Mereka juga mempunyai kebiasaan mengadakan acara keagamaan pada bulan-bulan tertentu, serta pengajian rutin setiap hari Selasa dan Minggu. Namun, mereka mempunyai tradisi unik dalam mengumpulkan dananya dengan cara bergotong royong mengambil upah batanam.
“Tradisi gotong royong mengambil upah ini dilakukan satu tahun sekali pada musim tanam padi, atau pada musim panen. Biasanya tradisi ini dilakukan untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan dalam acara keagamaan. Seperti tahun ini pada bulan Rajab dilaksanakan peringatan Isra Mikraj dan Haul Guru Sekumpul. Pada acara-acara inilah dana yang dikumpulkan hasil gotong royong mengambil upah tadi digunakan,” tutur Ansyari, petani Desa Anjir Seberang Pasar. Selain itu juga untuk dana maulidan, buka bersama pada bulan puasa, dan pengajian rutin.
Ansyari menceritakan bahwa tradisi gotong royong ini sudah ada sejak zaman kakek neneknya. Dilakukan seluruh warga desa, laki-laki maupun perempuan, anak muda dan orang tua, tokoh masyarakat dan ketua RT. Gotong royong mengambil upah ini terus dilestarikan warga desa agar dapat saling bantu, menjaga kebersamaan, serta kerukunan hidup bermasyarakat.
Tradisi yang sejak lama dilakoni masyarakat ini menunjukkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan untuk acara-acara keagamaan. Selain itu dengan adanya kegiatan ini di tengah-tengah masyarakat dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan di antara warga desa. Bahkan mengajarkan generasi muda untuk mempunyai kepedulian saling tolong menolong dalam hidup bermasyarakat.(*)
Data Penulis
Nama : Nadiatul Izmi
Sumber : Wawancara dan Internet
Narasumber : Ansyari (46) petani Desa Anjir Seberang Pasar
Dokumentasi : Ansyari Editor : Arief