KOTABARU- Antusiasme penonton pada film pertama tak bisa dipungkiri menjadi pemicu utama Film Bagandang Nyiru rupanya meninggalkan akhir yang menggantung, membuat sang sutradara sekaligus produser, Aditya Rahman, tak punya pilihan lain kecuali melanjutkan filmnya.
Kini, Aditya siap kembali memukau pecinta film lokal Banjar dengan garapan terbarunya berjudul Kepuhunan.
Saat dikonfirmasi Radar Banjarmasin Kamis (16/10), Aditya Rahman, yang asli orang Kotabaru, menjelaskan alasannya.
"Karena antusias penonton kami di film pertama Bagandang Nyiru. Masih bersambung. Karena film pertama gantung. Dan setelah di ruqyah sembuh," bebernya, memberi sedikit bocoran.
Aditya menjelaskan, film keduanya ini akan membahas mitos Kepuhunan dari perspektif yang lebih dalam.
"Nah, jadi ada beberapa persepsi masyarakat, Kepuhunan bukan berarti hanya menolak makanan," ujarnya.
Menurutnya, Kepuhunan yang diangkat mencakup rasa ingin tahu dan perbuatan yang melanggar adat budaya setempat, bahkan termasuk praktik pengobatan Banjar.
Pesan moralnya pun sangat menusuk. Sebagai manusia beingat (ingat) kepada Allah. Jangan sampai kita mengambil bukan hak kita. Serta pesan tentang cinta yang tak berlebihan.
Proses produksi film misteri ini terbilang cukup maraton, berjalan enam bulan penuh, dari Juni hingga Oktober.
Lebih menariknya, alur cerita Kepuhunan dikembangkan dari pengalaman yang benar-benar nyata, termasuk yang dialami Aditya sendiri. Ia berkisah tentang pengalaman mistis yang ia alami pada 2009.
"Pernah kejadian pada diri ulun (saya) sendiri dan diundang di Pulau Pisau. Di Kalteng tahun 2009," kenangnya.
Saat itu, karena penasaran dan bercanda terhadap tempat ibadah Kaharingan yang baru ia lihat, petaka pun datang.
"Pulang dari situ, pas di pondok Martapura kaya diikat dan dipukuli. Esoknya pagi, tidak bisa berjalan dan seperti lumpuh semalam dua bulan. Dan bulan ketiga belajar berjalan,” ingatnya.
Pengalaman yang menyakitkan itu, kata Aditya, menjadi pelajaran berharga sekaligus inti dari cerita Kepuhunan.
"Bagian dari kepuhunan. Dan akhirnya menjadi
pelajaran pribadi saya," ucapnya.
Selain produser Radar Banjarmasin juga menguhubungi Keyco Cira Tabina atau Alesa, pemain utama film.
Alesa mengaku bahwa film kedua ini jauh lebih memuaskan karena sudah banyak belajar dari film pertama.
Ia juga mendapat pelajaran berharga dari perannya. Yaitu tidak boleh sembarangan berperilaku sembarang.
Dalam film itu Alesa berperilaku seenaknya ke orang lain. Sehingga ia memetik pelajaran apa yang diperbuatnya secara tidak sadar menyakiti hati orang lain.
Rencananya, film ini akan ditayangkan terbuka di akhir Oktober ini. Akan ada dua kali launching, yakni di Halte Food atas nama Gekrafs dan kedua atas nama Disdikbud, sekaligus untuk mempelajari dan menampilkan budaya Banjar.
"Bagi masyarakat Kotabaru yang pecinta film lokal Banjar. Bersabar, kami yang kedua akan segera tayang di akhir Oktober. Dan akan membawa kalian masuk ke dalam cerita film Kepuhunan ini," tutup Aditya Rahman.
Editor : Arif Subekti