Airnya Makin Asin, Ikan Laut Bermunculan di Sungai Martapura

Zulvan Rahmatan • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 14:40 WIB
KADAR GARAM TINGGI: Nelayan menyusuri Sungai Martapura di kawasan Banua Anyar, Banjarmasin Utara. Kadar garam yang tinggi membuat ikan laut masuk ke Sungai Martapura. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)
KADAR GARAM TINGGI: Nelayan menyusuri Sungai Martapura di kawasan Banua Anyar, Banjarmasin Utara. Kadar garam yang tinggi membuat ikan laut masuk ke Sungai Martapura. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Intrusi air laut mulai mengubah kehidupan biota di Sungai Martapura. Tingginya kadar garam membuat sejumlah ikan laut masuk ke aliran sungai hingga kawasan Banua Anyar di Banjarmasin Utara dan sekitarnya.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Banjarmasin, Sulaiman Thalib, mengatakan fenomena tersebut berkaitan dengan meningkatnya kadar garam di perairan. “Iya, kadar garam kan tinggi. Jadi ikan-ikan memigrasi,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, laporan nelayan di sepanjang Sungai Martapura menyebut sejumlah jenis ikan yang biasanya ditemukan di perairan dengan pengaruh laut mulai masuk ke sungai. Di antaranya ikan sembilang, pari muara, ikan kiper, dan kakap putih.

Sulaiman menilai, kondisi itu terjadi karena ikan mengikuti perubahan salinitas air. Bukan semata-mata masuk ke sungai, ikan laut mencari perairan dengan kondisi yang sesuai untuk ditoleransi.

Di sisi lain, ikan air tawar yang tidak tahan terhadap kadar garam tinggi justru bergerak ke arah hulu.

Kondisi tersebut membuat keberadaan sejumlah ikan lokal semakin sulit ditemukan di bagian sungai yang terdampak intrusi.

“Paling tidak ikan-ikan darat lebih ke hulu. Mencari yang bisa ditoleransi,” jelasnya.

Sulaiman menyebut ikan baung masih cukup banyak ditemukan. Namun, jenis ikan air tawar lainnya disebut lebih terdampak perubahan kondisi air.

Dampak berbeda juga terlihat pada ikan sapu-sapu. Jenis ikan invasif yang hidup di dasar perairan itu disebut tidak tahan terhadap kondisi air yang semakin asin.

“Contohnya ikan sapu-sapu, itu tidak tahan. Banyak mati kemarin,” katanya.

Pembudidaya Percepat Panen

Perubahan kondisi air juga membuat pembudidaya ikan harus menyesuaikan aktivitasnya.

Di kawasan Banua Anyar yang banyak terdapat keramba, pembudidaya memilih mempercepat panen ketika kondisi tidak memungkinkan.

Penebaran bibit baru juga ditunda untuk sementara. Penyuluh DKP3 tetap melakukan pemantauan serta pembinaan kepada kelompok pembudidaya dan nelayan di lapangan.

Untuk pembudidaya ikan di darat, kondisi air yang surut menjadi persoalan lain. Ketersediaan air berkurang sehingga diperlukan cara untuk menjaga lingkungan budidaya tetap stabil.

Salah satu cara yang digunakan adalah kolam terpal. Menurut Sulaiman, metode tersebut membantu pembudidaya menjaga volume air sekaligus mengurangi pengaruh perubahan lingkungan terhadap ikan.

“Pakai terpal supaya aman dari pengaruh lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, kemunculan ikan laut di sungai memberikan keuntungan sementara bagi nelayan.

Mereka bisa memperoleh ikan yang biasanya harus dicari hingga ke laut tanpa harus pergi terlalu jauh.

Namun, kondisi tersebut dipandang sebagai respons sementara terhadap perubahan lingkungan perairan.

Ketika kadar garam kembali stabil, ikan-ikan laut diperkirakan akan kembali mencari habitat yang sesuai.

“Kalau kadar garamnya stabil, ikan laut di sungai pasti mulai menjauh. Ikan berenang ke hulu, cari tempat yang lebih stabil kadar garamnya,” kata Sulaiman.

DKP3 juga belum mendorong penebaran kembali ikan selama kondisi perairan belum stabil.

Pemulihan dan penebaran bibit akan menunggu kondisi sungai membaik setelah periode kemarau berakhir.

Ubur-ubur Tidak Mematikan, Tetap Waspada

Selain ikan laut, kemunculan ubur-ubur di perairan sungai juga menjadi perhatian. Sulaiman mengatakan ubur-ubur tersebut tidak tergolong berbahaya secara mematikan.

Meski demikian, hewan tersebut tetap dapat menyengat ketika bersentuhan langsung.

Efeknya dirasakan seperti sensasi tersetrum atau menyengat pada kulit.

“Masyarakat tetap perlu berhati-hati ketika beraktivitas di perairan sungai yang ditemukan ubur-ubur,” tutupnya. (van)

Editor : Arief M
Perikanan kemarau berita Banjarmasin Sungai