RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Program percepatan tracing tuberkulosis (TBC) yang dijalankan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru menunjukkan perkembangan positif.
Hingga Kamis (17/9/2026), sebanyak 2.800 warga di 28 lokus telah menjalani skrining kesehatan melalui gerakan terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Capaian tersebut mencapai 56 persen dari total target program yang ditetapkan rampung pada November 2026. Dinkes Banjarbaru menargetkan skrining menjangkau 5.000 warga yang tersebar di 50 lokus pada lima kecamatan.
2.800 Warga Sudah Jalani Skrining TBC
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dr. Ani Rusmila mengatakan, pelaksanaan skrining telah dimulai sejak Agustus dan berlanjut ke sejumlah lokus pada September.
“Hingga Kamis, 17 September 2026, sebanyak 28 lokus telah dilaksanakan dengan total 2.800 warga menjalani skrining TBC,” terang Ani, Kamis (17/9/2026).
Setiap lokus ditargetkan menjangkau 100 peserta. Dengan demikian, masih terdapat 2.200 warga di 22 lokus yang menjadi sasaran pemeriksaan berikutnya.
Skrining TBC Fokus Sasar Kelompok Berisiko
Untuk mengejar target tersebut, pemeriksaan berikutnya akan diprioritaskan kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TBC.
Petugas menyasar warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC aktif, kelompok lanjut usia, serta penderita diabetes melitus.
Menurut Ani, pola tracing aktif atau jemput bola dinilai penting karena penemuan kasus tidak cukup hanya mengandalkan masyarakat yang datang berobat ke fasilitas kesehatan.
“Penemuan kasus tidak cukup hanya mengandalkan warga yang datang berobat. Melalui tracing aktif, petugas berupaya menjangkau masyarakat yang memiliki risiko lebih besar terinfeksi TBC,” tambahnya.
Terduga TBC Langsung Ditindaklanjuti dengan TCM
Warga yang masuk kategori terduga TBC berdasarkan hasil skrining awal tidak hanya berhenti pada pemeriksaan lapangan.
Dinkes Banjarbaru akan menindaklanjutinya dengan pemeriksaan konfirmasi menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan diagnosis sehingga pengobatan dapat segera diberikan apabila hasilnya positif.
“Jika pada saat skrining didapatkan terduga TBC, maka dilakukan tindak lanjut berupa pemeriksaan TCM. Jika TCM positif, maka masuk kriteria TBC positif dan dilakukan pengobatan,” jelas Ani.
Menurutnya, penemuan kasus secara cepat penting untuk memutus potensi penularan TBC. Sebab, orang yang terinfeksi tetapi belum terdeteksi masih dapat beraktivitas dan berpotensi menularkan penyakit kepada orang di sekitarnya.
Dinkes Kejar Target Banjarbaru Zero TBC
Karena itu, penguatan skrining dan keberlanjutan pengobatan menjadi bagian penting dalam program percepatan penanganan TBC di Banjarbaru.
“Strategi yang dilakukan adalah memperkuat skrining, jika positif maka dilakukan pengobatan sampai tuntas supaya tidak menularkan kepada orang lain,” tegas Ani.
Dengan waktu pelaksanaan hingga November 2026, Dinkes Banjarbaru optimistis dapat mencapai target skrining terhadap 5.000 warga sebagai bagian dari upaya mewujudkan Banjarbaru Zero TBC.
Ani juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala batuk yang berlangsung selama dua minggu atau lebih. Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, masyarakat diharapkan tidak memberikan stigma negatif kepada penderita TBC. Dukungan lingkungan dinilai penting agar pasien mau menjalani pengobatan secara terbuka hingga dinyatakan sembuh.
Editor : Sutrisno