Bukan Cinderella dan Sepatu Kaca. Merupakan karya drama musikal menggelitik. Dipersembahkan dengan instrumen musik yang kaya. Dimainkan oleh ratusan seniman muda Kota Banjarmasin.
Dilihat dari judul karya, Bukan Cinderella dan Sepatu Kaca adalah parodi dongeng yang dipopulerkan oleh Walt Disney Pictures beberapa tahun lalu.
Drama musikal parodi ini dimainkan oleh ratusan seniman muda dari Purwacaraka Cabang Banjarmasin. Dihitung-hitung, ada 150 pemusik yang terlibat. Dikonsep dengan musik ansambel, gelaran ini berlangsung di Atrium Transmart Duta Mall Banjarmasin, kemarin (26/8).
Namanya parodi, sudah jelas Bukan Cinderella dan Sepatu Kaca merupakan adaptasi nyeleneh dari karya aslinya; Cinderella dan Sepatu Kaca. Pemeran utamanya dinamai Siti. Dia juga tak mengenakan sepatu kaca, melainkan sebuah sandal jepit.
Penampilan drama musikal tambah menarik dengan kehadiran kelompok Little Mozart yang menghiasi panggung. Grup ini diisi oleh siswa-siswi cilik Purwacaraka yang menempuh studi musik. Rata-rata mereka berusia 3 hingga 5 tahun.
Lagu-lagu yang dimainkan juga didominasi musik yang punya rasa lokal. Diantaranya karya Sherina, Titiek Puspa dan grup band Radja yang pernah mempopulerkan lagu Cinderella.
Harmaji, Pimpinan Purwacaraka Musik Studio Banjarmasin menyebut karya Bukan Cinderella dan Sepatu Kaca merupakan rangkaian konser tahunan pihaknya.
"Ini memang konser tahunan. Untuk memaksimalkan seniman-seniman muda yang tergabung dalam sekolah kami," kata dia.
Dipilihnya konsep drama musikal juga agar tak bikin bosan para penonton. Harmaji menyebut jika konser hanya dimainkan lewat penampilan ansambel besar, maka suguhan terasa tak lengkap.
Meriahnya drama musikal ini jelas tak instan. Perlu waktu bagi para siswa untuk melakukan pematangan konsep. Selama tiga bulan, ratusan seniman muda harus giat mematangkan penampilan.
Yang bikin menarik, konser ini dihadiri oleh komponis senior, Purwacaraka. Terbang langsung dari Jakarta ia memberikan jempol bagi ratusan seniman muda yang telah jor-joran mempersembahkan penampilan terbaik.
"Semuanya perlu diapresasi," tegasnya. Bukan tak mungkin, siswa-siswi dari Purwacaraka Banjamasin dilibatkan dalam konser besar di pusat.
"Tiap lima tahun sekali, kami mengadakan konser-konser besar bersama orang pilihan. Siswa-siswi Banjarmasin juga perlu dilibatkan kalau memang sesuai kapasitas," tuntasnya. (dom/ma/nur)
Editor : Arief