Koleksi barang bersejarah yang ada di Museum Wasaka berasal dari beberapa daerah di Kalsel, seperti daerah Tanjung, Kandangan, Banjarmasin dan sebagainya.
Jumlah barang bersejarah di Museum Wasaka tercatat ada sekitar 300 buah.
Menariknya, kebanyakan koleksi di museum ini berasal dari Kandangan, Hulu Sungai Selatan.
Koleksi tersebut memuat barang peninggalan pahlawan perjuangan Kalimantan Selatan, Jenderal H. Hasan Basry.
Koleksi yang dipajang terdiri dari senjata pistol, keris pasupati dan pisau belati yang dimiliki oleh Jenderal H. Hasan Basry, serta terdapat baju PDU beserta lencana tanda jasa milik sang jenderal.
Selain koleksi peninggalan sejarah para pejuang kemerdekaan Kasel, di museum ini juga ditampilkan barang – barang antik zaman dahulu yang pada masa kini sudah jarang digunakan.
Bahkan sepertinya sudah hampir tidak ada lagi bentuk fisiknya. Seperti kuali besar, periuk, mesin tik, tustel, kamera zaman dahulu, teleskop antik, dan lain sebagainya.
Di sana juga ditampilkan diorama yang bercerita mengenai Perang Banjar. Proses dalam mendisplay barang – barang peninggalan bersejarah di Museum Wasaka ini memerlukan waktu.
Mahmudah, salah satu staf pengelola Museum Wasaka mengatakan, ada tim yang mensurvei barang peninggalan tersebut, lalu dicocokkan berdasarkan pada cerita sejarah kemerdekaan mulai dari tahun 1945.
Barang peninggalan yang ditampilkan ini bisa berupa barang hibahan yang diberikan oleh pemilik asli kepada pengelola Museum Wasaka atau bisa saja barang tersebut dibeli oleh pengelola museum, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Jika barang tersebut cocok dengan cerita sejarah, maka akan dibawa untuk dipajang di Museum Wasaka.
Koleksi barang peninggalan sejarah setiap 1 tahun sekali atau 2 kali dalam setahun akan diganti dengan barang peninggalan yang baru, guna proses perawatan dan pemeliharaan oleh staf khusus perawatan dari pengelola Museum Wasaka.
Untuk menambah daya tarik pengunjung, pengelola Museum Wasaka juga meluncurkan sebuah studio audiovisual mengenai cerita perjuangan kemerdekaan dengan versi animasi yang bisa disaksikan oleh pengunjung. (Rizky Martha Cahya Puspita/yn/ris)
Editor : Sutrisno