RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Keberadaan ikan sapu-sapu di Banjarbaru semakin meresahkan.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarbaru menilai pengendalian spesies invasif tersebut tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus berlangsung secara berkelanjutan.
Kepala Bidang Perikanan DKP3 Banjarbaru, Risna, mengatakan ikan sapu-sapu menjadi ancaman bagi keberlangsungan biota asli di perairan Banjarbaru. Sifatnya yang invasif membuat ikan tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.
“Yang menjadi bahaya dari ikan sapu-sapu ini karena sifatnya invasif dan memakan biota asli kita. Ikan-ikan lokal seperti papuyu, haruan, dan sepat juga dimakannya,” ujar Risna.
Menurutnya, ancaman tersebut semakin besar karena ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak yang cepat. Kondisi ini membuat pengendaliannya menjadi tantangan, terutama jika tidak dilakukan secara rutin.
DKP3 Banjarbaru mengakui keterbatasan anggaran tahun ini menjadi salah satu kendala untuk melaksanakan aksi pengendalian dalam skala besar. Namun, upaya untuk menyusun program pengendalian yang lebih terstruktur akan didorong masuk dalam perencanaan anggaran 2027.
Di tengah keterbatasan APBD, DKP3 juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai akademisi, mahasiswa, hingga sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Risna menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar pengendalian ikan sapu-sapu dapat berjalan efektif. Upaya tersebut, menurutnya, perlu melibatkan masyarakat mulai tingkat RT, RW hingga kelurahan.
“Sebenarnya yang paling bagus adalah kerja sama dengan masyarakat. Kalau masyarakat, RT, RW, dan kelurahan bisa bersama-sama, menurut saya akan lebih efektif,” jelasnya.
DKP3 Banjarbaru berharap kegiatan pengendalian ikan sapu-sapu dapat dilakukan secara berkala. Selain menekan populasi spesies invasif tersebut, langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan ikan lokal seperti papuyu, haruan, dan sepat di ekosistem perairan Banjarbaru.