KOTABARU – Suara gendang dan gong memecah keheningan pesisir. Di Desa Sarang Tiung, Kotabaru, ratusan pasang mata tertuju pada atraksi seni bela diri yang ditampilkan dalam Festival Budaya Wisata Kampung Nelayan 2025, Minggu (21/12).
Masyarakat memadati bibir pantai demi menyaksikan warisan budaya yang masih terjaga apik hingga hari ini.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan seni bela diri kuntau. Zulkifli, pegiat seni asal Sarang Tiung, mengatakan atraksi ini bukan sekadar tontonan, melainkan ritual wajib yang diwariskan secara turun temurun.
"Setiap tahun kami pasti mengadakan acara adat seperti ini karena amanah dari leluhur kami," ujar Zulkifli.
Seni bela diri ini memiliki ikatan kuat dengan akar budaya Sulawesi Selatan di daerah asal orang tua Zulkifli yang ini lebih dikenal dengan sebutan mako’taung.
Zulkifli menjelaskan bahwa kuntau atau mako’taung ini merupakan perpaduan harmonis antara seni tari, bela diri tradisional, dan adat istiadat yang kental.
Keunikan lain, sebelum pemain turun ke gelanggang, ada ritual khusus yang tidak boleh dilewatkan.
"Harus ada pembacaan dan lakatan (ketan) dan sesajen sebagai pengantar pertama. Ini bagian dari kelengkapan adat yang wajib dipenuhi," tambahnya.
Suasana semakin magis ketika instrumen musik pengiring mulai dimainkan. Perpaduan suara gong dan gendang menjadi nyawa pertunjukan ini.
Menurut para praktisi, kedua alat musik ini tidak bisa dipisahkan; jika salah satu absen, maka ruh dari permainan kuntau dianggap hilang.
Zulkifli menuturkan para pemain biasanya berlatih secara mandiri di lingkungan masing-masing. Mereka baru berkumpul dalam momen-momen sakral seperti acara perkawinan atau festival budaya.
Harapannya sederhana namun mendalam: ia ingin regenerasi terus berjalan agar anak cucu kelak masih bisa melihat kehebatan mako’taung.
Baginya, mempertahankan tradisi ini adalah cara menolak bala. "Kalau acara tanpa ada kuntau seperti ini, rasanya kurang ramai. Bahkan kami percaya, menjaga adat ini adalah bentuk ikhtiar agar dijauhkan dari musibah," tutupnya.
Editor : Muhammad Syarafuddin