tanah Bumbu.

Pada masa awal ia menetap, wilayah Kusan masih terisolasi. Sungai Kusan menjadi satu-satunya jalur keluar-masuk. Jalan darat belum terbuka. Desa-desa masih tersembunyi di balik hutan.

“Mungkin aku sudah jadi direktur pajak atau direktur bank, bukan jadi orang hutan,” ujarnya tertawa. “Tapi ya tidak jadi anggota dewan juga. Itu namanya nasib.”

Ia masih mengingat gaji pertamanya di Valgosons adalah Rp200 ribu. Dari posisi awal sebagai pekerja, ia perlahan naik. Jabatan terakhirnya adalah mandor.

Pada masa itu, jabatan mandor hampir sepenuhnya dipegang orang Filipina. Basaludin menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil menduduki posisi tersebut di perusahaan.

“Mungkin aku satu-satunya orang Indonesia yang menyuruh-nyuruh orang Filipina. Kebetulan aku ngerti bahasanya,” ucapnya.

Produksi kayu Valgosons baru berjalan pada 1970, setelah melalui dua tahun survei. Masa itu bertepatan dengan puncak permintaan kayu meranti dari Kalimantan Selatan, terutama untuk pasar ekspor Jepang.

Hutan di sekitar Teluk Kepayang ditebangi secara bertahap. Batang-batang meranti ditarik keluar dari rimba, dikumpulkan di logpond, lalu dihanyutkan melalui Sungai Kusan menuju Pagatan sebelum dikapalkan ke luar negeri.

Dalam operasional pembalakan, menurut Basaludin, Valgosons menerapkan sistem penebangan selektif. Pohon yang ditebang hanya kayu meranti dengan diameter di atas 60 sentimeter. Pohon yang lebih kecil tidak ditebang. Jenis kayu lain tak masuk daftar produksi.

“Perusahaan waktu itu cukup disiplin. Tidak sembarangan menebang. Jadi kayu terpelihara,” ujarnya.

Saat itu, seluruh pergerakan hanya mengandalkan jalur air. Manusia, kayu, dan logistik bergerak melalui sungai.

Ketergantungan penuh pada Sungai Kusan membuat wilayah ini rentan terhadap perubahan musim. Kerentanan itu terbukti ketika terjadi kemarau panjang melanda pada 1970-an.

Debit Sungai Kusan menurun drastis, bahkan mengering di sejumlah titik. Padahal, daerah aliran sungai (DAS) Kusan merupakan salah satu yang terbesar di Tanah Bumbu. Transportasi sungai pun lumpuh. Arus pengangkutan kayu otomatis terhenti.

Dalam kondisi itu, perusahaan tak punya banyak pilihan. Jalur darat menjadi satu-satunya alternatif untuk mempertahankan operasional. Dari kebutuhan darurat itulah pembukaan jalan dimulai.

Badan jalan dibangun membentang sekitar 20 kilometer, menghubungkan Teluk Kepayang dengan Desa Salimuran di Kusan Tengah. Dari sana, kayu dialirkan melalui Sungai Salimuran yang saat itu debit airnya masih terjaga menuju Pagatan.

“Dari situ, wilayah Kusan mulai terbuka dan berkembang,” ujar Basaludin.

Bekas peninggalan perusahaan Valgosons kemudian diabadikan sebagai nama jalan. Namun pada 1982, Valgosons menghentikan seluruh operasionalnya. Semua pekerja diberhentikan, termasuk Basaludin. Padahal, izin usaha perusahaan itu sejatinya masih berlaku hingga 1990-an.

Basaludin menduga, penghentian operasional Valgosons disebabkan oleh dua faktor. Pertama, konflik internal di tubuh perusahaan yang melibatkan perselisihan antaranggota keluarga pemilik. Kedua, terbitnya SKB Tiga Menteri yang mengatur ulang industri kayu.

Kebijakan tersebut mengubah peta usaha kehutanan. Ekspor kayu bulat dibatasi, sementara perusahaan dituntut berinvestasi pada industri pengolahan di dalam negeri.

Bagi Valgosons, yang beroperasi jauh di pedalaman Kusan, tuntutan itu berarti tambahan biaya besar dan risiko tinggi. Dalam situasi itulah, perusahaan memilih berhenti melangkah lebih jauh.

Setelah Valgosons hengkang, pengelolaan kawasan tersebut diambil alih PT Kodeco Batulicin Plywood, perusahaan asal Korea Selatan yang beroperasi di Batulicin, hingga masa kontrak operasinya berakhir.

“Entah bagaimana caranya, tapi Kodeco berhasil mengambil alih,” ujarnya.

Selain membuka jalan, Valgosons juga meninggalkan jejak sosial. Perusahaan membangun sarana olahraga, gereja, dan masjid.

Hubungan antara pimpinan, karyawan, dan masyarakat berlangsung cair tanpa sekat yang kaku. Sejumlah pekerja Filipina bahkan sempat menikah dengan warga lokal setempat.

Basaludin masih ingat, ketika Valgosons berhenti beroperasi, seluruh peralatan perusahaan ditinggalkan begitu saja.

Termasuk sebuah pesawat kecil yang selama ini digunakan untuk mobilitas dan pengawasan wilayah. Rangkanya kemudian dimonumenkan dan kini berdiri di Lapangan Tamara, Kecamatan Teluk Kepayang.

Editor : Arif Subekti
#perusahaan #jalan #kayu #jejak #Kusan #Sejarah #filipina