Sempat Terhenti, OMC Kalsel Digelar Lagi, Satu Ton Garam Disemai ke Awan

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 02:13 WIB

OMC: Pesawat pelaksana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diterbangkan dari Lanud Sjamsudin Noor untuk melakukan penyemaian awan di Kalimantan Selatan. (Foto: Lanud Sjamsudin Noor untuk Radar Banjarmasin)
OMC: Pesawat pelaksana Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diterbangkan dari Lanud Sjamsudin Noor untuk melakukan penyemaian awan di Kalimantan Selatan. (Foto: Lanud Sjamsudin Noor untuk Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali digelar di Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengurangi kabut asap. Operasi berlangsung selama empat hari, 5–8 September 2026.

OMC kembali dilaksanakan setelah operasi sebelumnya pada 15–21 Juli 2026 dihentikan sementara karena kondisi atmosfer belum mendukung ketersediaan awan untuk penyemaian.

Penerbangan perdana dilakukan Sabtu (5/9/2026) sore. Pesawat berkode PK-SNK lepas landas dari Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru, dengan membawa sekitar satu ton garam halus atau natrium klorida (NaCl).

Bahan tersebut disemai pada awan potensial di wilayah utara Kalsel untuk menstimulasi terjadinya hujan.

Tenaga Ahli Pendukung Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn) Herman Hidayat mengatakan pelaksanaan OMC kembali dilakukan setelah melalui evaluasi kondisi atmosfer dan koordinasi dengan sejumlah pihak.

"Atas evaluasi dan koordinasi bersama BMKG Pusat, UPT Klimatologi, hingga pemerintah daerah, kondisi awan di wilayah Kalsel saat ini sudah memungkinkan untuk dilaksanakan OMC," ujar Herman.

OMC Bergantung pada Awan Potensial

Flight Scientist Coordinator PT Milan selaku operator OMC, Arsyad menjelaskan pelaksanaan penyemaian sangat bergantung pada kondisi dan pertumbuhan awan potensial. Karena itu, data prediksi cuaca BMKG menjadi salah satu acuan utama operasi.

Garam halus yang dibawa pesawat berfungsi membantu mempercepat proses kondensasi pada awan potensial yang sudah terbentuk.

"Berdasarkan prediksi BMKG, pertumbuhan awan dominan terjadi pada siang hingga sore hari, walau tidak menutup kemungkinan muncul di pagi hari," kata Arsyad.

Kondisi tersebut membuat waktu dan wilayah penerbangan penyemaian awan menyesuaikan perkembangan atmosfer.

Hujan Ditargetkan Tekan Karhutla

Melalui OMC, hujan diharapkan turun di kawasan rawan karhutla di Kalsel. Curah hujan dibutuhkan untuk membantu upaya pemadaman yang dilakukan tim darat sekaligus membasahi kawasan rentan terbakar, termasuk lahan gambut.

Turunnya hujan juga diharapkan membantu mengurangi paparan kabut asap akibat karhutla yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Pelaksanaan OMC pada 5–8 September ini sekaligus menjadi kelanjutan upaya setelah operasi pada Juli lalu. Efektivitas penerbangan selama empat hari akan bergantung pada keberadaan awan potensial yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
penanganan karhutla Kalsel kabut asap Kalsel karhutla kalimantan selatan Operasi Modifikasi Cuaca OMC Kalsel