RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Meninggalnya seorang guru honorer di salah satu SD di tengah kondisi kabut asap karhutla membuat keselamatan guru ikut disorot. Terlebih, diketahui guru tersebut memiliki riwayat asma yang disebut kambuh saat kabut asap melanda.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah guru menyuarakan permintaan agar work from home (WFH) diberlakukan ketika peserta didik menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Namun, WFH bagi guru dan tenaga kependidikan hingga kini belum berlaku. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin masih menunggu arahan Pemko, khususnya terkait pengaturan kerja ASN.
Kepala Disdik Kota Banjarmasin Ryan Utama membenarkan adanya aspirasi tersebut. Menurutnya, permintaan WFH disampaikan sejumlah guru secara personal melalui grup WhatsApp.
“Memang permintaan secara umum untuk diberlakukan WFH ketika peserta didik PJJ, itu memang ada,” ujar Ryan, Jumat (2/10/2026) pagi.
Ryan mengatakan, Disdik telah menyampaikan aspirasi tersebut kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarmasin. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan BKD untuk mengkaji kemungkinan penyesuaian jam kerja guru dan tenaga kependidikan.
Meski demikian, kebijakan WFH belum dapat diterapkan karena pengaturan kerja ASN berada dalam kewenangan Pemko dan perangkat daerah terkait.
“Kami tetap harus mengikuti ketentuan dan arahan dari pihak yang mengatur ASN di Pemko Banjarmasin,” jelasnya.
Sementara itu, Disdik tetap meminta warga sekolah menerapkan protokol kesehatan selama kabut asap. Guru dan tenaga kependidikan diminta menggunakan masker.
Bagi peserta didik maupun tenaga pendidik yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, diperbolehkan tetap berada di rumah apabila kondisi udara dinilai berisiko.
“Bagi peserta didik atau tenaga pendidik yang memiliki riwayat sakit pernapasan, silakan untuk tetap di rumah,” katanya.
Untuk kebijakan WFH, Disdik masih menunggu hasil koordinasi dengan Pemko dan BKD.
“Mudah-mudahan segera ada keputusan terkait ini,” pungkas Ryan.
Editor : Arif Subekti