BARABAI – Talas Bogor atau Colocasia esculenta L. Schott mulai diperkenalkan sebagai komoditas unggulan baru di wilayah Pegunungan Meratus, tepatnya di Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Melalui program demplot percontohan seluas sekitar seperempat hektare, sebanyak 1.350 batang talas Bogor ditanam untuk mendukung ketahanan pangan berbasis permakultur sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Aktivis lingkungan setempat, Kosim, menyebutkan bahwa talas Bogor memiliki potensi besar karena selain bernilai gizi tinggi, tanaman ini juga bisa memberikan keuntungan ekonomi jika dikembangkan secara berkelanjutan.
“Dari perhitungan sederhana, jika dalam satu tahun bisa menghasilkan lebih dari 750 kilogram umbi dengan harga jual rata-rata Rp15 ribu per kilogram, maka potensi pendapatan bisa mencapai Rp11 juta lebih dari lahan percontohan. Bayangkan kalau dikembangkan lebih luas, tentu akan berdampak signifikan bagi ekonomi warga Meratus,” ungkap Kosim, Selasa (19/8/2025).
Menurutnya, keberadaan talas Bogor di Hinas Kiri bukan hanya mendukung ketahanan pangan lokal, tetapi juga dapat menjadi alternatif komoditas unggulan selain hasil hutan non kayu yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
“Ini masih tahap awal, baru sebatas demplot. Namun jika mendapat dukungan penuh dan berlanjut, talas Bogor bisa menjadi identitas baru pangan Meratus sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga,” tambah Kosim.
Harapannya, talas Bogor dapat dikembangkan lebih luas dan menjadi salah satu penopang ketahanan pangan serta ekonomi berkelanjutan di kawasan pegunungan Meratus.
Editor : Arif Subekti