Karhutla di Banjarbaru Tembus 1.436 Hektare, BPBD Imbau Warga Waspadai Hotspot Baru dan Kabut Asap

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 15:37 WIB
BERJIBAKU: Relawan saat berjibaku memadamkan karhutla di Banjarbaru. (Sheilla/Radar Banjarmasin)
BERJIBAKU: Relawan saat berjibaku memadamkan karhutla di Banjarbaru. (Sheilla/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru — Luas wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru menembus angka 1.436 hektare dalam dua bulan terakhir. 

Meski jumlah titik panas menunjukkan tren penurunan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru meminta masyarakat tetap waspada terhadap kemunculan hotspot baru dan ancaman kabut asap.

Kecamatan Cempaka kini menjadi fokus perhatian petugas setelah terdeteksi dua hotspot kategori tinggi di wilayah tersebut. 

Selain di Cempaka, titik panas kategori sedang juga ditemukan memicu potensi kebakaran di Kecamatan Landasan Ulin dan Liang Anggang.

‎Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie, mengungkapkan bahwa penurunan titik api memang menjadi perkembangan positif. 

‎Namun, status aman belum bisa ditetapkan lantaran hotspot baru masih terus bermunculan.

‎“Yang jelas titik api pasti berkurang. Tetapi ada lagi hotspot baru yang timbul di daerah Kecamatan Cempaka,” kata Zaini.

‎Guna mempercepat penanganan dan memperluas jangkauan pemantauan, BPBD Banjarbaru mendirikan tiga posko karhutla. 

‎Satu posko berlokasi di Jalan Tambak Buluh, sedangkan dua posko lainnya ditempatkan di Jalan A Yani Kilometer 21, Kecamatan Liang Anggang. 

‎Pengelolaan dua posko di Kilometer 21 tersebut turut melibatkan komunitas dan relawan lokal.

‎Di sisi lain, ancaman paparan kabut asap mulai mengganggu aktivitas warga, khususnya pada pagi hari. 

‎Petugas imbau masyarakat untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan demi menjaga kesehatan pernapasan.

‎BPBD menegaskan bahwa penurunan jumlah hotspot bukan tanda ancaman karhutla telah berakhir. Kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam mencegah titik api baru menjadi kunci utama untuk menekan perluasan lahan yang terbakar.

Editor : Sutrisno
karhutla banjarbaru