Apabila belum, cobalah berkunjung ke Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, di sana terdapat masjid megah dan sering dikunjungi wisatawan.
Masjid yang berdiri di Jl. Mesjid Jami No.40, RT.1 itu, dibangun pada tahun 1777 dan berarsitektur Timur Tengah dengan perpaduan arsitektur Banjar dan Hindia Belanda.
Tempat parkirnya juga luas, sehingga banyak wisatawan luar daerah mampir untuk melaksanakan ibadah di sana.
Masjid ini mempunyai sejarah yang unik sebelum berdirinya bangunan. Pada zaman dahulu di Banjarmasin tidak ada masjid berukuran besar yang bisa memuat banyak jemaah, sehingga masyarakat setempat kesulitan untuk melakukan aktivitas ibadah.
Maka dari itu, Belanda berinisiatif mengambil kesempatan dengan mendonasikan pendapatan hasil pajaknya untuk mendirikan masjid tersebut.
Karena pada saat itu hasil pemungutan pajak dari masyarakat Banjarmasin sangat melimpah.
Akan tetapi, tawaran Belanda ditolak mentah-mentah oleh masyarakat Banjarmasin, karena sangat tidak menyukai pemerintahan kolonial Belanda kala itu.
Tidak hanya itu, masyarakat Banjarmasin yang memeluk agama Islam sangat mengharamkan niat pemberian dari kolonial Belanda tersebut, apalagi sampai membangunkan masjid.
Dalam menyelesaikan masalah ini, maka masyarakat Banjar melakukan gotong royong untuk membangun Masjid Jami Banjarmasin tersebut.
Baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda bersama-sama saling membahu untuk mengumpulkan dana.
Di masjid ini juga secara arsitektural, merupakan gabungan antara bangunan khas Banjar dan bangunan kolonial Belanda.
Dominasi bahan dasar berupa Kayu Ulin jadi ciri khas tersendiri Masjid Jami Sungai Jingah. Kemudian pada bagian dalam bangunan utama masjid melambangkan makna Tauhid. (Imam Wahyudi/yn/ris)
Editor : Sutrisno