Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jeng Yah Sosok Progresif

Tia Lalita Novitri • Sabtu, 11 November 2023 - 03:52 WIB

Photo
Photo
GADIS Kretek tayang perdana 2 November 2023 lalu. Serial orisinal pertama Netflix ini langsung mencuri perhatian.

Mengisahkan tentang Dasiyah (diperankan Dian Sastro) dan cintanya pada Soeraja (diperankan Ario Bayu) dengan latar sejarah Tragedi 1965.

Serial ini diangkat dari novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala, terbit tahun 2012.

Berhari-hari viral di media sosial, Gadis Kretek banjir pujian--sekaligus menuai kritikan.
Gadis Kretek juga menyita atensi generasi Z Banua. Yuni Maulidina salah satunya.

Mahasiswa komunikasi Universitas Lambung Mangkurat itu mengunggah konten tentang Gadis Kretek di akunnya.

"Teman-teman membagikannya di IG stories, teaser-nya ada di TikTok, review serialnya pun ada di X (Twitter)," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (10/11).

Dari sudut pandangnya, karakter Dasiyah adalah perempuan muda berpendirian kuat. Hidupnya sungguh tak mudah.

Selain isu kesetaraan gender di masa itu, Jeng Yah juga menghadapi konflik percintaan yang pelik.
"Dia yang introvert bikin serial ini misterius," imbuhnya.

Yuni angkat topi bagi tim casting. Menurutnya, Dian Sastrowardoyo adalah orang yang tepat untuk memerankan Jeng Yah.

Beberapa ulasan membeberkan, saking totalnya, aktris 41 tahun itu berlatih cara berjalan Slow Ten Suzuki Method, bergerak lamban, dan praktik mengisap rokok.

"Sampai tak bersosialisasi beberapa bulan demi mendalami peran Jeng Yah. Totalitas pokoknya," ujar perempuan kelahiran 2000 ini.

Tumbuh besar di lingkungan pabrik rokok, Dasiyah menyimpan bakat membaui daun tembakau dan meracik saus kretek. Tentu saja, Jeng Yah tetap dipandang sebelah mata karena ia perempuan.

Yuni berpendapat, tak ada yang salah jika perempuan mendalami hobi yang tak biasa.
"Kenapa tidak? Selagi tidak menyalahi kodrat perempuan. Batasan justru diciptakan oleh lingkungan, keputusan kita yang tentukan," tegasnya.

"Tapi karena latar kisah Dasiyah adalah Indonesia tahun 60-an, pasti tak semudah perempuan masa kini dalam mengeksplorasi banyak hal," timpalnya.

Serial ini dibumbui kisah asmara. Dialog Dasiyah dan Soeraja cukup bikin Yuni meleleh. "Ngena sekali, meski sedikit kesal dengan beberapa kata-kata buayanya," ujar Yuni tersipu.

Melihat ulasan warganet, Yuni mencoba memahami dua sisi. Gadis Kretek kental dengan unsur kesetaraan gender dan feminisme.

Wakil II Diang Barito Kuala 2020 ini berharap, film ini membuka mata penonton lelaki bahwa perempuan itu berdaya dan berdikari. "Dan bagi perempuan sendiri, ini penyemangat untuk berjuang," tegasnya.

Sisi negatifnya, Yuni khawatir penonton kurang bijaksana. Jeng Yah merokok dengan mempesona di beberapa scene. Viral hingga ada ujaran "Dian Sastro ngudud adalah koentji".

Menurutnya, adegan itu bukan sebuah pembenaran bagi perempuan untuk merokok. Karena garis besar film ini tentang impian perempuan.

"Ada ketakutan series ini berdampak munculnya perokok pemula atau naiknya angka female smokers. Apalagi serial ini kategori 13+," ungkapnya.

Meski begitu, Yuni berani memberi rating tinggi untuk Gadis Kretek. Sebab jalan cerita, pemain, pengambilan gambar dan soundtrack yang apik.

"Meski sedikit kurang sreg dengan Arya Saloka (memerankan Lebas), aku kasih rate 9,5/10 untuk serial ini," tutupnya.

Senada dengan movie enthusiast Banua, Hilma Khairunnisa. Hanya selisih 0,5 dari Yuni, Hilma memberi rate 9/10 untuk Gadis Kretek.

"Serial perdana Netflix ini mengangkat kisah yang tidak umum bagi market Indonesia, fresh sekali idenya," ungkapnya.

Belum lagi tampilan visualnya. Kerja tim artistiknya tak main-main. Bukan efek CGI, pabrik rokok era 60-an itu dibuat manual dari nol. Patut diapresiasi dengan menonton segera.

Menanggapi kekhawatiran Yuni, komentar Hilma, larangan merokok telah disampaikan secara eksplisit. Baik Dasiyah yang meninggal karena penyakit paru maupun Soeraja yang terkena kanker.

"Bahkan dikisahkan anaknya yang seorang dokter sangat membenci rokok," ujar perempuan 23 tahun itu.

Mengapa tak dikasih rating sempurna? Hilma menyayangkan adegan ranjang yang terlalu hot. Serial ini mestinya lebih "ramah" untuk konsumsi remaja. Scene intim itu menurutnya terlalu dini bagi imajinasi penonton muda.

Ditanya soal karakter tokoh utama, dia menyebut Jeng Yah sosok yang progresif. "Dasiyah memandang dunia lebih besar dari yang orang-orang lihat di masa itu," ucap Hilma.

Mimpi Dasiyah dianggap kepingan kecil oleh masyarakat pada masanya.

"Bisa dibilang Jeng Yah adalah pejuang stereotype. Ia ingin mendobrak itu," pikir Hilma.
Secara keseluruhan, Hilma terpuaskan oleh serial ini. Penantiannya sejak awal 2022 terbayarkan.

Tak lagi terbayang-bayang cuplikan proses syuting dari medsos Dian Sastro. Kini, ia bisa menyaksikan Gadis Kretek berulang-ulang.

"Sejak awal aku tahu Netflix sedang menggarap serial ini. Kenapa Gadis Kretek, kenapa Dian Sastro, kenapa sampai difilmkan?" tanyanya.

"Ternyata, series ini memang pantas ditunggu," pungkasnya.

*****

Pembaca, ada yang baru di Metropolis! Rubrik Zpeak Up bakal nongol saban weekend.

Rubrik ini mengulas film, musik, tren, gaya hidup, bahkan politik. Semuanya dari sudut pandang generasi Z.

Mengapa? Karena Metropolis tak ingin melulu mengutip wali kota, kepala dinas, politisi, dan akademisi.

Kami ingin Metropolis juga menjadi corong anak muda. Selamat membaca!

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#ZPEAK UP #gadis kretek