Berbeda dengan lain, bakso mercon di sini tak hanya bermodal cabai di dalam bakso. Namun, diisi daging, pentol, tetelan dan tentunya cabai.
Ahmadi selaku pemilik usaha pernah bertanya dengan langganan penikmat bakso merconnya.
“Kata mereka, bakso mercon di sini beda, selain hanya cabai, namun diisi dengan macam-macam,” katanya Jumat (17/11) di tempat usahanya Loktabat Utara, Kota Banjarbaru.
Apa yang dikatakan Ahmadi senada dengan Utsman. Ia katakan, sudah berlangganan sejak tahun 2019. Ia menyukai pelayanan yang diberikan. Ia mengetahui bakso mercon dari salah satu kawannya.
“Isian bakso itu enak, pedasnya pun masih wajar,” katanya, Jumat (17/11).
Dinamakan, Bakso Beranak Ala Chef karena Ahmadi sebelum merantau ke Kalimantan Selatan tahun 2018, ia adalah koki kapal sampai hotel selama 20 tahun di Jakarta. Dari Indonesian food, masakan western, sampai hidangan Eropa telah ia buat. Dari satuan sampai masakan partai besar.
“Karena saya terus belajar, sampai saya diambil ke banquet di sana saya bermain partai besar. Seperti meeting, seminar, atau pernikahan. Saya main 1000, 2000, 3000 pesanan,” kata mantan koki Swiss-Belhotel Internasional itu.
Di tahun 2016, setelah menjadi koki lima tahun di Swiss-Belhotel, akhirnya ia memutuskan membuka peruntungan usaha sendiri. Ia memulai usahanya dengan membuka Nasi Uduk Betawi.
“Tapi tiga bulan hancur. Karena saya punya prinsip, kalau sudah tiga bulan, dagangannya tidak berkembang, ganti, jangan sampai lama-lama,” ungkapnya.
Entah angin dari mana, tiba-tiba Ahmadi bertemu kakek-kakek yang menyarankan ia membuka usaha bakso. Melalui gawainya, ia coba mencari referensi.
“Saat itu, ketemu yang lagi viral di Palembang, bakso beranak. Waktu itu di Jakarta belum ada, jadi saya coba buat,” tuturnya.
Benar saja, enam bulan dari ia membuka, pelanggan terus datang tanpa henti. Dari dua kilo sampai seratus kilo olahan bakso dia buat perhari.
“Omzet saya saat itu sampai 25 juta perhari,” ungkapnya.
Namun berjalan waktu, dia menduga ada pedagang lain yang ‘usil’. Mendadak omzetnya pun turun drastis. Di tahun 2018, setelah dihubungi kakaknya yang menawarkan untuk membuka usaha di Banjarmasin, ia pun mengiyakan.
Melihat potensi usaha, akhirnya ia dan istri memilih ke Banjarbaru untuk berlabuh. Pada awalnya, bakso beranak adalah menu andalan. Benar saja, usahanya kembali ramai. Seperti di Jakarta, ia sampai mengolah seratus kilo olahan bakso saat itu.
Namun itu tak berlangsung lama. Kali ini dia tak mengetahui sebab muasalnya. “Di titik itu, saya pernah hanya sepuluh kilo dalam satu bulan, bayangkan. Hancur lagi.”
Tak kenal lelah, ia terus melangkah. Akhirnya ia mencoba membuat menu andalan baru, bakso mercon. Dari situ menjadi titik balik usahanya. Ia sampai hafal setiap langganannya yang memesan bakso mercon.
“Punya pelanggan dari pacaran, nikah, sampai punya anak, mesannya bakso mercon aja,” katanya.
Adapun daftar harga menu, tersedia dari Rp10 ribu-Rp25 ribu. Bakso mercon selalu menjadi pilihan utama. Ia berkomitmen untuk terus memberi pelayanan yang terbaik untuk pelanggannya. (mr-157/ij/bin)
Editor : Muhammad Helmi