Stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi, masih menjadi masalah serius di Indonesia. Faktor penyebabnya antara lain pola makan rendah gizi, sanitasi yang kurang memadai, air minum yang belum layak, serta kesadaran calon ibu yang rendah terhadap kesehatan pra-nikah dan pola asuh.
Melalui program "AYUKTINGTING," masyarakat Desa Lok Baintan diajak untuk mengenali indikator stunting dan langkah pencegahannya. Selain edukasi, program ini mengutamakan ketahanan pangan dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman pangan. Beberapa tanaman yang dipilih antara lain sayuran kangkung dan sawi dengan metode hidroponik, serta buah seperti jagung, labu, dan pepaya yang kaya nutrisi.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Muhammad Helmy Abdillah, menyampaikan tujuan program ini adalah memberdayakan masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mandiri.
“Dengan menanam sayuran dan buah di pekarangan rumah, kami berharap masyarakat dapat memahami pentingnya gizi dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Untuk menunjang kesuburan tanah, tim juga memperkenalkan teknik pembenahan tanah dari eceng gondok serta pembuatan pupuk organik cair (POC) dari leri dan air rendaman sayur. Tim berharap pendekatan ini dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mandiri. Kegiatan memasak bersama juga dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang variasi makanan bergizi dari hasil panen.
Pendampingan dan monitoring berkelanjutan juga akan dilakukan oleh tim pengabdian dan relawan desa guna memastikan praktik yang telah diajarkan dapat terus diterapkan oleh masyarakat.
Di akhir kegiatan, Ketua Tim Pengabdian mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang mendanai program ini pada batch III tahun 2024, sehingga kegiatan berbasis project based learning ini dapat terealisasi.
Editor : Nurhidayat