Air Tanah hingga RO Dikaji, PTAM Target Krisis Tak Terulang

Endang Syarifuddin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 09:20 WIB
Krisis air baku membuat pelanggan PTAM Bandarmasih harus menggunakan air jaringan untuk kebutuhan MCK, sementara kebutuhan minum dan memasak dipenuhi dari sumber air lain.(Foto: Wanda untuk Radar Banjarmasin)
Krisis air baku membuat pelanggan PTAM Bandarmasih harus menggunakan air jaringan untuk kebutuhan MCK, sementara kebutuhan minum dan memasak dipenuhi dari sumber air lain.(Foto: Wanda untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Setelah pelanggan diminta tetap menggunakan air PTAM Bandarmasih untuk mandi, mencuci dan kakus, sementara kebutuhan minum harus membeli dari sumber lain, solusi jangka panjang mulai diperdebatkan.
 
Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin Faisal Hariyadi sebelumnya meminta PTAM tidak hanya mengandalkan satu sumber air baku. Air tanah hingga teknologi pengolahan seperti reverse osmosis (RO) didorong ikut dikaji.
 
Sorotan itu muncul setelah PTAM mengubah status air jaringan menjadi nonkonsumsi. Mulai 22 September, air yang mengalir ke sejumlah wilayah terdampak hanya diperuntukkan bagi MCK. Kebutuhan air minum disiapkan melalui tandon dan mobil tangki.
 
Faisal menilai, kondisi tersebut tidak boleh menjadi pola berulang. Apalagi pelanggan tetap membayar tagihan, tetapi harus mengeluarkan uang lagi untuk mendapatkan air minum.
 
Dirut PTAM Bandarmasih Zulbadi tak menutup opsi yang ditawarkan DPRD. Namun, ia menegaskan seluruh alternatif harus melewati kajian.
 
“Untuk memilih solusi air baku, karena ini persoalan teknis, tentu harus ada kajian terlebih dahulu. Kami tidak bisa langsung menentukan satu pilihan tanpa dasar,” ujar Zulbadi di sela menghadiri Paripurna Hari Jadi ke-500 di DPRD Banjarmasin.
 
Menurut Zulbadi, kajian itu mencakup aspek ekonomi, finansial dan teknis. Jika air tanah dinilai layak dan mampu menjadi sumber air baku yang optimal, opsi tersebut bisa dipilih.
 
“Kalau berdasarkan kajian ternyata air tanah layak dan bisa menjadi sumber air baku yang optimal, tentu bisa saja kita pilih,” katanya.
 
Namun, untuk kondisi saat ini, PTAM masih memilih pembangunan pipa transmisi dan pemanfaatan air permukaan. Pilihan itu disebut berdasarkan hasil kajian yang dimiliki perusahaan.
 
“Kenapa saat ini kami memilih pemasangan pipa dan mengambil air permukaan? Karena berdasarkan kajian yang kami dapatkan saat ini, air permukaan merupakan pilihan yang paling tepat dan optimal untuk dilakukan,” jelasnya.
 
Zulbadi mengatakan masukan DPRD tetap menjadi perhatian perusahaan. Bahkan, ia menganggap dorongan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan pelayanan air baku.
 
“Saya sangat berterima kasih atas apa yang disampaikan beliau. Sedikit pun kami tidak merasa dirugikan. Justru kami merasa diuntungkan karena beliau peduli dan memperhatikan persoalan pelayanan air baku,” ujarnya.
 
PTAM sendiri mengaku akan mengkaji sejumlah alternatif. Tidak hanya air tanah, tetapi juga RO, air sungai, pembangunan pipa dan berbagai teknologi pengolahan lainnya.
 
“Kita tidak bisa menetapkan hanya satu solusi karena alternatifnya banyak. Bisa RO, bisa air tanah, bisa air sungai, bisa melalui pembangunan pipa dan sebagainya,” kata Zulbadi.
 
Ia memastikan keputusan nantinya tidak akan diambil sembarangan. Tim teknis akan melakukan kajian dan mengeluarkan data sebagai dasar menentukan pilihan.
 
“Semua harus berdasarkan data hasil kajian. Kami tidak bisa sembarangan menentukan pilihan,” tegasnya.
 
Bagi PTAM, langkah tersebut masuk dalam rencana jangka panjang. Perusahaan tidak ingin persoalan air baku hanya ditangani ketika krisis sudah terjadi.
 
Sebelumnya, PTAM juga telah menyiapkan rencana jangka panjang berupa pemasangan pipa transmisi dan infrastruktur pendukung air baku. Rencana tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pelayanan terhadap kondisi sumber air saat kemarau.
 
Zulbadi bahkan memasang target agar krisis seperti saat ini tidak kembali terjadi tahun depan.
 
“Kasihan generasi berikutnya kalau kondisi seperti ini terus terjadi. Kalau bisa, tahun depan persoalan seperti ini jangan sampai terulang lagi,” katanya.
 
“Jangankan masyarakat, saya sendiri juga menginginkan tahun depan tidak terjadi lagi. Harus bisa kita atasi dengan segala upaya, baik dari sisi penganggaran, teknis maupun pendanaan. Semua akan kami usahakan,” pungkas Zulbadi.

Editor : Arif Subekti
air asin pelanggan tetap membayar air baku pemko banjarmasin PTAM Bandarmasih