BANJARBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan (Kalsel) prediksi puncak musim kemarau tahun 2025 di Kalimantan Selatan mundur dari prakiraan awal.
Pasalnya, BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2025 secara secara umum dimulai dari bulan Juni. Dimana ada beberapa wilayah yang mengalami musim kemarau lebih awal seperti bulan Mei, atau mengalami di bulan Juni hingga Juli, bahkan Agustus.
Namun Forecaster Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Kalsel, Yosef Luky Dwi Prasetya mengatakan, situasi kondisi saat ini di bulan Juni kondisi curah hujan masih terlihat tinggi di beberapa wilayah Kalsel, termasuk Banjarbaru, Banjarmasin, dan sekitarnya.
Di samping itu, karena faktor La Nina yang mulai aktif meskipun indeksnya masih rendah hendak mendekati menengah.
Prediksi puncak musim kemarau terjadi di bulan Agustus-September maka kemungkinan puncak musim kemarau bisa jadi akan berlangsung di akhir Agustus menuju pekan pertama bulan September.
“Puncaknya bergeser tidak di Agustus, tetapi mungkin di akhir Agustus menuju ke September awal, jadi Agustus yang biasanya kita panas banget mungkin panasnya akan berkurang,” ungkapnya saat ditemui di kantornya.
Maka berdasarkan analisis pihaknya, prakiraan musim kemarau tahun 2025 ini ujar Yosef wilayah Kalsel diupdate mundur dari normalnya.
“Kenapa mundur, pertama karena April – Mei yang seharusnya masa peralihan ternyata curah hujan di periode itu justru tinggi dan berlanjut kemungkinan sampai dengan Oktober,” ungkapnya.
Artinya, sambung Yosef, kemarau di Kalsel bisa dikatakan akan lebih pendek, dan puncak yang biasanya diprediksi pada bulan Agustus – September, ada kemungkinan akan mundur.
Karena wilayah Kalsel luas kata dia, maka dimungkinkan sebagian besar wilayah puncak kemarau akan menuju ke bulan September.
Sedangkan kemungkinan pada Oktober, kemarau akan terjadi merata di seluruh Indonesia, dengan hujan yang tetap ada.
Editor : Arif Subekti