Penulis, WAHYU RAMADHAN
Lukisan pertama itu diberi judul 'Calap'. Karya Rizaldi. Sedangkan lukisan kedua berjudul 'Ketika Hujan', karya Sandi Firly. Keduanya dibuat pada tahun yang sama. Tahun 2022.
Setidaknya, ada belasan lukisan yang dipajang rapi di dinding ruangan berkelir putih itu. Dari pintu masuk, hingga menuju tangga di ruangan lantai dua.
Paling pojok, ada karya Hajriansyah. Judulnya romantis sekali: 'Nada Kerinduan'. Lukisan itu menampilkan seorang lelaki berpeci tinggi berkelir merah, laiknya kaum sufi. Lelaki dalam lukisan itu tampak duduk sembari meniup seruling.
Lukisan yang dipajang beragam genre, beragam kisah, juga beragam ukurannya. Paling kecil seukuran hampir separo kertas HVS putih. Seperti lukisan berjudul 'Cupcup' karya Suryadi dan lukisan berjudul 'Unpredictable Way' karya Syam Indra Pratama. Sedangkan salah satu lukisan yang paling besar, karya Badri Hurmansyah. Judulnya 'Keaslian Yang Terdalam'.
Sekilas, bagi penulis yang awam seni rupa ini, karya yang dipajang itu hanyalah sebatas goresan kuas cat. Tapi, cobalah lihat lebih lekat dan lebih dalam. Setidaknya ada sosok wajah di atas kanvas itu. Mata pada wajah itu tampak sayu.
Terlepas dari begitu memukaunya karya yang ditampilkan, ada sisi lain yang tak kalah menarik. Puluhan lukisan itu, dipajang di ruang terbuka. Menyatu dengan kedai kopi.
Dinding kedai kopi itulah yang menjadi ruang pajang karya. Tak ada sekat. Di mana pengunjung duduk, maka di samping atau di belakangnya terpampang sebuah karya seni rupa.
Penulis bersyukur bisa dengan cukup nyaman melihat karya yang ditampilkan oleh 11 pelukis asal Kalsel, kemarin (16/12) siang. Siang itu, kedai kopi di kawasan Jalan Ahmad Yani Kilometer 5, Kecamatan Banjarmasin Selatan itu tampak lengang. Bersama penulis, hanya ada dua pengunjung. Seorang pegawai, dan salah seorang owner kedai yang akrab disapa Kiki. "Biasanya, ramai pada malam hari," ujarnya, ketika menemani penulis melihat-lihat lukisan.
Pameran seni rupa itu mengangkat sebuah tema besar: Seduh Tradisi. Diambil dari nama lokasi pameran itu berada, di Kopi Tradisi. Gelaran ini termasuk gelaran Art Series. "Penggasnya, Badri Hurmansyah. Ia juga bertindak sebagai kurator di pameran ini," tutur salah seorang perupa, Hajriansyah, kemarin petang.
Terkait karya yang ditampilkan, Hajri menjelaskan berhubung pamerannya bersama maka secara otomatis genre pun berbeda-beda pula. "Namun, tujuannya memberikan makna, bagaimana agar tradisi seni rupa ini bisa tumbuh dan diseduh alias dinikmati masyarakat luas," jelasnya.
Lelaki yang menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian (DK) Banjarmasin itu juga menuturkan sudah saatnya seni rupa keluar pada tempatnya. "Sudah saatnya keluar dari kebiasaan, memakai tempat khusus dalam hal pameran pada umumnya," tekannya.
Maksud Hajri, bukan lagi di sebuah tempat untuk orang yang datang hanya sekadar melihat-lihat lukisan. Berswafoto di depan lukisan, lalu kemudian pergi. "Kami ingin orang-orang bisa dengan lebih lama lagi melihat karya yang dipamerkan, sembari bersantai," ujarnya. "Lalu mengajak misalnya anak muda, atau orang-orang yang datang ke kafe bisa ikut mengapresiasi karya seni rupa," tekannya.
Hajri menilai ini juga menjadi strategi dari para perupa. Ia yakin bila mengajak masyarakat sejak dini untuk bersentuhan dengan karya seni rupa, siapa tahu ke depannya masyarakat memiliki kemampuan apresiasi yang lebih baik lagi terkait seni rupa.(war/gr/dye)
Lebih Dekat, Lebih Intim
BANJARMASIN - Riandhi Firdaus juga punya keinginan yang sama seperti Hajriansyah. Sebagai owner Tradisi Kopi yang menyediakan tempat digelarnya pameran seni rupa itu, ia menginginkan apresiasi masyarakat Kalsel terhadap seni rupa bisa lebih tinggi.
"Saya cukup sering melihat pameran seni rupa di luar daerah. Apresiasi seni rupa di luar sungguh luar biasa," banding alumnus Telkom University Bandung itu.
Di luar daerah, menurutnya, karya seni tak hanya berada di tempat-tempat khusus. Namun, juga ada di tempat-tempat biasa. Kedai-kedai kopi dan lain sebagainya. Lebih dekat, dan lebih intim. "Bukankah semua orang perlu tempat yang enjoy, nyaman, santai," tanyanya. Riandhi yakin apresiasi tinggi terhadap karya seni juga memicu ada banyaknya pasar seni di luaran.
Sungguh berbeda dengan di Banjarmasin. Alih-alih pasar seni, galeri seni pun tak ada. "Di pasar seni, hampir semua karya bisa didapat dengan mudah. Harga yang ditawarkan bervariatif. Tak sedikit karya yang bisa terjangkau harganya," tekannya.
Semangat itu pula yang membuatnya tertarik menyediakan tempat bagi seniman yang ingin memajang karyanya. "Mulanya, saya berpikir apakah para perupa mau memajang karyanya selama sebulan. Namun ternyata mereka mau. Bahkan lebih lama dari itu," ucapnya, sembari mengucap syukur. Ya, pameran Seduh Tradisi itu memang berlangsung cukup lama. Sejak 9 Desember hingga 9 Maret 2023 mendatang.
Tidak hanya pamer karya, tapi juga ada diskusi. Berbicara tentang kekaryaan dan nasib seni rupa di Kalsel. Digelar besok, 18 Desember. "Saya berharap besar melalui kegiatan seperti ini, ekosistem kesenian di Kalsel bisa lebih bertumbuh," tegasnya.
Hal senada juga diungkapkan sang kurator, Badri Hurmansyah dalam pengantarnya di pameran seni rupa 'Seduh Tradisi' itu. Badri mengajak masyarakat untuk lebih sederhana dalam menikmati karya seni. Termasuk di dalam ruang lingkup tempat pameran.
Diakui Badri, ruang pameran yang sering eksklusif, mahal, dan hanya bisa dinikmati kalangan tertentu malah berdampak pada bagaimana sudut pandang masyarakat terhadap seni rupa itu sendiri. "Semisal dalam pameran. Di daerah yang bukan kantong seni, event (pameran, red) seni rupa berlangsung bisa dihitung dengan jari," lanjutnya.
Itu membuat masyarakat Banjar justru bersikap kurang terbuka. Sederhananya, belum begitu memahami apa itu pameran seni rupa atau lukis, dan bagaimana mengapresiasi sepantasnya. "Sikap kurang terbuka ini bisa dilihat dalam kegiatan pameran. Sangat jarang karya terjual. Bahkan sangat sering karya tidak terjual sama sekali," ungkapnya.
Badri berharap pameran di kafe kali ini, selaiknya kopi sebagai 'hidangan' yang dapat menjadi tradisi. Menikmati karya seni pun bisa dijadikan tradisi. "Sederhana, di ruang publik yang lebih cair. Bahkan bisa menikmati karya seni seiring dengan seduhan kopi," tuntasnya.(war/gr/dye) Editor : Muhammad Helmi