RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin — Siswa di rumah, guru tetap ngantor. Begitulah suasana hari pertama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diberlakukan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin mulai 7 hingga 9 September 2026, menyusul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin pekat.
Di SMPN 7 Banjarmasin, para guru tetap datang ke sekolah untuk menyiapkan dan melaksanakan pembelajaran secara daring. Sementara siswa mengikuti pelajaran dari rumah dengan memanfaatkan sejumlah platform digital yang disiapkan sekolah.
Kepala SMPN 7 Banjarmasin Tony Maxitop mengatakan, sekolah menyiapkan Google Sites sebagai pusat materi pembelajaran. Platform tersebut dikembangkan sendiri oleh sekolah.
“Google Sites itu ibarat rumah. Semua guru bisa memasukkan konten pembelajaran ke situ,” ujar Tony, Senin (7/9/2026).
Materi yang disiapkan tidak hanya berupa tugas. Guru juga diminta membuat video pembelajaran, menyiapkan bahan yang akan diajarkan, PowerPoint hingga soal. Video buatan guru tersebut dapat ditonton ulang siswa sehingga diharapkan lebih interaktif dan membantu pemahaman materi.
Selain Google Sites, guru tetap dapat menggunakan WhatsApp maupun Google Classroom. Pertemuan virtual seperti Zoom dan Google Meet juga bisa dilakukan jika diperlukan. Namun, penggunaan video conference membutuhkan kuota internet lebih besar.
“Kalau Zoom perlu kuota yang cukup besar. Kalau Google Sites, bisa dilihat dan diulang-ulang. Lebih efisien secara ekonomis,” katanya.
Di SMPN 7, jadwal belajar juga disesuaikan. Jika biasanya pembelajaran berlangsung hingga pukul 15.30 Wita, selama PJJ dibatasi sampai pukul 14.20 Wita dengan empat mata pelajaran per hari, dari sebelumnya lima mata pelajaran.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin Muhammad Isnaini mendukung kebijakan tersebut. Menurutnya, PJJ merupakan langkah untuk melindungi siswa dari paparan asap yang berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama ISPA.
“Kalau memang kebijakan ini membawa kebaikan, saya sangat mendukung. Tapi evaluasinya harus dilakukan setiap hari, melihat kondisi asap di Banjarmasin,” ujarnya.
Politisi Gerindra ini menilai PJJ harus bersifat kondisional. Jika asap masih pekat, kebijakan bisa dilanjutkan. Namun jika kualitas udara sudah membaik, pembelajaran tatap muka sebaiknya segera dikembalikan.
“Jangan sampai PJJ terlalu lama karena juga berdampak pada proses pembelajaran. Pembelajaran jarak jauh tentu memiliki keterbatasan dalam mengoptimalkan penerimaan materi oleh siswa,” pungkas Isnaini.
Editor : Sutrisno