Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Asrama Pesantren ke Dunia Bisnis Noor Zaidah Buktikan Santri Bisa Jadi Pengusaha Hebat

M Fadlan Zakiri • Minggu, 19 Oktober 2025 | 09:45 WIB
SUKSES : Noor Zaidah, pendiri Zaidah Florist asal Banjarbaru, menunjukkan lapak bunga yang menjadi awal kisah perjuangannya membangun bisnis florist dari nol. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
SUKSES : Noor Zaidah, pendiri Zaidah Florist asal Banjarbaru, menunjukkan lapak bunga yang menjadi awal kisah perjuangannya membangun bisnis florist dari nol. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

BANJARBARU - Di sebuah sudut jalan Pelita 5, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, aroma bunga segar berpadu dengan tawa lembut seorang perempuan muda.

Di atas meja kayu, tangan-tangan mungil itu sibuk merangkai pita, kertas, dan tangkai mawar menjadi satu kesatuan yang indah.

Dialah Noor Zaidah (22), santri yang kini dikenal luas sebagai pemilik Zaidah Florist, bisnis bunga yang tumbuh dari tekad, doa, dan keberanian untuk bermimpi.

Noor Zaidah lahir dari keluarga sederhana di Landasan Ulin, 16 Februari 2003. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan keikhlasan.

Pendidikan dasarnya ia tempuh di Pondok Pesantren Al Falah Puteri Banjarbaru, tempat di mana karakter kepemimpinan dan kemandiriannya mulai terasah.

Lulus dari pesantren, Zaidah melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Falah Banjarbaru.

Namun, dunia perkuliahan tak membuatnya hanya sibuk dengan buku. Di sela jadwal kuliah, ia mulai merangkai buket bunga.

Bukan karena ikut-ikutan tren, tapi karena rasa cintanya pada keindahan dan keinginan untuk berbagi kebahagiaan.

“Awalnya saya cuma bantu teman buat buket wisuda. Lama-lama, banyak yang pesan. Dari situ saya pikir, kenapa tidak dijadikan usaha sekalian?” tutur Zaidah sembari tersenyum.

Dengan modal pas-pasan, ia memberanikan diri membuka Zaidah Florist.

Di sudut kamar kos yang sederhana, tumpukan pita, kertas kado, dan bunga-bunga plastik berwarna pastel memenuhi meja belajar Noor Zaidah.

SUKSES : Noor Zaidah, pendiri Zaidah Florist asal Banjarbaru, menunjukkan lapak bunga yang menjadi awal kisah perjuangannya membangun bisnis florist dari nol. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
SUKSES : Noor Zaidah, pendiri Zaidah Florist asal Banjarbaru, menunjukkan lapak bunga yang menjadi awal kisah perjuangannya membangun bisnis florist dari nol. (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

Dari ruangan kecil itulah, tangan mungilnya mulai merangkai impian dan menjadikan bunga bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perjuangan seorang santri muda menuju kemandirian.

Usaha kecil yang lahir dari ketekunan dan kreativitas itu kini tumbuh menjadi brand florist yang dikenal luas di kalangan mahasiswa dan masyarakat Banjarbaru.

Namun bagi Zaidah, bisnis bukan sekadar soal laba.

“Saya ingin membuktikan bahwa santri juga bisa jadi pengusaha. Nilai-nilai pesantren seperti keikhlasan dan kerja keras justru jadi bekal utama dalam berbisnis,” ujarnya mantap.

Kini, Zaidah Florist tak hanya melayani buket wisuda, tetapi juga hampers, dekorasi acara, hingga kolaborasi sosial.

Sebagian keuntungan dari bisnisnya bahkan ia sisihkan untuk kegiatan kemanusiaan, seperti Gerakan 1001 Parcel Ramadan, Buka Puasa Bersama, dan Santunan Anak Yatim di Banjarbaru dan sekitarnya.

“Saya ingin keberkahan dari usaha ini juga bisa dirasakan orang lain. Rezeki akan terus bertambah kalau kita mau berbagi,” ungkapnya lembut.

Langkah kecil itu kini berbuah manis. Nama Noor Zaidah masuk dalam Top 10 Kompetisi BAZNAS Santripreneur 2025, yang diumumkan pada 10 Oktober lalu.

Pencapaian ini menjadi bukti bahwa semangat santri mampu bersaing di dunia kewirausahaan modern tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual.

Bagi Zaidah, setiap rangkaian bunga punya makna. Ada doa, kerja keras, dan keyakinan di baliknya.

“Bunga itu indah karena tumbuh dari tanah yang kotor. Sama seperti hidup, hasil terbaik datang dari proses yang tidak mudah,” imbuhnya.

Kini, Zaidah Florist bukan hanya usaha florist biasa. Ia menjadi simbol kemandirian santri muda. Bahwa dari ruang pesantren pun bisa lahir pengusaha tangguh yang menebar manfaat sosial.

Karena bagi Noor Zaidah, doa tanpa usaha hanyalah harapan, dan usaha tanpa tindakan hanyalah wacana.

Ia sudah membuktikan, keberanian untuk memulai adalah langkah pertama menuju keberkahan.

“Keberanian untuk memulai adalah langkah pertama menuju kemandirian,” ucapnya.

Kini, Zaidah Florist bukan hanya tempat jual beli bunga. Ia menjelma menjadi simbol perjuangan santri muda yang membuktikan bahwa jati diri religius tidak menghalangi kreativitas dan inovasi.

Dari pesantren ke dunia bisnis, Noor Zaidah telah menulis kisahnya sendiri kisah tentang keberanian, keikhlasan, dan bunga-bunga yang tumbuh dari keyakinan.

“Doa tanpa usaha hanyalah harapan, dan usaha tanpa tindakan hanyalah wacana,” tutup Zaidah

Editor : Arif Subekti
#Pesantren #sukses #kamar #banjarbaru #Kalsel #florist #kos #usaha