Bearsitektur khas Banjar berupa Rumah Bubungan Tinggi, museum ini berisikan benda bersejarah peninggalan para pejuang.
Berada di tepi Sungai Martapura, tepat di bawah Jembatan Banua Anyar, bangunan yang masih mempertahankan Suku Adat Banjar itu rupanya terselip kisah menarik sebelum difungsikan sebagai kawasan wisata bersejarah.
Museum Wasaka ternyata sudah berdiri selama hampir dua abad lebih, tepatnya sejak 1810 silam.
Pada awalnya, bangunan tersebut merupakan tempat tinggal seorang saudagar berlian bernama Datu Jalal.
Datu jalal adalah seorang pengusaha sukses yang lahir pada abad ke-18, dia memiliki kebun karet yang berlokasi di Tanah Grogot.
Datu jalal dikenal sebagai saudagar berlian, dengan kemampuan finansialnya tersebut, ia memustuskan untuk membangun rumah di Banjarmasin.
Berbahan dasar kayu dengan tipe bubungan tinggi, rumah dibangun di tepi Sungai Martapura yang memang secara marwah sungai merupakan urat nadi urang Banjar, di sinilah Datu Jalal tinggal bersama keluarga besarnya hingga wafat.
Sempat ditempati para cucunya, rumah tersebut kemudian kosong. Hingga akhirnya pada tahun 1988 bangunan itu dibeli pemerintah atas masukan dari ZA Maulani (panglima tempur kodam VI Tanjungpura tahun 1988-1991) terhadap ahli waris.
Pada periode pemerintahan H.M Said sebagai Gubernur Kalsel, H. Sjarifuddin mengajukan pendirian Museum Perjuangan, berupa bangunan yang mengapung di sebuah danau buatan, terinspirasi oleh Lanting Kottamara.
Namun, Said saat itu teringat aset Rumah Banjar Bubungan Tinggi yang sudah ditebusnya, lalu ia mengarahkan H. Sjarifuddin agar memfungsikan bangunan itu sebagai museum.
Pada 10 November 1991 rumah itu diresmikan sebagai Museum Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan Waja Sampai Kaputing yang berikutnya lebih sering disebut Museum Wasaka.
Meseum Wasaka sekarang di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, juga dinaungi cagar budaya dan permuseuman.
Museum ini mempunyai pemandu khusus untuk berkeliling di dalamnya. Namanya Rahmat, ia sudah bekerja 8 tahun di sana. "Sampai sekarang banyak pengunjung yang datang ke museum ini, seperti anak sekolah dan mahasiswa," kata Rahmat.
Museum Wasaka juga mempunyai ruangan khusus audio visual yang bisa ditonton pada jam tayang yang ditentukan. Videonya berisikan sejarah revolusi. (Hairunisa/yn/ris)
Editor : Sutrisno