Tugu itu masih tegak berdiri sampai sekarang dan menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Banjarmasin pada zaman dahulu untuk memerdekan Banjarmasin dari penjajah.
Pada tanggal 9 November 1945 terjadi peristiwa pertempuran yang sengit antara pejuang kemerdekaan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
NICA ingin mengambil kekuasaan mereka kembali dan salah satu wilayah yang ingin mereka kuasai adalah Banjarmasin.
Irus yang merupakan buyut dari Datu Bulat, salah satu pejuang kemerdekaan Banjarmasin menceritakan, pada tanggal 17 November 1945 Pemberontakan Rakyat Indonesia Kalimantan (PRIK) melakukan musyawarah di Kampung Pengambangan.
Tujuannya untuk mendapatkan persetujuan agar kampung itu dijadikan markas pertahanan PRIK.
Setelah musyawarah selesai dan disetujui oleh Kampung Pengambangan, PRIK bergegas untuk membuat markas pertahanan. Mendengar berita tersebut pemuda-pemudi sekitar pun menyambut baik.
"Tidak berselang lama datanglah pejuang-pejuang dari daerah Sampit, Hulu Sungai, dan masih banyak daerah lainnya. Semua pejuang berkumpul di markas pertahanan PRIK di Kampung Pengambangan," kata Irus.
Beberapa hari kemudian terjadi penyerangan yang dilakukan militer Belanda ke markas pertahanan PRIK. Kampung Pengambangan yang semula aman dan damai, setelah penyerangan terjadi banyak rumah yang dibakar dan ditembaki oleh penjajah.
"Serangan yang dilakukan itu secara beruntun dari siang hingga malam hari. Bahkan ada beberapa masyarakat yang ditawan dan disiksa oleh militer Belanda,” ucap Irus.
Sementara itu, Erwin Rezki Fatur, Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP ULM menceritakan, strategi yang disiapkan yang dilakukan oleh para pejuang untuk melawan militer Belanda sangatlah terstruktur.
"Mulai tanggal 1 sampai mendekati hari penyerangan (9 November) semuanya tersusun dan terstruktur dengan baik yang diatur oleh para pejuang," ujarnya.
Satu hal yang semakin membangkitkan semangat penyerangan adalah untuk menunjukkan kepada pihak NICA-Belanda dan dunia luar, bahwa PRIK bukanlah perampok-perampok seperti yang telah diisukan pihak NICA-Belanda.
Tetapi pejuang yang ingin mempertahankan kemerdekaan bangsanya dan berusaha memperjuangan Banjarmasin dan daerah Kalimantan Selatan.
Saat hari penyerangan yang dilakukan oleh PRIK pada hari Jumat, 9 November 1945 sudah sesuai dengan rencana. Pertempuran terjadi dari pukul 16.30 Wita sampai 18.30 Wita. "Setelah hari mulai gelap pertempuran mereda dan banyak korban berjatuhan,” ujar Erwin.
Terdapat 9 pejuang yang gugur pada saat pertempuran melawan NICA-Belanda itu. Nama pejuang yang gugur diabadikan di belakang Tugu 9 November 1945 sebagai seorang pahlawan. Nama pejuang yang tewas yaitu Badran, Badrun, Utuh, Umar, Tarin, Juma’in, Sepa, Dullah, dan Pa’ma’rupi.
Dengan adanya Tugu 9 November 1945 di titik markas pertahanan PRIK menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus mengenang jasa pejuang yang telah gugur demi kemerdekaan.
Terutama para generasi muda, bahwasanya kemerdekaan itu tidak didapatkan secara cuma-cuma. Akan tetapi, ada pengorbanan dan jiwa nasionalisme yang tinggi pada diri setiap pejuang. (Achmad Reza Faisal/yn/ris)